Monday, March 16, 2020

Perempuan Baru Dambaan Feminisme



Lara Croft adalah tokoh perempuan dalam serial game virtual yang diciptakan dalam permainan komputer Thomb Rider. Dalam perannya, Lara Croft digambarkan sebagai sosok perempuan yang hebat, kuat, mandiri, dan penuh sensual. Tokoh yang diciptakan sebagai pop icon ini, telah dirilis mulai tahun 2001 dan 2003. Lara dianggap sebagai icon perempuan modern zaman sekarang. Karakternya mampu memecahkan banyak persoalan tanpa bantuan kekuatan super. Lara merupakan citra perempuan modern, berpendidikan tinggi, petualang liberal, dan memiliki kemandirian serta kekuatan yang membuatnya semakin setara dengan laki-laki.

 Otobiografi Lara Croft, ia digambarkan sebagai sosok perempuan yang berasal dari kalangan menengah keatas, berpendidikan tinggi, secara fisik terlihat sangat prima dan dia adalah orang yang mampu menentukan sendiri pilihan dan jalan hidupnya. Semua karakter ini adalah karakter yang bernilai tinggi dalam kehidupan perempuan dalam masyarakat modern.
Perempuan, terutama banyak yang ingin dapat tampil seperti ini. Lara berada dipuncak kemampuan sebagai karakter dan tokoh perempuan. Dia dapat menentukan apapun yang dia inginkan, tidak terikat atau dapat dikendalikan oleh orang lain. Tetapi, ibarat sebuah konsekuensi, ia juga hidup sebatang kara karena tidak memiliki social network.
Di satu sisi, Lara menampilkan idealisasi kaum feminisme karena merepresentasikan kesetaraan kemampuan antara kaum laki-laki dan perempuan. Tapi disisi lain ia sekaligus dapat menjadi objek hasrat seksual bagi laki-laki dengan tubuhnya yang impresif serta kostum ketat yang digunakannya, Lara dapat menjadi tampil menarik untuk dilihat atau justru diabaikan karena terkesan murahan. Disinilah letak ambiguitas gambaran sosok perempuan modern Lara Croft mulai dipertanyakan. Apakah dia memamng merupakan dambaan cita-cita yang diinginkan oleh kaum feminis atau justru ia akan menjadi objek sebagai hasrat kaum laki-laki. Sebagai sosok yang marketable, independent, dan menonjol Lara Croft ternyata juga menyimpan sejuta polemic diantara kaum feminis sendiri.

No comments:

Post a Comment