Sunday, January 12, 2020

Meneguhkan Peran Santri Dalam Menjaga Keutuhan NKRI


Menyinggung kata santri erat kaitannya dengan pembahasan mengenai pondok pesantren. Secara umum, santri adalah sebutan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan agama islam dan menetap dipondok pesantren hingga menyelesaikan studinya. Secara Bahasa, kata santri sendiri berasal dari Bahasa Sanskerta “shastri” yang memiliki akar kata yang sama dengan “sastra” yang berarti kitab suci, agama, dan pengetahuan.
Demikian pula yang dikemukakan oleh M. Habib Mustopo dalam karyanya yang berjudul Kebudayaan Islam di Jawa Timur: Kajian Beberapa Unsur Budaya Masa Peralihan (2001) istilah “santri” menurut pendapat itu berasal dari Bahasa Sanskerta “shastri” yang berarti “melek huruf” dan “bisa membaca”. Menurut versi lain dari pendapat C.C Berg kata “santri” berasal dari Bahasa India yang berarti “orang-orang yang mempelajari kitab-kitab suci agama Hindu”

Dalam buku Sejarah Pergerakan Nasional (2015) Karya Fajrudin Muttaqin, kata “santri” dapat dimaknai dengan arti “jagalah tiga hal” yaitu menjaga ketaatan kepada Allah SWT, menjaga ketaatan kepada Rasulullah SAW, dan menjaga ketaatan kepada para pemimpin. Seperti firman Allah dalam QS. An-Nisa:59:
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَطِيْعُوْا اللهَ وَأَطِيْعُوْا الرَّسُوْلُ وَاُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَئٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُوْلِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا اللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) diantara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu,maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.  (QS. An-Nisa:59)
Selain itu, makna santri menurut KH. Abdullah Dimyathi seorang ulama di Pandeglang Banten adalah huruf sin merujuk pada makna satrul auroh yang berarti menutup aurat, nun menunjukkan makna naibul ulama’ berarti pengganti ulama, ta’ merujuk pada makna tarkul ma’ashi, berarti meninggalkan maksiat, dan huruf ro’ merujuk makna roisul ummah  berarti pemimpin para umat. Disini bermakna bahwa santri memiliki tugas besar kelak ketika sudah terjun ditengah-tengah kehidupan masyarakat.
Menurut KH. Said Aqil Siroj (Ketua Umum PBNU) santri merupakan umat yang menerima ajaran-ajaran Islam langsung dari kyai, para kyai menerima ilmu agamanya langsung dari ulama dan bersambung sampai Nabi Muhammad SAW. Sehingga dari ilmu yang bersumber langsung dari Nabi membuat santri benar-benar mendedikasikan kehidupannya kelak untuk agama dan bela negara. Santri menerima ajaran islam dan menyebarkannya melalui pendekatan budaya, santri bergaul pada sesama dengan akhlakul karimah juga menghormati segala jenis kebudayaan yang baik, kecuali yang bertentangan dengan ajaran islam.
Pesantren sendiri, berasal dari kata “santri” yang mendapatkan imbuhan pe-an, menjadi pesantrian yang menunjukkan makna “tempat” kemudian oleh istilah Bahasa Jawa disebut dengan “pesantren” yang berarti “tempat tinggal para santri”. Pesantren sangat lekat dengan istilah pondok yang berasal dari kata “funduq” dalam Bahasa Arab yang berarti kamar, ruang tidur, wisma, atau tempat tinggal yang mengandung makna tempat tinggal yang terbuat dari bambu.
Istilah pesantren lebih dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren yang diartikan sebagai tempat tinggal santri untuk belajar dan mengkaji ilmu agama yang biasanya merupakan bangunan berbentuk asrama dan berupa komplek kamar-kamar kecil yang berfungsi sebagai tempat singgah, tempat mengaji, dan tempat santri menimba ilmu dari para Kyai dengan segala kesederhanaan yang dimilikinya.
Pondok pesantren sebagai suatu Lembaga Pendidikan tradisional Islam untuk mempelajari, memahami, mendalami, dan mempraktekkan ajaran agama islam dengan menitikberatkan ajarannya pada moral keagamaan sebagai pedoman hidup sehari-hari serta berbangsa dan beragama.
Pesantren sendiri memiliki empat elemen penting yang melekat didalamnya sehingga membedakan pesantren dengan Lembaga Pendidikan yang lainnya, yaitu kyai atau ajengan, santri, ajaran kitab kuning, dan pondok pesantren atau asrama yang menjadi tempat tinggal para santri
Titik pusat ajaran yang paling diutamakan dalam pondok pesantren adalah kajian mengenai kitab kuning. Kitab kuning sendiri merupakan karya para ulama dan imam besar muslim yang berisi ajaran salafussholih dan kisah teladan kehidupan Rasulullah SAW.
Dalam kehidupan sehari-hari, para santri dilatih untuk membaca, mengkaji, dan mengamalkan isi dari ajaran kitab kuning mengenai kaitannya masalah ibadah, muamalah, akhlak kepada Allah SWT, sesama manusia, hingga akhlak santri terhadap bangsa dan tanah airnya.
Salah satu ajaran yang ditekankan kepada santri adalah prinsip “hubbul wathon minal iman” yang dicetuskan oleh ulama Indonesia KH. Hasyim Asy’ari (1871-1947) sang pendiri NU pada tahun 1945. Hal ini tentunya dalam konteks membangkitkan semangat nasionalisme khususnya bagi santri dalam mengusir penjajah di Negeri ini pada saat itu. Sesuai dengan firman Allah dalam QS. An-Nisa:66 berikut:
وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوْآ أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوْا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوْهُ إِلَّا قَلِيْلٌ مِنْهُمْ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوْا مَا يُوْعَظُوْنَ بِه لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيْتًا
Artinya: ”Dan sekalipun telah kami perintahkan kepada mereka “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampung halamanmu”, ternyata mereka tidak melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sekiranya mereka benar-benar melaksanakan perintah yang diberikan, niscaya itu lebih baik, bagi mereka dan lebih menguatkan (iman) mereka”. (QS. An-Nisa:66)
Sejarah telah mencatat bahwa santri memiliki peran yang besar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kaum santri telah mewakafkan hidupnya untuk merebut hak kebebasan dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan negeri ini.
Para santri diseluruh pelosok negeri ini dengan caranya masing-masing ikut serta dan bergabung dengan seluruh elemen bangsa melawan penjajahan, menyatukan kekuatan dari daerah-daerah terpencil, menyusun strategi peperangan, dan mengajarkan arti penting dari sebuah kemerdekaan.
Tepat pada tanggal 22 Oktober 1945 menjadi momentum besar puncak perjuangan para santri ketika sang pendiri NU KH. Hasyim Asy’ari  menyerukan Resolusi Jihad NU. Berangkat dari momentum besar historis ini, atas dasar perjuangan para santri, akhirnya Presiden Joko Widodo menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai peringatan Hari Santri Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015. Dalam pidatonya tersebut, Jokowi menyatakan penetapan ini dilakukan untuk mengingat perjuangan para santri di Pondok pesantren, resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari dan tentunya mengingat peran para santri dalam menjaga keutuhan NKRI serta tokoh-tokoh yang ikut berpengaruh didalamnya: KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, KH. Ahmad Hasan, Syekh Ahmad Suropati, Kyai Mas Abdurrahman, dan tokoh-tokoh lainnya yang ikut andil dalam resolusi jihad ini.
Seorang sejarawan NU Agus Sunyoto (dalam laman NU Online 22 Oktober 2019) menyatakan bahwa kaum santri merupakan representasi bangsa pribumi dari kalangan pesantren yang sangat berjasa membawa Indonesia menegakkan kemerdekaan melalui resolusi jihad NU.
Penetapan Hari Santri Nasional tentunya bukan hanya sebagai agenda atau kepentingan kelompok tertentu, melainkan sebagai kepentingan seluruh rakyat Indonesia yang dikala itu digerakkan oleh resolusi jihad, yaitu fatwa jihad KH. Hasyim Asy’ari untuk membela tanah air (hubbul wathon) dari serangan para penjajah hukumnya fardhu ‘ain atau wajib bagi setiap individu.
Bersamaan dengan penetapan hari santri nasional, muncul pula gerakan Nasional Ayo Mondok yang dibentuk sejak 4 Mei 2014 yang diinisiasi oleh Pengasuh Pondok Pesantren se Jawa Timur dan Jawa Tengah yang bergabung dalam RMI-NU (Rabithah al-Ma’had al-Islamiyah) yang merupakan salah satu Lembaga NU yang menaungi sekitar 23.000 Pesantren NU seluruh Indonesia.
Gerakan ini sejatinya telah dikenal oleh pengurus RMI-NU dan PBNU dalam soft launching pada Senin, 15 Juni 2015 yang bertepatan dengan 14 Sya’ban 1436 H di Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta, dan grand launching nya pada Muktamar NU ke-33 di Jombang.
Gerakan Nasional Ayo Mondok yang diusung oleh KH. Reza Ahmad Zahid (Pengasuh PP. Lirboyo) ini dibentuk guna menambah daya tarik masyarakat supaya memondokkan putra-putrinya di pesantren mengingat hanya pondok pesantrenlah satu-satunya lembaga pendidikan yang menanamkan karakter moral kepada santri dan pelajar serta menyelamatkan para generasi muda penerus bangsa dari kecenderungan pendidikan yang merusak, perilaku menyimpang, haluan radikal dan garis keras.
Perilaku yang baik hanya bisa didapatkan melalui pembiasaan yang terus menerus dilakukan, terutama dalam kehidupan pesantren, para santri setiap harinya selama 24 jam penuh selalu diajarkan tradisi keilmuan yang matang teladan para ulama terdahulu dan tentu yang sesuai dengan nilai ke Indonesiaan.
Melalui sejarah Panjang pembentukan hari santri nasional dan peristiwa yang melatarbelakanginya hingga terbentuk pula Gerakan Nasional Ayo Mondok saat ini merupakan apresiasi bagi kaum santri yang berdedikasi untuk mempertahankan perannya dalam meneguhkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari dahulu hingga kini.
Di era kolonialisme dahulu makna berjihad adalah dengan berperang melawan penjajah dengan mengangkat senjata, sedangkan di era digital dewasa ini, cara santri mewujudkan prinsip “hubbul wathon minal iman” yang ditanamkan oleh KH. Hasyim Asy’ari adalah dengan mengangkat pena dan belajar sungguh-sungguh sesuai dengan makna dari kata santri yang berarti pengganti para ulama dan pemimpin umat kelak ketika sudah terjun di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
Fakta sejarah mencatat bahwa santri dengan segala eksistensi dan kultur pondok pesantren dengan segala kesederhanaan yang melatarbelakanginya memiliki potensi besar dalam memimpin umat dan menyatukan segala perbedaan yang ada di muka bumi ini. Santri Indonesia telah mewujudkan perdamaian negeri dan menjaga keutuhan NKRI dari dahulu hingga kini.


Referensi:
Nurkholis Madjid, Bilik-Bilik Pesantren, Sebuah Potret Perjalanan (Jakarta: Paramadina 1997)
Mastuhu, Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren (Jakarta: INIS 1994)
H.M Arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum), (Jakarta: Bumi Aksara 1995)
Zamakhsyari Dhafir, Tradisi Pesantren: Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai (Jakarta: LP3S, 1982)


1 comment: