Wednesday, December 19, 2018

ilmu falak



KALENDER PENANGGALAN

A. PENANGGALAN MASEHI
            Penanggalan Masehi atau Miladi diciptakan dan diproklamirkan penggunaannya oleh Numa Pompilus pada tahun berdirinya kerajaan Roma tahun 753 SM. Penanggalan ini berdasarkan pada perubahan musim sebagai akibat peredaran semu matahari, dengan menetapkan panjang satu tahun berumur 366 hari. bulan pertamanya adalah Maret, karena posisi matahari berada di  titik Aries itu terjadi pada bulan Maret.



            Kemudian pada tahun 46 SM, menurut penanggalan Numa sudah bulan Juni, tetapi posisi matahari sebenarnya baru pada bulan Maret, sehingga oleh Yulius Caesar, --penguasa kerajaan Romawi--, atas saran dari ahli astronomi Iskandaria yang bernama Sosigenes diperintahkan agar penanggalan Numa tersebut diubah dan disesuaikan dengan posisi matahari yang sebenarnya, yaitu dengan memotong penanggalan yang sedang berjalan sebanyak 90 hari dan menetapkan pedoman baru bahwa satu tahun itu ada 365,25 hari. Bilangan tahun yang tidak habis di bagi empat sebagai tahun pendek (Basithah) berumur 365 hari, sedangkan bilangan tahun yang habis di bagi empat adalah tahun panjang (Kabisah) berumur 366 hari. Selisih satu hari ini diberikan pada urutan bulan yang terakhir (waktu itu), yakni bulan Pebruari. Penanggalan hasil koreksian ini kemudian dikenal dengan Kalender Yulius atau Kalender Yulian.
            Baru kemudian pada waktu Dewan Yustisi Gereja bersidang yang pertama kalinya pada bulan Januari 525 M, atas saran Dyonsius Exiquus maka mulai saat itu bulan Januari ditetapkan sebagai bulan yang pertama dan bulan yang terakhir adalah Desember. Sistem ini dikenal dengan namaYustinian.
            Meskipun sudah diadakan koreksi dan perubahan, namun ternyata kalender Yulian masih lebih panjang 11 menit 14 detik dari titik musim yang sebenarnya, sehingga sebagai akibatnya kalender itu harus mundur 3 hari setiap 400 tahun.      
Pada tahun 1582 ada hal yang menarik perhatian, yaitu saat penentuan wafat Isa al-Masih, yang diyakini oleh orang-orang masehi bahwa peristiwa itu jatuh pada hari Minggu setelah bulan purnama yang selalu terjadi segera setelah matahari di titik Aries (tanggal 21 Maret). Tetapi pada waktu itu mereka memperingatinya tidak lagi pada hari Minggu setelah terjadi bulan purnama setelah matahari di titik Aries, namun sudah beberapa hari berlalu.
Hal demikian ini mengetuk hati Paus Gregorius XIII (Ugo Buogompagni, 1502-1585 M) untuk mengadakan koreksi terhadap sistem penanggalan Yustinian yang sudah berlaku agar sesuai dengan posisi matahari yang sebenarnya.
Atas saran Christopher Clavius (ahli perbintangan), pada hari Kamis tanggal 4 Oktober 1582 Paus Gregorius XIII memerintahkan agar keesokan harinya (Jum'at) tidak dibaca 5 Oktober 1582, melainkan harus dibaca 15 Oktober 1582 dan ditetapkan bahwa peredaran matahari dalam satu tahun itu 365,2425 hari, sehingga ada ketentuan baru, yaitu angka tahun yang tidak habis di bagi 400 atau angka abad yang tidak habis dibagi 4 adalah tahun Basithah (365 hari). Serta ditetapkan bahwa tahun kelahiran Isa al-Masih dijadikan sebagai tahun pertama.
Dengan demikian setiap 4 tahun merupakan satu siklus (1461 hari). Sistem penanggalan ini dikenal dengan Sistem Gregorian. Sistem Gregorian inilah yang berlaku sampai sekarang ini.
            Setiap tahun ada 12 bulan, yaitu Januari, Pebruari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, Nopember, Desember. Bulan ke 1, 3, 5, 7, 8, 10 dan 12 masing-masing berumur 31 hari, sedang lainnya berumur 30 hari, kecuali bulan ke 2 (Pebruari) berumur 28 hari pada tahun basithah (pendek) dan berumur 29 hari pada tahun kabisah (panjang).

1. Ketentuan umum
1.        1 tahun Masehi berumur 365 hari (Basithah, umur Pebruari 28 hari) atau 366 hari (Kabisah, umur Pebruari 29 hari)
2.        Tahun Kabisah adalah bilangan tahun yang habis dibagi 4 (mis.1992, 1996, 2000, 2004), Kecuali bilangan abad yang tidak habis dibagi 4 (mis. 1700, 1800, 1900, 2100 dst). Selain itu adalah Basithah
3.        1 siklus = 4 tahun (1461 hari)
4.        Penyesuaian akibat anggaran Gregorius sebanyak 10 hari sejak 15 Oktober 1582 M, serta penambahan 1 hari pada setiap bilangan abad yang tidak habis dibagi 4 sejak tanggal tersebut, sehingga sejak tahun 1900 sampai 2099 ada penambahan koreksi 13 hari (10 + 3).

       2.  Menghitung Hari dan Pasaran
Menghitung hari dan pasaran pada tanggal 1 (satu) Januari suatu tahun dengan cara :
1.      Tentukan tahun yang akan dihitung
2.      Hitung tahun tam, yakni tahun ybs dikurangi 1 (satu).
3.      Hitung berapa siklus selama tahun tam tersebut, yakni integral (tahun tam : 4 )
4.      Hitung berapa tahun kelebihan dari sejumlah siklus tsb.
5.      Hitung berapa hari selama siklus yang ada, yakni siklus x 1461 hari.
6.      Hitung berapa hari selama tahun kelebihan tsb, yakni kelebihan tahun x 365 hari atau              
1 tahun = 365 hari         3 tahun = 1095 hari
2 tahun = 730 hari         4 tahun = 1461 hari
7.      Jumlahkan hari-hari tsb dan tambahkan 1 (tanggal 1 Januari)
8.      Kurangi dengan koreksi Gregorian, yakni 10 + … hari
9.      Jumlah hari kemudian dibagi 7 (tujuh), selebihnya dihitung mulai hari Sabtu atau
1 =  Sabtu                      3 = Senin                     5 = Rabu                     7 = Jum’at
2 =  Ahad                      4 = Selasa                    6 = Kamis                    0 = Jum’at
10.  Jumlah hari kemudian dibagi 5 (lima), selebihnya dihitung mulai pasaran Kliwon atau
1 = Kliwon                    3 = Pahing                   5 = Wage
2 = Legi             4 = Pon                        0 = Wage

Contoh :
Tanggal  1 Januari 2004 M
Waktu yang dilalui = 2003 tahun,  lebih 1 hari
atau 2003 : 4 = 500 siklus, lebih 3 tahun, lebih 1 hari
           500 siklus  = 500 x 1461 hari   =  730500        hari
                3 tahun  =    3 x 365   hari   =      1095        hari
                                              1 hari     =            1        hari +
                                            Jumlah     =  731596        hari
              Koreksi Gregorius = 10 + 3              =          13        hari 
                                                                            731583        hari
            731583 : 7 = 104511, lebih 6 = Kamis, (dihitung mulai Sabtu)
731583 : 5 = 146316, lebih 3 = Pahing, (dihitung mulai Kliwon)
           
Jadi tanggal  1 Januari 2004 jatuh pada Kamis Pahing


3. Pembuatan Kalender
Setelah hari dan pasaran pada tanggal 1 Januari pada suatu tahun sudah diketahui, maka untuk menentukan hari dan pasaran pada setiap tanggal 1 bulan-bulan berikutnya, dapat digunakan jadwal berikut ini, tetapi harus diketahui tahun yang dikehendaki itu kabisah (panjang) ataukah basithah (pendek).

TAHUN BASITHAH
     اَفْرِيلْ زَاٍ وَمَىْ  بَاٍ جُوْنِى  هَبٍ
جَنَا اَاٍ فَيْـبِرْ دَبٍ مَـارَتْ دَهٍ 
     اُكْتُوْ اَدٍ نُـوْفِمْ دَهٍ دِسِـيمْ وَه ٍ
جُوْلِى زَبٍ اَغُوسْ جَجٍ سَفْتُمْ وَدٍ 

TAHUN KABISAH
    اَفْرِيلْ اَبٍ وَمَىْ جَبٍ جُوْنِى وَجٍ
جَنَا اَاٍ فَيْـبِرْ دَبٍ مَـارَتْ هَاٍ 
      اُكْتُـوْ بَهٍ نُـوْفِمْ هَاٍ دِسِـيمْ زَاٍ
جُوْلِى اَجٍ اَغُوسْ دَدٍ سَفْتُمْ زَهٍ 

JADWAL HARI (Hr) DAN  PASARAN (Ps)
TAHUN MASEHI
bulan
Basithah
Kabisah
Hr
Ps
Hr
Ps
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
Nopember
Desember
1
4
4
7
2
5
7
3
6
1
4
6
1
2
5
1
1
2
2
3
4
4
5
5
1
4
5
1
3
6
1
4
7
2
5
7
1
2
1
2
2
3
3
4
5
5
1
1


Catatan  Hari dan pasaran apa saja pada tanggal 1 Januari tahun berapa saja nilainya adalah 1 (satu), sehingga untuk setiap tanggal 1 bulan-bulan berikutnya, hari dan pasarannya tinggal mengurutkan hari dan pasaran yang keberapa dari tanggal 1 Januari itu sesuai dengan angka yang ada pada jadwal (Hr dan Ps) di atas.

PENANGGALAN TAHUN 2004
(KABISAH)
No
Tanggal
Hari
Pasaran
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
1 Januari
1 Pebruari
1 Maret
1 April
1 Mei
1 Juni
1 Juli
1 Agustus
1 September
1 Oktober
1 Nopember
1 Desember
1
4
5
1
3
6
1
4
7
2
5
7
Kamis
Ahad
Senin
Kamis
Sabtu
Selasa
Kamis
Ahad
Rabu
Jum’at
Senin
Rabu
1
2
1
2
2
3
3
4
5
5
1
1
Pahing
Pon
Pahing
Pon
Pon
Wage
Wage
Kliwon
Legi
Legi
Pahing
Pahing


4. Menghitung Tanggal
Untuk mengetahui hari dan pasaran suatu tanggal tertentu maka hari dan pasaran tanggal 1 bulan ybs bernilai satu, sehingga tinggal menambahkan sampai tanggal yang dikehendaki.
Misalnya tanggal 5 Oktober 2004, karena tanggal 1 Oktober 2004 jatuh pada hari Jum’at Legi, maka tanggal 5 Oktober 2004 jatuh pada hari Selasa Kliwon, karena 5 hari dihitung dari Jum’at sehingga jatuh hari Selasa, dan 5 hari dihitung dari Legi sehingga jatuh pasaran Kliwon.  
Kecuali cara di atas, dapat pula dihitung secara langsung, yakni seperti cara menghitung tanggal 1 Januari di atas, tetapi harus ditambah jumlah hari sejak tanggal 1 Januari sampai tanggal ybs.



DAFTAR UMUR DAN JUMLAH HARI
BULAN-BULAN MASEHI
No.
Bulan
Umur
Jml. Hari
B
K
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Januari
Pebruari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
Nopember
Desember
31
28/29
31
30
31
30
31
31
30
31
30
31
31
59
90
120
151
181
212
243
273
304
334
365
31
60
91
121
152
182
213
244
274
305
335
366

Contoh :
Tanggal  5 Oktober 2004 M  ( 5–10–2004 M )
Waktu yang dilalui = 2003 tahun, lebih  9 bulan, lebih 5 hari
atau 2003 : 4 = 500 siklus, lebih 3 tahun, lebih 9 bulan, lebih 5 hari
          500 siklus  =      500 x 1461 hari           = 730500         hari
              3 tahun  =      3 x 365   hari   =     1095         hari
                                                                9 bulan        =       274         hari
                                                      5 hari         =           5         hari +
                                             Jumlah    = 731874         hari
               Koreksi Gregorius = 10 + 3             =         13         hari  -
                                                                   731861     hari
731861 : 7  =  104551 , lebih  4 = Selasa   (mulai Sabtu )
731861 : 5  =  146372 , lebih  1 = Kliwon  (mulai Kliwon )
Jadi tangal 5 Oktober 2004 jatuh pada hari Selasa Kliwon.

B. Penanggalan Hijriyah
Penanggalan hijriyah ini dimulai sejak Umar bin Khaththab 2,5 tahun diangkat sebagai khalifah, yaitu sejak terdapat persoalan yang menyangkut sebuah dokumen pengangkatan Abu Musa al-Asy'ari sebagai gubernur di Basrah yang terjadi pada bulan Sya’ban. Muncullah pertanyaan bulan Sya’ban yang mana?. Oleh sebab itu, Umar bin Khaththab memanggil beberapa orang sahabat terkemuka guna membahas persoalan tersebut. Agar persoalan semacam itu tidak terulang lagi maka diciptakanlah penanggalan Hijriyah. Atas usul Ali bin Abi Thalib, maka penanggalan hijriyah dihitung mulai tahun yang didalamnya terjadi hijrah nabi Muhammad SAW dari Makah ke Madinah. Dengan demikian penanggalan hijriyah itu diberlakukan mundur sebanyak 17 tahun.
            Tanggal 1 Muharram tahun 1 Hijriyah ada yang berpendapat jatuh pada hari Kamis tanggal 15 Juli 622 M. Penetapan ini kalau berdasarkan pada hisab, sebab irtifa’ hilal pada hari Rabu 14 Juli 622 M sewaktu matahari terbenam sudah mencapai 5 derajat 57 menit. Pendapat lain mengatakan 1 Muharram 1 Hijriyah jatuh pada hari Jum’at tanggal 16 Juli 622 M. Ini apabila permulaan bulan didasarkan pada rukyah, karena sekalipun posisi hilal pada menjelang 1 Muharram 1 Hijriyah sudah cukup tinggi, namun waktu itu tidak satupun didapati laporan hasil rukyat. 
Satu tahun ada 12 bulan, yaitu Muharram, Shafar, Rabi’ul Awal, Rabi’ul Akhir, Jumadal Ula, Jumadal Akhirah, Rajab, Sya’ban, Ramadlan, Syawwal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah.
            Penanggalan hijriyah ini berdasarkan pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi. Satu kali edar lamanya 29 hari 12 jam 44 menit 2,5 detik. Untuk menghindari adanya pecahan hari maka ditentukan bahwa umur bulan ada yang 30 hari dan ada pula yang 29 hari, yaitu untuk bulan-bulan ganjil berumur 30 hari, sedang bulan-bulan genap berumur 29 hari, kecuali pada bulan ke 12 (Dzulhijjah) pada tahun kabisah berumur 30 hari.
            Setiap 30 tahun terdapat 11 tahun kabisah (panjang = berumur 355 hari) dan 19 tahun basithah (pendek = berumur 354 hari). Tahun-tahun kabisah jatuh pada urutan ke 2, 5, 7, 10, 13, 15 (16), 18, 21, 24, 26, 29 seperti dalam ungkapan dengan angka-angka jumali berikut ini :
بَ ﻫْ زِ يُ يَجْ يَهْ يَحُ كَاْ كَدْ كَوْ كَـطِ
 كَـبَائِسٌ فِيْ كُلِّ لٍ مِنْ هِجْرَةِ

Sedangkan selain urutan tsb merupakan tahun basithah.

1.  Ketentuan umum
1.     1 tahun Hijriyah berumur 354 hari (Basithah, umur Dzulhijjah 29 hari) atau 355 hari (Kabisah, umur Dzulhijjah 30 hari)
2.     Tahun-tahun Kabisah jatuh pada urutan tahun ke 2, 5, 7, 10, 13, 15 (kadang 16), 18, 21, 24, 26 dan 29 (tiap 30 tahun)
3.                   @ daur = 30 tahun = 10631 hari 

2. Menghitung Hari dan Pasaran
Menghitung hari dan pasaran pada tanggal 1 (satu) Muharram suatu tahun dengan cara :
1.        Tentukan tahun yang akan dihitung
2.        Hitung tahun tam, yakni tahun ybs dikurangi 1 (satu).
3.        Hitung berapa daur selama tahun tam tsb, yakni  integral (tahun tam : 30)
4.        Hitung berapa tahun kelebihan dari sejumlah daur tsb.
5.        Hitung berapa hari selama daur yang ada, yakni daur x 10631 hari.
6.        Hitung berapa hari selama tahun kelebihan (lihat daftar jumlah hari tahun hijriyah !)
7.        Jumlahkan hari-hari tsb dan tambahkan 1 (tanggal 1 Muharram)
8.        Jumlah hari kemudian dibagi 7 (tujuh), selebihnya adalah :
1 = Jum’at       3 = Ahad                     5 = Selasa                    7 = Kamis
2 = Sabtu         4 = Senin                     6 = Rabu                     0 = Kamis
9.        Jumlah hari kemudian dibagi 5 (lima), selebihnya adalah :
1 = Legi                       3 = Pon                        5 = Kliwon
2 = Pahing       4 = Wage                     0 = Kliwon
     
JUMLAH HARI TAHUN HIJRIYAH
Th
Hari
Th
Hari
Th
Hari
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
354
709
1063
1417
1772
2126
2481
2835
3189
3544
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
3898
4252
4607
4961
5316
5670
6024
6379
6733
7087
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
7442
7796
8150
8505
8859
9214
9568
9922
10277
10631


Contoh :
            Tanggal :  1 Muharram 1425 H
waktu yang dilalui  1424 tahun, lebih  1 hari
atau (1424 : 30)  47 daur, lebih 14 tahun, lebih 1 hari
                7 daur          =  47 x 10631 hari       = 499657         hari
         4 tahun  =  (14x 354) + 5 hari   =     4961         hari
                                              1 hari     =           1         hari +
                                            Jumlah     = 504619         hari
504619 : 7  =    72088 , lebih  3 = Ahad  (mulai Jum’at)
504619 : 5  =  100923 , lebih  4 = Wage  (mulai Legi)
Jadi tanggal 1 Muharram 1425 H jatuh hari Ahad Wage.

3. Membuat Kalender
Setelah hari dan pasaran pada tanggal 1 Muharram pada suatu tahun telah diketahui dengan cara di atas, maka untuk mengetahui hari dan pasaran pada tanggal 1 tiap-tiap bulan berikutnya, dapat digunakan pedoman sbb:
JADWAL PENANGGALAN HIJRIUAH
دَهٍ رَبِيْعُ اَوَّلٍ وَهْ آخِـرِ
اَاٍ مُـحَرَّمُكَ جِئْ لِصَـفَرِ
جَجٍ لِرَجَبٍ هَجِ الشَّعْبَانِ
زِدْاَوَّلُ الْجُمَـَادِ بُدْ لِلثَّانِى
باَ قَعْدَةٌ دَا حِجَّةٌ فَـنَالُوْا
وَبٍ لِرَمْضَـانَ  اَبٌ شَّوَّالُ


PEDOMAN HARI (HR) DAN PASARAN (PS)
BULAN
Hr
Ps
UMUR
bulan
Hr
Ps
Umur
Muharram
Shafar
Rabi’ul awal
Rabi’ul akhir
Jumadal ula
Jumadal Akhirah
1
3
4
6
7
2
1
1
5
5
4
4
30
29
30
29
30
29
Rajab
Sya’ban
Ramadlan
Syawal
Dzulqa’dah
Dzulhijjah
3
5
6
1
2
4
3
3
2
2
1
1
30
29
30
29
30
29/30


catatan:  Hari dan pasaran apa saja pada tanggal 1 Muharram tahun berapa saja nilainya adalah 1 (satu), sehingga untuk setiap tanggal 1 bulan-bulan berikutnya, hari dan pasarannya tinggal mengurutkan hari yang keberapa dari tanggal 1 Muharram itu sesuai dengan angka yang ada pada jadwal (Hr dan Ps) di atas.
       
PENANGGALAN TAHUN 1425 H
No
Bulan
Hari
Pasaran
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
1 Muharram
1 Shafar
1 Rabi’ul Awal
1 Rabi’ul Akhir
1 Jumadal Ula
1 Jumadal Akhirah
1 Rajab
1 Sya’ban
1 Ramadlan
1 Syawal
1 Dzulqa’dah
1 Dzulhijjah
1
3
4
6
7
2
3
5
6
1
2
4
Ahad
Selasa
Rabu
Jum'at
Sabtu
Senin
Selasa
Kamis
Jum'at
Ahad
Senin
Kamis
1
1
5
5
4
4
3
3
2
2
1
1
Wage
Wage
Pon
Pon
Pahing
Pahing
Legi
Legi
Kliwon
Kliwon
Wage
Wage


4. Menghitung Hari
Untuk mengetahui hari dan pasaran suatu tanggal tertentu maka hari dan pasaran tanggal 1 bulan ybs bernilai satu, sehingga tinggal menambahkan sampai tanggal yang dikehendaki.
Misalnya tanggal 17 Ramadlan 1425 H, karena tanggal 1 Ramadlan 1425 H jatuh pada hari Jum’at Kliwon, maka tanggal 17 Ramadlan 1425 H jatuh pada hari Ahad Legi, karena 17 hari dihitung dari Jum’at sehingga jatuh hari Ahad, dan 17 hari dihitung dari Kliwon sehingga jatuh pasaran Legi.
Kecuali cara di atas, dapat pula dihitung secara langsung, yakni seperti cara menghitung tanggal 1 Muharram di atas, tetapi harus ditambah jumlah hari sejak tanggal 1 Muharram sampai tanggal ybs.

DAFTAR UMUR DAN JUMLAH HARI
BULAN-BULAN HIJRIYAH  DAN JAWA
No
Bulan Hijriyah
Umur
Jml. Hr
Bulan Jawa
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Muharram
Shafar
Rabi’ul Awal
Rabi’ul Akhir
Jumadal Ula
Jumadal Akhirah
Rajab
Sya’ban
Ramadlan
Syawal
Dzulqa’dah
Dzulhijjah
30
29
30
29
30
29
30
29
30
29
30
29/30
30
59
89
118
148
177
207
236
266
295
325
354/355
Suro
Sapar
Mulud
Bakdomulud
Jumumadilawal
Jumumadilakir
Rejeb
Ruwah
Poso
Selo
Dulkangidah
Besar

Contoh :  Tanggal  17 Ramadlan 1425 H  (17–09–1425 H)
waktu yang dilalui =  1424 tahun, lebih 8 bulan, lebih 17 hari
atau (1423:30) = 47 daur, lebih 14 tahun, lebih 8 bulan, lebih 17 hari
          47 daur              =    47 x 10631 hari     =  499657        hari
        14 tahun =    (14x 354) + 5 hari =      4961        hari
         8  bulan =      (8 x 29) + 4  hari             =        236        hari
                                                              17 hari           =          17        hari +
                                             Jumlah    =  504871        hari
504871 : 7  =   72124 , lebih  3  =  Ahad   (mulai Jum’at)
504871 : 5  = 100974 , lebih  1  =  Legi    (mulai Legi)
Jadi tanggal 17 Ramadlan 1425 H jatuh hari Ahad Legi.

Perhatian :
o      Perhitungan penanggalan Hijriyah seperti di atas dikenal dengan Hisab 'Urfi, karena setiap bulan-bulan ganjil berumur 30 hari dan bulan-bulan genap berumur 29 hari kecuali bulan ke 12 (Dzulhijjah) pada tahun kabisah berumur 30 hari
o      Hasil perhitungan penanggalan hisab 'urfi kadang berbeda dengan hasil hisab hakiki dan kadang berbeda pula dengan penampakan bulan (hilal), sehingga hasil penanggalan 'urfi ini tidak boleh dijadikan dasar pelaksanaan ibadah, khususnya puasa ramadlan, 'idul fitri dan 'idul adha.
o      Untuk pembuatan kalender Hijriyah hendaknya menggunakan hisab hakiki, yakni dengan memperhitungkan waktu ijtima' dan posisi hilal.

C. Penanggalan Jawa Islam
Di pulau Jawa khususnya, pernah berlaku sistem penanggalan hindu, yang dikenal dengan penanggalan "Soko", yakni sistem penanggalan yang didasarkan pada peredaran matahari mengelilingi Bumi. Permulaan tahun soko ini ialah hari Sabtu (14 Maret 78 M), yaitu satu tahun setelah penobatan Prabu Syaliwahono (Aji Soko) sebagai raja di India. Oleh sebab itulah penanggalan ini dikenal dengan penaggalan Soko. Di samping penanggalan soko, di tanah air ini berlaku pula sistem penanggalan Islam atau Hijriyah yang perhitungannya berdasarkan pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi.
            Kemudian pada tahun 1633 M yang bertepatan tahun 1043 H atau 1555 Soko, oleh Sri Sultan Muhammad yang terkenal dengan nama Sultan Agung Anyokrokusumo yang bertahta di kerajaan Mataram, kedua sistem penanggalan tersebut dipertemukan, yaitu tahunnya mengambil tahun Soko, yakni meneruskan tahun Soko (tahun 1555), tetapi sistemnya mengambil tahun Hijriyah yakni berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi. Oleh karena itu, sistem ini dikenal pula dengan sistem Penanggalan Jawa Islam.
            Dalam satu tahun terdapat 12 bulan, yaitu Suro, Sapar, Mulud, Bakdomulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Rejeb, Ruwah, Poso, Sawal, Dulkangidah (selo), dan Besar. Bulan-bulan ganjil berumur 30 hari. Sedangkan bulan-bulan genap berumur 29 hari, kecuali bulan ke 12 (Besar) berumur 30 pada tahun panjang.
            Satu tahun berumur 354,375 hari (354 3/8 hari), sehingga daur (siklus) penanggalan Jawa Islam ini selama 8 tahun (1 windu), dengan ditetapkan bahwa pada urutan tahun ke 2, 5 dan 8 merupakan tahun panjang (Wuntu = 355 hari). Sedangkan lainnya merupakan tahun pendek (Wastu = 354 hari).
            Tahun-tahun dalam satu windu (8 tahun) diberi nama dengan angka huruf jumali berdasarkan nama hari pada tanggal satu suro tahun ybs dihitung dari nama hari tanggal 1 suro tahun alipnya.
Nama-nama tahun dimaksud adalah :
                        tahun pertama             =  Alip ( ا )
                        tahun kedua    =  Ehe (  )
                        tahun ketiga    =  Jim awal ( ج )
                        tahun keempat =  Ze ( ز )
                        tahun kelima    =  Dal ( د )
                        tahun keenam  =  Be ( ب )
                        tahun ketujuh  =  Wawu ( و )
                        tahun kedelapan          =  Jim akir ( ج )
            Permulaan penanggalan Jawa Islam ini (tahun 1555 J) hingga permulaan tahun 1626 J. tanggal 1 Suro tahun alipnya jatuh pada hari Jum’at Legi (A’ahgi = tahun alip jum’at legi).
Menurut sistem ini bahwa satu tahun itu berumur 354.375 hari, maka dalam waktu 120 tahun sistem ini akan melonjak 1 hari  bila dibandingkan dengan sistem Hijriyah. Oleh karena itu setiap 120 tahun ada pengurangan 1 hari, yaitu yang mestinya tahun panjang dijadikan tahun pendek.
Atas dasar itu maka sejak tahun 1627 J hingga 1746 J tahun alipnya adalah hari Kamis Kliwon (Amiswon = tahun alip Kamis Kliwon). Sejak tahun 1747 J hingga 1866 J tahun alipnya jatuh hari Rebo Wage (Aboge = tahun Rebo Wage); dan sejak tahun 1867 J hingga 1986 J tahun alipnya jatuh pada hari Selasa Pon (Asapon = tahun alip Selasa Pon); Demikian pula sejak tahun 1987 J hingga 2106 J tahun alipnya jatuh pada hari Senin Pahing (Anenhing = tahun alip Senin Pahing).
Dengan demikian dapatlah ditentukan bahwa :
1.       Tahun Jawa Islam = tahun Hijriyah + 512.
2.       Satu windu = 8 tahun = 2385 hari.
3.       Tahun panjang (Wuntu) jatuh pada urutan ke 2, 5 dan 8.
4.       Selisih 1 Suro 1555 J dengan 1 Muharram 1 H = 369251 hari
5.       Selisih 1 Suro 1555 J dengan 1 Januari 1 M = 596267 hari.
6.       Tahun 1555 s.d 1626 J adalah A’ahgi (tahun Alip Jum'ah Legi)
7.       Tahun 1627 s.d 1746 J adalah Amiswon (tahun Alip Kamis Kliwon)
8.       Tahun 1747 s.d 1866 J adalah Aboge (tahun Alip Rebo Wage)
9.       Tahun 1867 s.d 1986 J adalah Asapon (tahun Alip Selasa Pon)
10.   Tahun 1987 s.d 2106 J adalah Anenhing (tahun Alip Senin Pahing)

Untuk mengetahui nama tahun serta nama hari dan pasaran pada tanggal 1 Suro tahun tertentu, maka dapat diketahui dengan cara tahun ybs dikurangi 1554 kemudian dibagi 8. Sisanya dicocokkan pada jadwal berikut ini :

JADWAL TAHUN JAWA
SISA
NAMA TAHUN
Hr
Ps
1
Alip
1
1
2
Ehe
5
5
3
Jim Awal
3
5
4
Ze
7
4
5
Dal
4
3
6
Be
2
3
7
Wawu
6
2
0
Jim Akhir
3
1


Keterangan :
Nama tahun ditunjukkan oleh kolom Nama Tahun sesuai sisa pembagian 8 di atas. Sedang nama hari dan pasaran untuk tanggal 1 Suro tahun ybs ditunjukkan oleh angka pada kolom Hr (hari) dan Ps (pasaran) yang dihitung mulai dari hari dan pasaran pada tahun alipnya.

Contoh Perhitungan :

Menghitung tanggal 1 Suro 1937 J.
            
            1937
            1554 -
          383 : 8 = 47 sisa 7

Sisa 7 (lihat jadwal di atas) nama tahunnya adalah Wawu. Sedang harinya adalah pada urutan 6 dan pasarannya pada urutan 2. Tahun 1937 termasuk dalam kelompok Asapon (tahun Alip Selasa Pon), sehingga tanggal 1 suro 1937 J jatuh pada urutan ke 6 dihitung dari hari Selasa, yakni "Ahad", serta pasarannya pada urutan ke 2 dihitung mulai pon, yaitu "Wage".
Dengan demikian, tahun 1937 J adalah tahun Wawu yang tanggal 1 Suro-nya jatuh pada hariAhad Wage.
Setelah hari dan pasaran pada tanggal 1 Suro pada suatu tahun telah diketahui, maka untuk mengetahui hari dan pasaran pada setiap tanggal 1 bulan-bulan berikutnya dapat digunakan pedoman (jadwal) sbb. :

JADWAL PENANGGALAN JAWA
BULAN
HR
PS
BULAN
HR
PS
Suro
1
1
Rejeb
3
3
Sapar
3
1
Ruwah
5
3
Mulud
4
5
Poso
6
2
Bakdomulud
6
5
Sawal
1
2
Jumadilawal
7
4
Dulkangidah
2
1
Jumadilakir
2
4
Besar
4
1

Keterangan :
            Hari dan Pasaran apa saja pada tanggal 1 Suro tahun berapa saja nilainya adalah 1 (satu), sehingga untuk setiap tanggal 1 bulan-bulan berikutnya, hari dan pasarannya tinggal mengurutkan hari dan pasaran yang keberapa dari tanggal 1 Suro itu sesuai dengan angka yang ada pada jadwal tsb.

PENANGGALAN TAHUN 1937 JAWA
No
Bulan
Hari
Pasaran
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
1 Suro
1 Sapar
1 Bulud
1 Bakdomulud
1 Jumadilawal
1 Jumadilakir
1 Rejeb
1 Ruwah
1 Poso
1 Syawal
1 Dulkangidah
1 Besar
1
3
4
6
7
2
3
5
6
1
2
4
Ahad
Selasa
Rabu
Jum'at
Sabtu
Senin
Selasa
Kamis
Jum'at
Ahad
Senin
Kamis
1
1
5
5
4
4
3
3
2
2
1
1
Wage
Wage
Pon
Pon
Pahing
Pahing
Legi
Legi
Kliwon
Kliwon
Wage
Wage



D- KONVERSI  TANGGAL
Konversi tanggal atau Perbandingan Tarikh atau dikenal pula dengan Tahwilus Sanah adalah cara untuk mengetahui persamaan tanggal dari suatu penanggalan dengan penanggalan lainnya, misalnya antara Masehi dengan Hijriyah. Ketentuan bahwa penanggalan Masehi lebih dulu 227016 hari daripada penanggalan Hijriyah.
            Konversi tanggal dari Hijriyah ke Masehi sangat diperlukan untuk hisab awal bulan hakiki, khususnya sistem Newcomb, Ephemeris, Almanak Nautika, dan Jean Meeus karena data astronomis yang disajikannya menggunakan penanggalan Masehi.

1.   Masehi ke Hijriyah
1.        Tentukan tanggal Masehi yang dikehendaki.
2.        Hitung jumlah hari dari tanggal 1 Januari 1 Masehi sampai tanggal yang dikehendaki seperti cara di atas (penanggalan Masehi).
3.        Jumlah hari dikurangi koreksi Gregorius (10 + …).
4.        Sisanya dikurangi lagi 227016 hari.
5.        Hitung berapa daur, yakni hasil pengurangan tsb dibagi 10631
6.        Hitung lebih berapa hari (A) dari sejumlah daur yang ada.
7.        Hitung berapa tahun dalam kelebihan hari tsb dan masih lebih berapa hari (B) lagi.
8.        Hitung ada berapa bulan dalam kelebihan hari (B) dan masih ada kelebihan berapa hari lagi.

Contoh :    Tanggal 17 Agustus 2004 M bertepatan dengan tanggal berapa menurut kalender Hijriyah?
Jawab :           Tanggal: 17 Agustus 2004 M  (17 - 08 - 2004 M)
Waktu yang dilalui  2003 tahun, lebih 7 bulan, lebih 17 hari
atau (2003:4) = 500 siklus, lebih 3 tahun, lebih 7 bulan, lebih 17 hari
      500 siklus  =     500 x 1461 hari    =  730500        hari
          3 tahun              =           3 x 365 hari    =      1095        hari
                                               7 bulan             =        213        hari
                                                17 hari             =          17        hari +
                                                                      Jumlah   =  731825        hari     
               Koreksi Gregorius = 10 + 3             =          13        hari  –
                                                                    731812    hari
                     Selisih Masehi-Hijriyah =  227016        hari 
                                                                    504796    hari
504796 : 7 =    72113 , lebih  5 = Selasa   (mulai Jum’at)
504796 : 5 =  100959 , lebih  1 = Legi      (mulai Legi)

504796 : 10631 =  47 Daur,  lebih 5139 hari
     47 daur  = 47 x 30 tahun = 1410 tahun
 5139  hari  = 14 tahun, lebih 178 hari
                 178  hari  =  6 bulan lebih 1 hari                       
Waktu yang dilewati sampai tanggal tersebut menurut kalender Hijriyah adalah 1424 tahun (1410 + 14), lebih 6 bulan, lebih 1 hari
Jadi tanggal 17 Agustus 2004 M  =  1 Rajab 1425 H  (Selasa Legi) 

2.  Hijriyah ke Masehi
1.        Tentukan tanggal Hijriyah yang dikehendaki.
2.        Hitung jumlah hari dari tanggal 1 Muharram 1 Hijriyah sampai tanggal yang dikehendaki seperti cara di atas (penanggalan Hijriyah).
3.        Jumlah hari ditambah 227016 hari.
4.        Ditambah lagi Koreksi Gregorius ( 10 + … )
5.        Hitung berapa daur, yakni hasil pengurangan tsb dibagi 10631
6.        Hitung lebih berapa hari (A) dari sejumlah daur yang ada.
7.        Hitung berapa tahun dalam kelebihan hari tsb dan masih lebih berapa hari (B) lagi.
8.        Hitung ada berapa bulan dalam kelebihan hari (B) dan masih sisa berapa lagi.

Contoh : Tanggal 12 Rabi'ul Awal 1425 H. bertepatan dengan tanggal berapa menurut penanggalan Masehi?
Jawab :  Tanggal: 12 Rabi'ul Awal 1425 H  (12-03-1425 H)
waktu yang dilalui = 1424 tahun, lebih 2 bulan, lebih 12 hr.
atau (1424:30) = 47 Daur, lebih 14 th, lebih 2 bl, lebih 12 hr
     47 Daur      =     47 x 10631  hari   =   499657       hari
    14 tahun      =  (14 x 354) + 5  hari             =       4961 hari
      2 bulan      =     (2 x 29) + 1  hari =          59        hari
                                                     12 hari        =          12        hari +
                                                                          Jumlah           =  504689        hari
                    Selisih Masehi – Hijriyah            =  227016        hari
        Koreksi Gregorius = 10 + 3  hari            =          13        hari +
                                                              731718          hari

504689 : 7 =   72098 , lebih  3 = Ahad  (mulai Jum’at)
504689 : 5 = 100937 , lebih  4 = Wage  (mulai legi)

731718 : 1461 = 500 siklus, lebih 1218 hari
     500  siklus  =  500 x 4 th      =  2000 tahun
      1218 hari  = 1218 : 365       =  3 tahun, lebih 123 hari
                              123  hari       =  4 bulan, lebih 2 hari
Waktu yang dilewati sampai tanggal tersebut menurut penanggalan Masehi adalah 2003 tahun (2000 + 3), lebih 4 bulan, lebih 2 hari.
Jadi tanggal 12 Rabi'ul Awal 1425 H  =  2 Mei 2004 M ( Ahad Wage )

MATAHARI
Matahari adalah benda langit yang berbentuk bola gas pijar yang menyala yang amat panas. Mataharimempunyai dua macam gerakan, yaitu: Gerakan Hakiki dan Gerakan Semu.

1. Gerakan Hakiki Matahari
Gerakan hakiki adalah gerakan sebenarnya yang dimiliki matahari. Gerakan hakiki matahari ini ada dua macam, yaitu:
a. Gerakan Rotasi
Penyelidikan yang seksama menunjukkan bahwa matahari berputar pada sumbunya dengan waktu rotasi di ekuatornya 25 hari sedangkan di daerah kutubnya 27 hari. Perbedaan waktu ini dapat dipahami mengingat matahari itu merupakan sebuah bola gas yang berpijar.
Gerakan rotasi ini dapat diamati jika pada matahari terdapat noda-noda (sun spot) yang berada di sebelah pinggir kanan bulatan matahari, maka kira-kira dua minggu kemudian noda-noda itu kelihatan lagi di pinggir sebelah kiri. Menandakan bahwa matahari itu berputar pada porosnya ( berotasi).


b. Bergerak di antara gugusan-gugusan bintang
Di samping berputar pada porosnya, matahari beserta keseluruhan sistem tata surya bergerak dari satu tempat ke arah tertentu. Daerah yang ditinggalkan disebut anti apeks yang terletak di sekitar rasi bintang sirius menuju apeks yang terletak diantara bintang wega dan rasi herkules.
Penelitian berikutnya menunjukkan bahwa pergerakan matahari beserta keseluruhan sistem tata surya mencapai kecepatan 20 km/detik atau 72.000 km/jam. Dengan demikian setiap tahun susunan tata surya bergerak sepanjang 365 x 24 x 60 x 60 x 20 km = + 600 juta km.


2. Gerak Semu Matahari
Matahari termasuk bintang tetap. Besarnya 1.378.000 kali besar Bumi. Diameternya 109,1 kali diameter Bumi. Jarak antara bumi sampai matahari rata-rata 150 juta km (1 AU) dengan jarak terdekat sekitar 147 juta km dan jarak terjauh sekitar 152 juta km. Sinar matahari berkecepatan 300 ribu km/detik, sehingga waktu yang diperlukan sinar sampai ke permukaan bumi selama sekitar 8 menit. Matahari termasuk sumber panas. Temperatur di permukaan matahari sekitar 6 ribu derajat Celcius.


Perjalanan harian matahari yang terbit dari timur dan terbenam di barat itu bukanlah gerak matahari yang sebenarnya, melainkan disebabkan oleh perputaran bumi pada sumbunya (rotasi) selama sehari semalam, sehingga perjalanan matahari yang seperti itu disebut perjalanan semu matahari. Perjalanan semu matahari dan juga benda-benda langit lainnya senantiasa sejajar dengan equator langit.


Di samping itu, matahari melakukan perjalanan tahunan, yakni perjalanan matahari ke arah timur dalam waktu satu tahun (365.2425 hari) untuk sekali putaran, sehingga ia menempuh jarak 059’08.33” setiap hari.


Adapun gerakan semu Matahari ini ada dua macam, yaitu :
1. Harian (gerak diurnal)
Terjadi akibat gerak rotasi Bumi. Periode menengahnya 24 jam. Arah gerak dari Timur ke Barat. Kemiringan lintasan gerak harian matahari tergantung letak lintang geografis pengamat. Di equator berupa lingkaran tegak, di kutub mendatar, di belahan Bumi selatan miring ke utara, dan di belahan Bumi utara miring ke selatan. Kemiringannya sesuai besar lintangnya.


2. Tahunan ( Gerak Annual )
Arah gerak tahunan matahari ke arah Timur sekitar 1 derajat busur setiap harinya. Maka kita dapat menghitung dengan: 360: 365,2425 hari = 059’ perhari (hampir 1). Periode gerak semu tahunan matahari 365 hari. Arah terbit dan tenggelam matahari selalu berubah letaknya sepanjang tahun. Pada setiap tanggal 21 Maret dan 23 September terbit di titik timur dan tenggelam di titik barat. Pada setiap tanggal 22 juni paling utara sejauh 23 busur dari timur atau barat dan pada tanggal 22 Desember paling selatan sejauh 23 busur. Kedua titik tersebut dinamai soltitium (titik perhentian matahari), karena kecepatan perubahan deklinasi matahari pada kedua titik tersebut sangat lama seakan-akan berhenti, sedang pada titik equinox perubahan deklinasinya sangat cepat.


Titik Capricornus dinamai juga titik musim dingin sedang titik Cancer dinamai titik musim panas. Dinamakan demikian karena bagi belahan Bumi utara pada waktu-waktu tersebut mulai menjalani musim dingin dan mulai menjalani musim panas.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTzAGot0Fm8B-vKHV5oKqqw2UuJPpDC7jQ5lVH2_L5X8dutjxn8iQ1ijlXUq6Fkaa2HGOO9Qr6MXpn0zEHaE0hJG-76dQ2Z9Fglr720JybMOQEJjOtMPExS_Mhzg1k51MFXZYrP_Mn5Qg/s1600/slide-16-638.jpg
Orbit Bumi dan Bulan
Keberadaan matahari yang berubah-ubah tiap tahun tersebut yang disebabkan oleh kemiringan Bumi menyebabkan terjadinya perbedaan musim di bumi. Ketika Matahari berada di utara, maka bumi bagian utara mengalami musim panas atau summer solstice, dan puncak musim panas tersebut ( matahari berada di titik paling utara) pada tanggal 21 juni. Pada saat itu matahari memiliki sudut deklinasi maksimum + 23,5 derajat. Kemudian matahari akan bergerak ke selatan dan berada di garis equator pada tanggal 22 Maret, dengan sudut deklinasi 0 dan saat itu matahari berada di titik musim gugur atau veral equinox.


Pada tanggal 21 Desember matahari berada di titik musim dingin atau winter solstice, dengan sudut deklinasi -23,5. Artinya matahari berada di titik paling selatan. Selanjutnya matahari akan kembali bergerak ke utara dan mencapai ekuator pada tanggal 21 September yang disebut dengan musim semi atau autumn equinox.


BULAN
Ada dua macam gerakan yang di kenal dalam peredaran bulan, yaitu : gerakan hakiki dan gerakan semu.


1. Gerak Hakiki Bulan
Gerakan hakiki bulan ini terdiri dari tiga macam, yaitu Rotasi, Revolusi, dan bulan dan bumi bersama-sama mengelilingi Matahari.


a. Rotasi Bulan
Rotasi bulan adalah perputaran bulan pada porosnya dari arah barat ke timur. Satu kali berotasi memakan waktu sama dengan satu kali revolusinya mengelilingi bumi. Akibatnya permukaan bulan yang menghadap ke bumi relatif tetap. Adanya sedikit perubahan permukaan bulan yang menghadap ke bumi juga diakibatkan adanya gerak angguk bulan pada porosnya. Hanya saja gerak angguk bulan ini kecil sekali, sehingga dapat diabaikan.


Sesungguhnya titik tengah bulatan bulan yang yang Nampak pada kita bukanlah selalu titik titik yang sama, melainkan titik yang selalu berubah-ubah sedikit letaknya. Dengan perkataan lain: Bagian bulan yang dapat kita lihat dari bumi berjumlah lebih dari separoh bagian.
Kedua kutub bulan itu (Utara dan Selatan) berganti-ganti Nampak pada kita. Kejadian ini adalah disebabkan “gonjangan” semu bulan terhadap bumi. Keadaan ini di sebut librasi. Ada tiga macam librasi:
- Librasi dalam garis melintang
- Librasi dalam garis membujur
- Librasi parallaktis.


Librasi dalam garis melintangterjadi karena letak sumbu bulan condong terhadap bidang lintasanya (juga condong terhadap bidang lintasan bumi). Akibatnya ialah, bahwa kutub utara dan kutub selatan berganti-ganti kelihatan dari bumi sesudah berkeliling bulan itu setengah kali dilintasinya, sedang titik tengah bulatan yang Nampak pada kita berubah-ubah letaknya.


Librasi dalam garis membujur, terjadi karena kecepatan beredarnya bulan (mengelilingi bumi) tiada tetap. Andaikata tetap kecepatan itu, maka akan tepatlah hanya separoh bagian yang sama betul yang selalu nampak dari bumi. Akan tetapi karena bulan kadang-kadang cepat dan kadang-kadang kurang cepat bergeser pada lintasanya, maka ada kalanya kelihatan sebagian dari sebelah kiri yang biasanya tidak akan Nampak dari bumi tiada kelihatan.  Jadi sesudah ¼ waktu berkeliling, yakni ¼ bulan sideris, maka sumbu bulan itu sudah tepat ½ kali berputar, akan tetapi bulan itu masih belum menjalani ¼ dari lintasan seluruhnya. Itulah sebabnya, maka titik pusat bulatan bulan yang Nampak pada kita bergeser-geser dari timur ke barat.


Librasi parallaktisterjadi karena adanya beda lihat bagi orang-orang yang melihat bulan dari tempat-tempat yang berlainan letaknya. Jika kita pilih 2 tempat di bumi yang berbeda letaknya (A dan B), maka orang-orang yang berdiri di A dan B masing-masing meihat titik pusat bulan yang berbeda letaknya .
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-34a-eJY9IIarYjOyg4J9wJaQESdZAJFFn0euHOy-qHDIKBWWmfDCHy6WYUsxlq9cqML4QM0bapEGJXF9TaTiT0fDWX6T295351Tx395blzsYkQrFpY0HdX5Ka9HjnZiq5s5Zmzpi0mc/s1600/Lunar_libration_with_phase2.gif
Lunar Libration
Oleh karena jarak bumi dan bulan hanya ± 60 x jari bumi, maka perbedaan penglihatan terhadap bulan itu sudah agak nyata. Di sebabkan librasi yang tiga macam itu, sesungguhnya kita melihat dari separoh bagian dari bagian dari bulan itu. Menurut perhitungan (di bulatkan):
- 3/7 tidak pernah kita lihat dari bumi
- 3/7 tetap menghadap ke bumi, itulah yang tetap dapat kita lihat
- 1/7 dapat di lihat karena librasi.
Jadi yang dapat kita kenal dari permukaan bulan itu adalah 4/7 bagian.

b. Revolusi Bulan
Revolusi Bulan adalah peredaran bulan mengelilingi bumi dari arah barat ke timur. Satu kali penuh revolusi bulan memerlukan waktu rata-rata 27 hari 7 jam 43 menit 12 detik. Periode waktu ini disebut satu bulan sideris atau syahr nujumi.


Revolusi bulan ini dijadikan dasar perhitungan bulan qamariyah, tetapi waktu yang dipergunakannya bukan waktu sideris, melainkan waktu yang sinodis atau syahr iqtironi yang lama rata-ratanya adalah 29 hari 12 jam 44 menit 2,8 detik.


Bulan berputar mengelilingi bumi dengan periode 27 1/3 hari. Akibat kala rotasi dan revolusi bulan waktunya bersamaan, maka daerah permukaan bulan yang menghadap ke bumi selalu tetap. Manusia mengetahui daerah yang membelakangi bumi setelah penerbangan pesawat Apollo yang berhasil memotret bagian belakang bulan.


Bulan bergerak dalam peredarannya tiap hari sebanyak 24 jam. Maka yang perlu diperhatikan posisi bulan dari posisi ijtima’ ke posisi ijtima’ lagi, lamanya 1 bulan sinodis atau 1 bulan ijtima’ 29 hari 12 jam 44 menit 2,8 detik. Maka banyak orang beranggapan pada setiap ijtima’ akan terjadi gerhana matahari, padahal tidak demikian, karena ketika ijtima’ matahari bulan dan bumi tidak selalu pada garis lurus, melainkan terletak dalam satu bidang yaitu bidang astronomi. Bidang astronomi itu berbentuk tegak lurus bidang orbit bumi (ekliptika atau dairoh buruj).


Pada saat  bulan bergerak memisahkan diri dari konjungsinya dengan matahari, bumi juga melakukan gerakan revolusi yang menimbulkan kesan seolah-olah matahari juga bergerak ke timur di antara bintang-bintang yang setiap hari menempuh jarak sejauh 59’5,83” (hampir 1), sehingga dalam waktu 1 bulan, matahari sudah terpisah dari bintang ke arah timur hampir sebanyak 30.
Pada posisi 1 matahari dan bulan digambarkan sedang konjungsi (ijtima’), yaitu sama-sama terletak pada satu bujur astronomis. Kemudian bumi bergerak terus mengedari matahari, demikian pula bulan terus mengedari bumi.


Bila matahari dan bulan dalam satu bidang astronomi atau satu lingkaran lintang astronomi maka terjadilah ijtima’. Dan dimana lingkaran lintang astronomis dimana bumi, bulan dan matahari terletak pada 1 garis lurus maka akan terjadi gerhana matahari.


Jika bulan diantara bumi dan matahari, maka bulan berkedudukan konjungsi. Saat inilah saat bulan baru. Jika letaknya bertentangan dengan matahari terhadap bumi, maka bulan kelihatan bersinar penuh, menjadi bulan purnama. Ketika ini bulan dikatakan berkedudukan opposisi.


Bidang lintasan bulan mengelilingai matahari dan bidang lintasan bumi mengelilingi matahari (bidang ekliptika) ini tidak tepat berada dalam satu bidang melainkan miring, dengan variasi kemiringan antara 40 57’ sampai 5 20’. Akibat kemiringan ini terdapat dua titik potong antara lintasan bulan mengelilingi bumi dengan bidangan ekliptika. Titik potong (Simpul) ini dalam astronomi dikenal dengan   Ascending Node (Uqdah Jauzahar) dan Descending Node (Uqdah Naubahar).


Lintasan Bumi mengelilingi matahri dan lintasan bulan mengelilingi bumi. Garis simpul adalah garis nn’. Fase bulan baru terjadi pada waktu kedudukan bulan berada dalam arah yang sama dengan matahari dilihat dari bumi, dan gerhana matahari akan terjadi apabila fase bulan baru terjadi pada titik simpul n’.

Dalam berevolusi mengelilingi bumi , pada suatu saat bulan akan berada pada arah yang sama dengan matahari,  pada saat ini Fase bulan baru  ( New Moon )  atau saat konjungsi atau Ijtimak. Sedangkan kebalikannya yaitu saat bulan berada pada arah yang berlawanan dengan matahari di sebut Fase bulan purnama ( Full Moon ), Pada Fase New Moon seluruh bagian bulan yang gelap akan menghadap ke bumi. Sementara itu pada Fase Full Moon, seluruh permukaan bulan yang terang akan menghadap ke bumi.


c. Bulan dan bumi bersama-sama mengelilingi matahari
Seperti kita ketahui bahwa bumi berevolusi mengelilingi matahari. Begitu juga dengan bulan, karena bulan berevolusi terhadap bumi, maka bulan pun berevolusi terhadap matahari layaknya bumi. Atau dengan kata lain, bulan mengikuti revolusi bumi.



2. Gerakan semu bulan           


a. Gerak harian
Selain gerak akibat rotasi Bumi dari arah timur kea rah barat, bulan melakukan pergerakan revolusi mengitari bumi yang arahnya dari barat ke timur.


Setelah berlangsung selama 7 hari, bulan kelihatan setengah lingkaran. Rupa semu seperti ini disebut bulan perbani (First Quarter) atau perempat pertama. Pada malam ke 15 piringan bulan terlihat selurhnya, yang disebut bulan purnama (Full Moon). Pada saat itu bulan mempnyai selisih bujur astronomis dengan matahari sebanyak + 180 derajat. Letak seperti ini disebt bulan sedang beroposisi dengan matahari.


Untuk seterusnya, rupa semu bulan mlai menyusut sedikit demi sedikit, sehingga pada tanggal ke 22 tinggal setengah lingkaran yang disaebut Last Quarter. Akhirnya pada malam ke 29/30 bulan tidak bercahaya lagi dan disebut bulan mati (New Moon). Pada saat itu blan memiliki selisih bjur astronomis dengan matahari sebanyak + 0 derajat. Pada saat itu bulan disebut berkonjungsi dengan matahari atau dalam istilah arabnya disebut ijtima’ atau iqtiron. Kira-kira satu atau dua hari setelah itu, bulan akan menampakkan diri dengan rupa semu seperti sabit. Oleh karena itu rupa blan tersebut diberi nama bulan sabit (Crescent).


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjeX-CjY1b8IzUvUnJbPyss3hVh64NeQDgEDUDBBAFozVoHtOEdbnNNvp4HaVH4Hz80WjaUlwNt7HyaLDfHZCZNfJHXFX71-tUXEdNUHQ46YFLZ0FrALIJcgt8HB_XRKcYo2gP6BGarr7s/s1600/rupa+semu+bulan.png
Rupa Semu Bulan
Adanya rupa semu bulan seperti itu merupakanakibat dari fungsi elongasi bulan, yakni jarak sudt bulan dari matahari dilihat dari bumi. Waktu blan “perempat pertama” berelongasi 90 derajat. Blan purnama berelongasi 180 derajat. Bulan “perempat kedua” berelongasi 270 derajat dan saat bulan mati berelongasi 0 derajat.


b. Bulan sideris dan sinodis
Sebenarnya bulan sekali berevolusi mengedari bumi satu kali putar penuh memerlukan waktu 27 1/3 hari. Ditandai dengan letaknya bentuk semu bulan selama beredar pada bumi dalam satu bulan. Bola di tengah ialah bumi, bola-bola di sebelah luar sekali menampakkan bagian mana dari bulan disinari matahari.


Di samping gerakan semu di atas, bulan pun mempunyai gerakan semu yang disebut Librasi, yaitu goyangan semu bulan terhadap bumi. Dengan adanya gerakan ini menyebabkan lebih dari setengah permkaan bulan dapat terlihat dari bumi. Ada tiga hal yang menyebabka librasi bulan, yaitu:
Kembali ke tempat semula di latar belakang bintang-bintang yang sama. Periode ini disebut 1 bulan sideris. Sideris artinya bintang. Namun bentuk fasenya belum kembali ke bentuk yang sama barulah setelah 29 ½ hari bulan kembali ke bentuk fase yang sama, dari bulan baru ke bulan baru berikutnya. Periode ini disebut 1 bulan sinodis (lunasi). Adanya perbedaan ini terjadi akibat blan menyertai bumi mengitari matahari.


Sebagai pemerhati perbedaan antara 2 metode penentuan bulan Hijriyah, izinkan saya sedikit menulis mengenai hal ini dalam bahasa yang lebih mudah dimengerti. Tangan ini tergerak untuk menulis karena banyaknya ketidak tahuan masyarakat pada umumnya yang cenderung mengedepankan semangat golongan ketimbang mencari tahu apa sebenarnya substansi perbedaan tersebut.
Hisab yang diusung Muhammadiyah adalah metode yang semata-mata mengandalkan perhitungan astronomi dalam menentukan bulan baru. Metode hisab ini di Muhammadiyah dinamai “Wujudul Hilal”. Kriterianya adalah:
1. Telah terjadinya ijtimak/konjungsi antara bumi, bulan dan matahari
2. Bulan tenggelam belakangan setelah matahari tenggelam pada petang itu.
Kekuatan dari metode ini adalah: Kemudahan dan kepastian. Karena dalam astronomi, semua pergerakan benda2 angkasa sudah bisa dipetakan dan dibuat rumus atau dibuat tabel untuk tahun2 ke depan.  Kelemahan dari metode ini adalah: membuang sama sekali faktor “rukyat” atau melihat bulan. Padahal di hadits2 shahih jelas sekali menerangkan faktor “keterlihatan” hilal.
Rukyat adalah metode menentukan bulan baru dengan pengamatan/observasi semata. Jikalau bulan tidak terlihat/terhalang, maka hitungan hari pada bulan tersebut digenapkan menjadi 30. Sebaliknya jika bulan kelihatan pada petang tersebut, maka keesokan harinya adalah tanggal 1.
Kekuatan metode ini: Sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh nash2 shahih, yaitu dengan me”rukyat” /melihat hilal. Kelemahan metode ini adalah: Ketidak pastian. Kita sebagai umat islam tentu menginginkan kalender hijriyah superior dari sistem penanggalan lainnya. Tetapi kalau tidak pasti, bagaimana kita bisa menonjolkan? Misalkan jika memesan tiket pesawat tanggal 30 Julhijah seminggu sebelumnya, tetapi sehari sebelum keberangkatan ternyata hasil rukyat menyatakan bulan julhijah tahun itu hanya 29 hari, kan berarti tiketnya hangus.
Makanya ada jalan tengah, yaitu:
Imkanur Rukyat adalah metode jalan tengah yang dimotori oleh pakar astronomi yang sudah muak dengan perbedaan hisab vs rukyat. Dalam metode imkanur rukyat ini, ada tambahan kriteria seperti minimal tinggi bulan sebelum dirukyat dan atau umur bulan sebelum dirukyat dan atau lengkung sudut bulan terhadap matahari sebelum dirukyat. Meskipun secara nominal belum ada kesepakatan misalkan berapa tinggi bulan sebelum dirukyat, tetapi ini merupakan kemajuan yang sangat berarti untuk menjembatani perbedaan hisab vs rukyat.
Kekuatan metode imkanur rukyat adalah: Kepastian dan pemenuhan faktor rukyat yang tertera di hadits2 shahih. Kepastian karena dengan menentukan minimal berapa derajat ketinggian bulan sebelum dirukyat, akan meminimalkan kesalahan prediksi apakah bulan akan terlihat atau tidak. Kelemahannya: boleh dibilang tidak ada. Karena ini adalah hasil musyawarah, menentukan secara nominal misalkan berapa ketinggian bulan yang disepakati sebelum dirukyat.
Pemerintah dan ormas2 Islam secara umum (kecuali Muhammadiyah) sudah bersepakat untuk mengedepankan metode imkanur rukyat, meskipun belum ada kesepahaman berapa nilai nominal dari tambahan kriteria rukyat tersebut. Pada umumnya ormas2 Islam mensyaratkan minimal 2 derajat sementara para ahli astronomi mengisyaratkan bulan sebenarnya tidak bakal terlihat jika masih di bawah 4 derajat di atas ufuk setelah matahari tenggelam. Sementara Muhammadiyah masih tetap bersikukuh dengan metode wujudul hilal yang murni penghitungan.
I. Gerhana Matahari
1. Macam-macam Gerhana Matahari
Berdasarkan penampakannya saat puncak gerhana, gerhana matahari dapat dibedakan menjadi:
1.      Gerhana matahari total
2.      Gerhana matahari cincin
3.      Gerhana matahari cincin-total (gerhana matahari hibrid)
4.      Gerhana matahari sebagian
1. Gerhana Matahari Total
Pada gerhana matahari total, seluruh piringan matahari tertutup oleh piringan bulan. Saat gerhana matahari total ini, ukuran piringan bulan sama besar atau lebih besar dari piringan matahari.
2. Gerhana Matahari Cincin
 Pada gerhana matahari cincin, ujung umbra tidak mencapai permukaan Bumi. Hanya perpanjangan umbra saja (yang disebut antumbra atau anti umbra) yang mencapai permukaan Bumi. Meski seluruh piringan bulan berada di depan piringan matahari, tetapi ukurannya lebih kecil dari piringan matahari, akibatnya tidak seluruh piringan matahari tertutupi. Bagian pinggiran piringan matahari yang tidak tertutupi piringan bulan tersebut masih bercahaya, sementara bagian tengahnya gelap tertutup piringan bulan. Karena itu gerhana ini dinamakan gerhana matahari cincin.
3. Gerhana Matahari Cincin-Total (Gerhana Matahari Hibrid)
Gerhana matahari cincin - total adalah gerhana matahari yang jarang terjadi. Pada gerhana matahari jenis ini, di sebagian tempat di muka Bumi, yang teramati adalah gerhana matahari cincin, sedangkan di tempat lain gerhana matahari total. Hal ini bisa terjadi karena pada saat puncak gerhana, puncak kerucut umbra Bulan berada (hampir) tepat di permukaan Bumi, dan pada lokasi ini akan teramati gerhana matahari total. Sedangkan daerah yang berada di timur dan di barat lokasi tadi, bayangan gelap yang jatuh di permukaan Bumi bukanlah umbra, melainkan perpanjangan umbra (antumbra), sehingga untuk fase total pada lokasi ini yang teramati adalah gerhana matahari cincin.
4. Gerhana Matahari Sebagian
Pada gerhana matahari sebagian, saat puncak gerhana terjadi, tidak seluruh piringan bulan menutupi piringan matahari dan tidak seluruh piringan bulan berada di depan piringan matahari.
Selain empat macam gerhana di atas, dikenal juga istilah gerhana sentral dan gerhana non-sentral. Gerhana sentral adalah gerhana yang terjadi dengan garis penghubung Matahari-Bulan berpotongan dengan permukaan Bumi. Jika garis hubung tersebut tidak memotong permukaan Bumi, gerhana tersebut dinamakan gerhana non-sentral. Gerhana matahari total, gerhana matahari cincin, dan gerhana cincin-total termasuk gerhana sentral. Sedangkan gerhana matahari sebagian, ada yang sentral ada yang tidak. (Mengapa?)
2. Waktu-waktu Kontak dan Fase-fase Gerhana Matahari
Momen terjadinya gerhana matahari berdasarkan urutan terjadinya:
Kontak I
Kontak I adalah saat piringan bulan dan piringan matahari mulai bersinggungan. Kontak I ini menandai dimulainya peristiwa gerhana.
Kontak II
Kontak II adalah saat pertama seluruh piringan matahari tertutup oleh piringan bulan (untuk peristiwa gerhana matahari total), atau saat seluruh piringan bulan seluruhnya berada 'di dalam' piringan matahari (untuk peristiwa gerhana matahari cincin). Kontak II ini menandai dimulainya fase total (untuk gerhana matahari total), atau fase cincin (untuk gerhana matahari cincin)
Puncak gerhana Puncak gerhana adalah saat jarak antara pusat piringan Bulan dan pusat piringan Matahari mencapai minimum.
Kontak III
Kontak III adalah kebalikan Kontak II. Kontak III ini adalah saat piringan matahari mulai keluar dari belakang piringan bulan (untuk peristiwa gerhana matahari total), atau saat piringan bulan mulai meninggalkan piringan matahari (untuk peristiwa gerhana matahari cincin). Interval antara Kontak II dan kontak III adalah panjangnya fase gerhana matahari total. Pada gerhana matahari sebagian, fase Kontak II dan Kontak III ini tidak kita amati.
Kontak IV
Kontak IV adalah saat piringan matahari dan piringan bulan bersinggungan ketika piringan bulan meninggalkan piringan matahari. Kontak IV ini adalah kebalikan dari Kontak I, dan menandai berakhirnya peristiwa gerhana secara keseluruhan. Interval antara Kontak I dan Kontak IV adalah panjangnya peristiwa gerhana matahari.
Berdasarkan waktu-waktu kontak ini, peristiwa gerhana matahari melalui fase-fase:
·         fase gerhana sebagian: selang antara kontak I dan kontak II, dan antara kontak III dan kontak IV
·         fase gerhana total atau fase gerhana cincin (tergantung gerhana matahari total atau cincin): selang antara kontak II dan kontak III
Fase gerhana matahari mana saja yang diamati saat terjadinya sebuah gerhana matahari, bergantung pada jenis gerhana matahari dan dari mana kita mengamati. Secara prinsip:
·         pada gerhana matahari total: terjadi fase gerhana sebagian dan fase gerhana total
·         pada gerhana matahari cincin: terjadi fase gerhana sebagian dan fase gerhana cincin
·         pada gerhana matahari sebagian: hanya terjadi fase gerhana sebagian.
Namun dalam pengamatannya, pengamat di daerah yang berbeda akan mengamati waktu kontak yang berbeda, dan karenanya akan mengamati fase gerhana yang berbeda pula. Ini tergantung pada posisi pengamat relatif terhadap jalur yang dilalui umbra/penumbra Bulan. Karena itu, untuk melakukan pengamatan gerhana matahari, perlu perencanaan dan pemilihan lokasi pengamatan.
Pada peristiwa gerhana bulan, kita mengenal empat macam gerhana, yaitu: gerhana bulan total, gerhana bulan sebagian, gerhana bulan penumbral total, dan gerhana bulan sebagian penumbral. Perbedaan jenis-jenis gerhana bulan tersebut terletak pada bayangan Bumi mana yang jatuh ke permukaan Bulan saat fase maksimum gerhana terjadi.
1. Macam-macam Gerhana Bulan
Berdasarkan keadaan saat fase puncak gerhana, gerhana bulan dapat dibedakan menjadi:
 1. Gerhana Bulan Total
Jika saat fase gerhana maksimum keseluruhan Bulan masuk ke dalam bayangan inti / umbra Bumi, maka gerhana tersebut dinamakan gerhana bulan total. Gerhana bulan total ini maksimum durasinya bisa mencapai lebih dari 1 jam 47 menit.
2. Gerhana Bulan Sebagian
Jika hanya sebagian Bulan saja yang masuk ke daerah umbra Bumi, dan sebagian lagi berada dalam bayangan tambahan / penumbra Bumi pada saat fase maksimumnya, maka gerhana tersebut dinamakan gerhana bulan sebagian.
3. Gerhana Bulan Penumbral Total
Pada gerhana bulan jenis ke- 3 ini, seluruh Bulan masuk ke dalam penumbra pada saat fase maksimumnya. Tetapi tidak ada bagian Bulan yang masuk ke umbra atau tidak tertutupi oleh penumbra. Pada kasus seperti ini, gerhana bulannya kita namakan gerhana bulan penumbral total.
4. Gerhana Bulan Penumbral Sebagian
Dan gerhana bulan jenis terakhir ini, jika hanya sebagian saja dari Bulan yang memasuki penumbra, maka gerhana bulan tersebut dinamakan gerhana bulan penumbral sebagian. Gerhana bulan penumbral biasanya tidak terlalu menarik bagi pengamat. Karena pada gerhana bulan jenis ini, penampakan gerhana hampir-hampir tidak bisa dibedakan dengan saat bulan purnama biasa.
2. Waktu-waktu Kontak dan Fase-fase Gerhana Bulan
Momen terjadinya gerhana Bulan diurut berdasarkan urutan terjadinya, yaitu: P1, P2, U1, U2, Puncak gerhana, U3, U4, P3, dam P4.
P1 : P1 adalah kontak I penumbra, yaitu saat piringan Bulan bersinggungan luar dengan penumbra Bumi. P1 menandai dimulainya gerhana bulan secara keseluruhan.
P2 :P2 adalah kontak II penumbra, yaitu saat piringan Bulan bersinggungan dalam dengan penumbra Bumi. Saat P2 terjadi, seluruh piringan Bulan berada di dalam piringan penumbra Bumi.
U1 :U1 adalah kontak I umbra, yaitu saat piringan Bulan bersinggungan luar dengan umbra Bumi.
U2 :U2 adalah kontak II umbra, yaitu saat piringan Bulan bersinggungan dalam dengan umbra Bumi. U2 ini menandai dimulainya fase total dari gerhana bulan.
Puncak Gerhana : Puncak gerhana adalah saat jarak pusat piringan Bulan dengan pusat umbra / penumbra mencapai minimum.
U3 : U3 adalah kontak III umbra, yaitu saat piringan Bulan kembali bersinggungan dalam dengan umbra Bumi, ketika piringan Bulan tepat mulai akan meninggalkan umbra Bumi. U3 ini menandai berakhirnya fase total dari gerhana bulan.
U4 : U4 adalah kontak IV umbra, yaitu saat piringan Bulan kembali bersinggungan luar dengan umbra Bumi.
P3 : P3 adalah kontak III penumbra, yaitu saat piringan Bulan kembali bersinggungan dalam dengan penumbra Bumi. P3 adalah kebalikan dari P2.
P4 : P4 adalah kontak IV penumbra, yaitu saat piringan Bulan kembali bersinggungan luar dengan penumbra Bumi. P4 adalah kebalikan dari P1, dan menandai berakhirnya peristiwa gerhana bulan secara keseluruhan.
Berdasarkan waktu-waktu kontak ini, peristiwa gerhana bulan melalui fase-fase:
·         fase gerhana penumbral: selang antara P1-U1, dan antara U4-P4
·         fase gerhana umbral: selang antara U1-U4
·         fase total: selang antara U2-U3

Tidak keseluruhan kontak dan fase akan terjadi saat gerhana bulan. Jenis gerhana bulan menentukan kontak-kontak dan fase gerhana mana saja yang akan terjadi. Misalnya saat gerhana bulan total, keseluruhan kontak dan fase akan dilalui. Untuk gerhana bulan sebagian, karena tidak keseluruhan Bulan masuk dalam umbra Bumi, maka U2 dan U3 tidak akan terjadi, sehingga fase total tidak akan diamati. Untuk gerhana penumbral total, karena Bulan tidak menyentuh umbra Bumi, maka U1, U2, U3, dan U4 tidak akan terjadi, karena itu fase gerhana umbral tidak akan diamati. Sedangkan pada gerhana penumbral sebagian, hanya P1 dan P4 saja yang akan terjadi.
Berbeda dengan gerhana matahari, pada gerhana bulan, waktu-waktu kontak dan saat terjadinya suatu fase gerhana, tidak dipengaruhi oleh lokasi pengamat. Semua pengamat yang berada di belahan Bumi yang mengalami gerhana akan mengamati waktu-waktu kontak (umbra dan penumbra) pada saat yang bersamaan. 
B. GERHANA DALAM ILMU HISAB
Untuk mengetahui kapan akan atau sudah terjadi peristiwa gerhana Bulan atau Matahari, di kalangan pelaku Hisab Falak di Indonesia telah dikenal berbagai macam metode perhitungan. Ada yang mengelompokkannya menjadi beberapa kategori perhitungan atau hisab, yaitu : 1. Hisab Taqribi, 2. Hisab Tahqiqi, dan Hisab Kontemporer.
Kementerian Agama menggunakan dan mengembangkan hisab Kontemporer dengan bahan bakunya kitab Ephemeris Hisab & Rukyat yang diterbitkan setiap tahun. Adapun hisab Taqribi sekalipun dianggap kurang teliti tetapi masih digunakan secara luas di banyak pesantren di Indonesia karena perhitungannya sederhana dan bukunya mudah didapat. Hal itu berbeda dengan Tahqiqi dan Kontemporer, karena selain perhitungannya mereka anggap lebih memusingkan kepala juga bukunya sulit diperoleh.
Dalam kesempatan ini kita coba lakukan perhitungan gerhana menggunakan metode yang dikembangkan oleh Jean Meeus yang telah dipublikasikan oleh Bapak Feryy M Simatupang di web RHI. Dengan alat bantu kalkulator saku, apalagi dengan adanya perangkat lunak komputer kita akan sangat terbantu bisa menghitung kapan terjadinya gerhana bulan atau gerhana matahari dengan lebih mudah. Meskipun sudah banyak beredar software Falakiyah termasuk gerhana, tentunya akan lebih senang apabila kita bisa melakukan perhitungannya sendiri.
1. Gerhana Matahari
Langkah-langkah menghitung kapan terjadinya gerhana matahari:
a.  Tentukan sebuah tanggal. Gerhana yang kita cari akan berpandukan tanggal ini. Hitung harga k untuk tanggal tersebut, dan tentukan harga k untuk tanggal calon gerhana.
k = (tahun-2000) * 12,3685
Rumus untuk mencari k di atas adalah rumus pendekatan. 'Tahun' yang digunakan dalam rumus di atas adalah tanggal yang dinyatakan dalam tahun. Jadi misalnya tanggalnya adalah 1 Juli 2000, maka 'tahun' di atas diisi dengan 2000,5
Untuk gerhana matahari, k haruslah bilangan bulat (yang menunjukkan saat bulan baru). Untuk gerhana bulan, k harus bilangan bulat ditambah 0,5 (yang menunjukkan saat bulan purnama). Jadi calon gerhana berikutnya (setelah tanggal yang dipilih), memiliki harga k berupa bilangan bulat terdekat yang lebih besar dari harga k untuk tanggal pedoman kita. Calon gerhana sebelumnya memiliki harga k berupa bilangan bulat terdekat yang lebih kecil dari harga k untuk tanggal pedoman kita. Atau untuk permulaan, dengan menggunakan MS Excel kita bisa mengisi harga k dengan nilai berapapun dengan ketentuan di atas, nilainya harus bulat untuk gerhana matahari. Seperti misalnya 1, 2, 250, -58 dan seterusnya.
b. Hitung: JDE (Julian Day Ephemeris), M, M', F, dan W
T       =       k/1236,85
JDE =       2.451.550,09765
+ 29,530588853 * k
+ 0,0001337 * T2
- 0,000000150 * T3
+ 0,00000000073 * T4
JDE adalah waktu terjadinya gerhana (yang ingin dicari) dinyatakan dalam julian day, dimana waktunya dinyatakan dalam waktu efemeris (ET) atau waktu dinamik (DT).
M =           + 2,5534
+ 29,10535669 * k
- 0,0000218 * T2
- 0,00000011 * T3
M adalah anomali menengah Matahari.
M' =          + 201,5643

+ 385,81693528 * k
+ 0,0107438 * T2
+ 0,00001239 * T3
- 0,000000058 * T4
M' adalah anomali menengah Bulan
F =                        + 160,7108
+ 390,67050274 * k
- 0,0016341 * T2
- 0,00000227 * T3
+ 0,000000011 * T4
F adalah argument latitud dari Bulan
W =           + 124,7746
- 1,56375580 * k
+ 0,0020691 * T2
+ 0,00000215 * T3
W adalah longitud dari ascending node (titik tanjak naik) orbit Bulan
Jika nilai mutlak dari selisih F dengan kelipatan 180 terdekat:
·         lebih dari 21°, maka tidak akan terjadi gerhana, dan perhitungan tidak perlu dilanjutkan.
·         kurang dari 13,9°, maka dipastikan akan terjadi gerhana.
·         kurang dari 21° dan lebih dari 13,9°, maka harus diuji lebih lanjut (lihat bagian akhir pada langkah di bawah).
Jika harga F berada di sekitar 0° atau 360°, maka gerhana terjadi disekitar titik tanjak naik (ascending node) Bulan. Sedangkan jika harga F berada di sekitar 180°, berarti di sekitar titik tanjak turun (decending node)
c. Jika terjadi gerhana, hitung: P, Q, g, dan u
E   =          1 - 0,002516 * T - 0,0000074 * T2
F1  =         F - 0,02665 * sin(W)
A1 =          299,77 + 0,107408 * k - 0,009173 * T2
P    =          + 0,2070 * E * sin(M)
+ 0,0024 * E * sin(2 * M)
- 0,0392 * sin(M')
+ 0,0116 * sin(2 * M')
- 0,0073 * E * sin(M'+M)
+ 0,0067 * E * sin(M'-M)
+ 0,0118 * sin(2 * F1)
Q =            + 5,2207

- 0,0048 * E * cos(M)
+ 0,0020 * E * cos(2 * M)
- 0,3299 * cos(M')
- 0,0060 * E * cos(M'+M)
+ 0,0041 * E * cos(M'-M)

W =          |cos(F1)|
g    =          (P * cos(F1) + Q * sin(F1)) * (1-0,0048 * W)
u    =          + 0,0059
+ 0,0046 * E * cos(M)
- 0,0182 * cos(M')
+ 0,0004 * cos(2 * M')
- 0,0005 * cos(M+M')

u + 0,5461 adalah radius penumbral Bulan pada bidang fundamental (fundamental plane), yaitu bidang yang melalui titik pusat Bumi dan tegak lurus dengan garis sumbu bayangan Bulan.
Pada gerhana Matahari simbul g menunjukkan jarak terdekat dari sumbu bayangan Bulan menuju pusat Bumi. Jika harga g > 0, maka gerhana dapat diamati dari belahan Bumi utara, jika g < 0, maka gerhana dapat diamati dari belahan Bumi selatan.
Jika harga nilai absolut g:
·         kurang dari +0,9972 maka gerhananya adalah gerhana sentral
o    jika u<0 maka gerhananya adalah gerhana total
o    jika u>0,0047 maka gerhananya adalah gerhana cincin
o    jika u antara 0 dan 0,0047 maka hitung w = 0,00464(1-g2)1/2 > 0. Jika u<w, maka gerhananya adalah gerhana cincin-total. Jika tidak maka gerhananya adalah cincin
·         antara 0,9972 dan (1,5433+u) maka gerhananya tidak sentral, umumnya gerhana sebagian.
·         antara 0,9972 dan 1,0260 sebagian kerucut bayangan menyentuh permukaan bumi (di daerah kutub), sementara sumbu bayangan tidak sampai menyentuh bumi.
·         antara 0,9972 dan (0,9972+u) maka gerhananya tidak sentral total atau cincin.
·         lebih dari 1,5433+u maka tidak terjadi gerhana
d. Hitung: waktu puncak gerhana, dan magnitud gerhana
Untuk menghitung kapan waktu puncak gerhana, hitung koreksi terhadap JDE sbb:
Koreksi_JDE =     - 0,4075 * sin(M')
+ 0,1721 * E * sin(M)
+ 0,0161 * sin(2 * M')
- 0,0097 * sin(2 * F1)
+ 0,0073 * E * sin(M'-M)
- 0,0050 * E * sin(M'+M)
- 0,0023 * sin(M'-2 * F1)
+ 0,0021 * E * sin(2 * M)
+ 0,0012 * sin(M'+2 * F1)
+ 0,0006 * E * sin(2 * M'+M)
- 0,0004 * sin(3 * M')
- 0,0003 * E * sin(M+2 * F1)
+ 0,0003 * sin(A1)
- 0,0002 * E * sin(M-2 * F1)
- 0,0002 * E * sin(2 * M'-M)
- 0,0002 * sin(Omega)
maka waktu puncak gerhana adalah:
Puncak_gerhana = JDE + Koreksi_JDE
Waktu puncak gerhana yang diperoleh di atas, adalah dalam TDT (Terrestrial Dynamical Time). Untuk menyatakan dalam UT:
UT = TDT - DT
Data DT diperoleh dari pengamatan. Untuk memperoleh harga DT buat prediksi gerhana yang akan datang, dilakukan dengan mengekstrapolasi data-data yang ada. Lebih lanjut tentang DT dapat dibaca misalnya di website Fred Espenak's Eclipse Home Page (http://sunearth.gsfc.nasa.gov/eclipse/), lihat bagian: http://sunearth.gsfc.nasa.gov/eclipse/SEhelp/deltaT.html.
Magnitud gerhana dihitung dengan rumus:
Magnitud_gerhana = (1,5433 + u - |g|) / (0,5461 + 2 * u)
Magnitud gerhana adalah fraksi diameter Matahari yang tertutup pada saat maksimum gerhana. Jika gerhana total, magnitud gerhana akan lebih besar atau sama dengan 1,0. Jika magnitud gerhana kurang dari 1,0 maka gerhana tersebut adalah gerhana sebagian atau gerhana cincin. Untuk kasus gerhana matahari sebagian, magnitud gerhana yang dihitung dengan rumus di atas adalah magnitud gerhana yang diamati dari lokasi yang paling dekat dengan sumbu bayangan bulan.
2. Gerhana Bulan
Langkah-langkah menghitung kapan terjadinya gerhana bulan:
a.  Tentukan sebuah tanggal. Gerhana yang kita cari akan berpandukan tanggal ini. Hitung harga k untuk tanggal tersebut, dan tentukan harga k untuk tanggal calon gerhana.
k = (tahun-2000) * 12,3685
Tentang k ini, lihat pada bagian Gerhana Matahari di atas. Untuk gerhana bulan, k adalah bilangan bulat ditambah 0,5 (yang menunjukkan saat bulan purnama). Jadi calon gerhana berikutnya (setelah tanggal yang dipilih), memiliki harga k berupa bilangan_bulat_ditambah_0,5 terdekat yang lebih besar dari harga k untuk tanggal pedoman kita. Calon gerhana sebelumnya memiliki harga k berupa bilangan_bulat_ditambah_0,5 terdekat yang lebih kecil dari harga k untuk tanggal pedoman kita.
 b.  Hitung: JDE (Julian Day Ephemeris), M, M', F, dan W (sama seperti menghitung gerhana matahari)
Untuk mengatahui terjadi gerhana bulan atau tidaknya sama dengan ketentuan gerhana matahari di atas.
c.  Jika terjadi gerhana, hitung: P, Q, g, dan u (sama seperti menghitung gerhana matahari)
 Pada gerhana Bulan g menunjukan jarak terdekat dari pusat Bulan menuju sumbu bayangan Bumi. Jika harga g > 0, pusat Bulan melewati sumbu bayangan Bumi utara, jika g < 0, maka pusat Bulan melewati sumbu bayangan Bumi selatan.
d. Hitung: waktu puncak gerhana, dan magnitud gerhana
 Untuk menghitung kapan waktu puncak gerhana Bulan, hitung koreksi terhadap JDE sbb:
Koreksi_JDE = - 0,4065 * sin(M')
+ 0,1727 * E * sin(M)
+ 0,0161 * sin(2 * M')
- 0,0097 * sin(2 * F1)
+ 0,0073 * E * sin(M'-M)
- 0,0050 * E * sin(M'+M)
- 0,0023 * sin(M'-2 * F1)
+ 0,0021 * E * sin(2 * M)
+ 0,0012 * sin(M'+2 * F1)
+ 0,0006 * E * sin(2 * M'+M)
- 0,0004 * sin(3 * M')
- 0,0003 * E * sin(M+2 * F1)
+ 0,0003 * sin(A1)
- 0,0002 * E * sin(M-2 * F1)
- 0,0002 * E * sin(2 * M'-M)
- 0,0002 * sin(Omega)
maka waktu puncak gerhana adalah
Puncak_gerhana = JDE + Koreksi_JDE
Sama seperti dalam perhitungan gerhana matahari di atas, waktu puncak gerhana yang diperoleh adalah dalam TDT (Terrestrial Dynamical Time).
Rumus koreksi JDE untuk gerhana bulan di atas sedikit berbeda dengan untuk gerhana matahari. Perbedaannya terletak hanya pada koefisien pertama dan kedua. Untuk gerhana matahari: -0,4075 dan +0,1721, sedangkan untuk gerhana bulan: -0,4065 dan 0,1727.
Magnitud gerhana Bulan dihitung dengan rumus:
·         Untuk gerhana penumbral:
Magnitud_gerhana = (1,5573 + u - |g|) / (0,5450)
·         Untuk gerhana umbral
Magnitud_gerhana = (1,0128 - u - |g|) / (0,5450)
Bila harga magnitud (umbral atau penumbral) kurang dari 0 (dengan kata lain: negatif), berarti tidak terjadi gerhana (umbral atau penumbral).
e. hitung: waktu-waktu kontak dengan umbra dan penumbra
P = 1,0128 - u
T = 0,4678 - u
n = 0,5358 + 0,0400 cos (M')
H = 1,5573 + u
Semi durasi :
Fase_parsial = 60/n * (|P2 - g2|)0,5                                   (umbra)
Fase_total = 60/n * (|T2 - g2|)0,5                                       (umbra)
Fase_parsial_di_penumbra = 60/n * (|H2 - g2|)0,5   (pebumbra)
Semi durasi yang dihitung di atas adalah dalam satuan menit.
Maka:
·         Kontak 1 penumbra (P1) = Puncak_gerhana - Fase_parsial_di_penumbra
·         Kontak 1 umbra (U1) = Puncak_gerhana - Fase_parsial
·         Kontak 2 umbra (U2) = Puncak_gerhana - Fase_total
Ini adalah saat dimulainya fase gerhana total
·         Kontak 3 umbra (U3) = Puncak_gerhana + Fase_total
Ini adalah saat berakhirnya fase gerhana total
·         Kontak 4 umbra (U4) = Puncak_gerhana + Fase_parsial
·         Kontak 4 penumbra (P4) = Puncak_gerhana + Fase_parsial_di_penumbra
3. Contoh Kalkulasi
1. Tentukan kapan gerhana matahari pertama pada milenium ke-3!
Milenium ke-3 dimulai tanggal 1 Januari 2001. Ini adalah tanggal panduan kita. Harga k untuk tanggal 1 Januari 2001 ini adalah: k = 12,37. Maka gerhana matahari berikutnyaadalah gerhana matahari yang terjadi pada tanggal yang berasosiasi dengan harga k > 12 dan berupa bilangan bulat.
Untuk k = 13, 14, 15, 16, dan 17, tidak terjadi gerhana. (Mengapa?)
Untuk k = 18, terjadi gerhana matahari, dengan hasil perhitungan sbb:
·         k = 18
·         JDE = 2452081,6482
·         M = 166,4498
·         M' = 306,2691
·         W = 96,6270
·         F = 352,7798
·         F1 = 352,7534
·         nilai mutlak selisih F dengan kelipatan 180 yang terdekat = 7,2202, dipastikan ada gerhana
·         g = -0,5698
·         u = -0,0093
·         tipe gerhana: gerhana total (sentral)
·         Puncak gerhana: 21 Juni 2001 jam 12:05:22 TD
·         Magnitud = 1,8276
Data gerhana matahari dari website gerhana Fred Espenak (NASA) memberikan puncak gerhana: 21 Juni 2001 jam 12:04 UT
2. Tentukan kapan terjadi gerhana bulan dalam tahun 2011 !.
Selama tahun 2011 terjadi dua kali gerhana bulan, ketika harga k: 141,50 untuk tanggal 16 Juni 2011 WIB dan harga k:147,50 untuk tanggal 10 Desember 2011 WIB.
Dalam perhitungan ini kita ambil harga k = 141.50  Kalkulasi memberikan:
·         k                = 141,5.
·         JDE           = 2455728,6759745   
·         M              = 160,9614
·         M'              = 74,6608
·         W               = 263,5032
·         F                = 0,5869
·         F1              = 0,6134
·         nilai mutlak selisih F dengan kelipatan 180 yang terdekat = 0,5869 jelas ada gerhana
·         g    = 0,0884
·         u    = 0,0059
·         tipe gerhana: gerhana total
·         Puncak gerhana: 15 Juni 2011 jam 20:13:09 TD
·         Magnitud Penumbral =  2,6892
·         Magnitud Umbral =  1,7023. Karena magnitud umbral berharga lebih dari 1, maka gerhana bulannya adalah gerhana total.
·         P1, awal penumbra           = 17:25:50 TD
·         P2 = U1 awal umbra         = 18:23:59 TD
·         U2, awal total                   = 19:23:14 TD
·         puncak                              = 20:13:09 TD
·         U3, akhir total                   = 21:03:03 TD
·         P3 = U4, akhir umbra       = 22:02:18 TD
·         P4, akhir penumbra           = 23:00:27 TD
Data gerhana matahari dari website gerhana Fred Espenak (NASA) memberikan:
·         Puncak gerhana: 15 Juni 2011 jam 20:12:37 UT. = 20:14 TD
·         Magnitud Penumbral = 2,6868
Magnitud Umbral = 1,6999

METODE PENENTUAN AWAL BULAN HIJRIYAH

Berdasarkan pemahaman ayat dan hadis di atas, dalam mengawali dan mengakhiri bulan Hijriyah khususnya bulan Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah ada dua metode yang digunakan, pertama dengan metode rukyah hilal (visibilitas hilal) dan kedua dengan metode hisab (perhitungan).

1. Metode rukyah
Secara sederhana, pengertian metode rukyah adalah metode penentuan awal bulan Hijriah berdasarkan keterlihatan bulal sabit (hilal) pada saat rukyah di hari ke 29 bulan yang sedang berjalan. Metode rukyah ini terdapat beberapa kelompok:

a. Islamic Crescent Observation (ICOP)
Menurut metode rukyah hilal atau teori visibilitas hilal terbaru yang telah dibagun oleh para astronom dalam proyek pengamatan hilal global yang dikenal sebagai Islamic Crescent Observation (ICOP) berpusat di Yordania berdasarkan pada 700 lebih data observasi hilal yang dianggap valid. Teori visibilitas hilal ini menyatakan bahwa hilal mungkin bisa dirukyah jika jarak sudut Bulan dan Matahari (sudut elogasi) minimal 6,4 derajat yang dikenal sebagai Limit Danjon.

b. visivilitas hilal LAPAN
Di Indonesia, teori visivilitas hilal telah dibangun oleh Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) pada tahun 2011. Menurut teori ini, hilal bisa dirukyah bila sudut elogasi minimal 6,4 derajat dan tinggi hilal minimal 4 derajat di atas ufuk mar‟i.

c. Rukyah qablal ghurub.
Rukyah qabla ghurub (RQG) ini adalah hasil modifikasi dari kriteria ijtima‟ qabla ghurub. Di Indonesia, kriteria RQG digagas kembali oleh Ir. Agus Mustafa (lulusan sarjana teknik nuklir) dengan kriteria bahwa: 1. Perhitungan ijtima‟, 2. Hilal terukyah pada hari itu yang dilakukan mulai sebelum ijtima‟ sampai setelah ijtima‟ dengan alat bantu
berupa teleskop yang dilengkapi dengan perangkat cangggih yang bisa menangkap bentuk hilal walau di siang hari.38

d. Rukyag global
Rukyah global adalah salah satu system penentuan awal bulan Hijriah, dimana awal bulan baru atau tanggal satu untuk awal bulan berikutnya ditetapkan bila hilal terlihat di salah satu titik di permukaan Bumi. Di Indonesia, metode ini pernah diusulkan oleh Teuku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, alasan metode ini diusulkan untuk kemaslahatan umat Islam agas syiar Islam terasa baik dengan tidak ada perbedaan dalam mengawali puasa dan berhariraya.39

e. Metode hisab imkanur rukyah
Kriteria ini digunakan oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Kriteria ini menyatakan bahwa hilal dianggap terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut. 1. Ketika Matahari terbenam, ketinggian Bulan minimal 2 derajat di atas horizon dan 2. Jarak sudut elogasi minimal 3 derajat atau 3. Ketika bulan terbenam, umur Bulan minimal 8 jam setelah ijtimak. Kriteria inilah yang dijadikan pedoman Pemerintah Republik Indonesia untuk menyusun kalender Hijriyah standar Indonesia yang digunakan dalam penentuan hari libur nasional secara resmi. Belakangan ini, khusus untuk penentuan awal bulan Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah kriteria ini hanya dipakai oleh Indonesia dan Malaysia, sedangkan Singapura menggunakan hisab wujudul hilal dan Brunei Darussalam sudah menggunakan rukyah hilal berdasarkan teori visibilitas hilal.
2. Metode hisab
Secara sederhana, maksud dari metode hisab adalah menentukan awal bulan hanya berpatokan pada hasil perhitungan saja, tidak mementingkan hasil dari rukyah. Ada beberapa kelompok yang menggunakan metode hisab:
a. Hisab Hakiki Wujudul Hilal
Di Indonesia, metode hisab hakiki wujudul hilal ini dibangun oleh Muhammadiyah dalam menyusun kalender Hijriyah untuk keperluan sosial maupun ibadah. kriteria ini menyatakan bahwa awal bulan Hijriyah dimulai apabila telah terjadi ijtimak dan ijtimak
38Agus Mustofa, Mengintip Bulan Sabit Sebelum Magrib, (Surabaya: PADMA Pres, 2014), Hlm. 57-59.
39Lihat Buku Teuku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Awal dan Akhir Ramadhan Mengapa Harus Berbeda?, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2001).
terjadi sebelum Matahari terbenam dan pada saat Matahari terbenam, piringan atas Bulan berada di atas ufuk. Di ahir-ahir ini, Negara Singapure juga sudah menganut metode ini, yang awal nya menggunakan metode rukyah MABIMS seperti yang dipakai oleh kementerian Agama Republik Indonesia.

b. Hisab „Urfi
Hisab „urfi adalah suatu model perhitungan awal bulan yang didasari pada siklus rata-rata pergerakan benda langit, yaitu matahari untuk kalender Miladiyah dan Bulan untuk kalender Hijriah.40

1) Tarikh Masehi

Tarikh masehi dimulai pada tahun lahirnya Nabi „Isa al-Masih yang tanggal 1-1-1 = hari Sabtu. Kalender masehi sebagaimana yang berlaku sekarang disusun berdasarkan atas peredaran bumi mengelilingi matahari. Matahari yang tampak di langit bergerak setiap hari disebabkan oleh perputaran bumi disekeliling ekliptika dalam satu tahun tepatnya dalam waktu 365,242199074 hari atau 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik yang dinamakan satu Tropis dengan peredaran menurut arah dari barat ke timur. Oleh peredaran tahunan itu kita melihat matahari seakan-akan bergerak di langit menurut arah dari barat ke timur.
Perhitungan penangalan (tarikh) Masehi adalah perhitungan yang didasarkan pada peredaran semu matahari yang biasa disebut Solar Sistem, yang dimulai pada saat matahari berada di titik Aries hingga kembali lagi ke titik tersebut. Menurut penelitian, matahari berada di titik Aries setiap tanggal 21 Maret sedangkan waktu yang ditempuh satu kali putaran dalam satu tahun adalah 365,25 hari.
Sebenarnya sistem penanggalan ini sudah berlangsung lama yaitu sebelum Nabi Isa AS Lahir. Bahkan menurut catatan ahli sejarah bahwa tarikh yang disebut juga kalender (penanggalan) Mesir Kuno tersebut termasuk tarikh yang tertua di dunia, disusun pertama kali pada tahun 4240 SM. Saat itu bulan yang pertama adalah bulan Maret, bulan kedua April dan bulan yang terakhir adalah Pebruari. Baru kemudian pada saat DPR Yunani bersidang untuk yang pertama kalinya pada bulan Januari, maka bulan Januari dijadikan sebagai bulan yang pertama (bulan bulan Maret) dan bulan yang terakhir adalah Desember.
Bukti-bukti dari kebenaran keterangan ini adalah bulan September, menurut bahasa Yunani adalah 7 (tujuh) dan Oktober adalah 8 (delapan). Namun karena permulaan tahun tidak lagi dihitung pada bulan Maret melainkan meju ke bulan Januari, maka bulan
40Ahmad Musonnif, Ilmu Falak, Metode Hisab Awal Waktu Shalat, Arah Kiblat, Hisab urfi dan Hisab Hakiki Awal Bulan, Cet. I, (Yogyakarta: Teras, 2011), hlm. 99-111.
September berubah menjadi bulan yang ke-9 (sembilan) dan Oktober bulan yang ke 10 (sepuluh).
Setelah sistem ini berlaku 15 abad lamanya, maka timbullah keraguan atas kebenaran sestem tersebut. Menurut keyakinan orang Masehi, bahwa Isa Al-Masih wafat pada hari Minggu setelah bulan purnama yang terjadi setelah tanggal 21 Maret, tetapi pada saat itu mereka tidak memperingatinya. Pada tanggal 4 Oktober 1582 M. oleh Paus Gregorius XIII atas saran Klasius diperintahkan agar supaya.
1. Pada keesokan harinya tanggal 5 Oktober menurut Julius Caisar) diajukan 10 hari, yaitu dijadikan tanggal 15 Oktober 1582 M.
2. berbeda dengan anggaran Julius Caisar, yaitu tahun 1700, tahun 1800, dan tahun 1900, oleh Paus Gregorius XIII dijadikan tahun pendek, karena habis dibagi 4 tetapi tidak habis dibagi 400, akan tetapi tahun 2000, da 2400 tetap sebagai tahun panjang walaupun habis dibagi 44 dan habis dibagi 400.
3. Satu tahun tidak lagi ditentukan 365,25 hari mlainkan menjadi 365,2425 hari.
Nama-nama bulan tetap, demikian pula perhitungan harinya dimulai pada hari sabtu, atas dasar inilah maka tiap-tiap 400 tahun akan terdapa selisih 3 hari dengan kalender Julian. Selisih itu dapat diatasi dengan menetapkan bilangan tahun yang tidak habis dibagi 4 sebagai tahun pendek (basithah) dan yang habis dibagi 4 sebagai tahun panjang (kabisah).
Dengan demikian dapat diketahui bahwa siklus tahun Masehi adalah tahun dengan jumlah harinya 1461 hari, dan siklus besar adalah 400 tahun dengan jumlah harinya 146.097 hari. Bulan ke 1, 3, 5, 7, 8, 10 dan 12 masing-masing berumur 31 hari, sedangkan bulan ke 4, 6, 9, dan 11 masing-masing berumur 30 hari kecuali bulan ke 2 (Pebruari) berumur 28 hari untuk tahun pendek (basithah) dan berumur 29 hari untuk tahun panjang (kabisah). Tahun pendek dalam satu tahun berumur 365 hari dan tahun panjang 366 hari.
Untuk menghindari perhitungan yang sulit, maka perlu dilakukan penyederhanaan yaitu satu siklus kecil rata-rata 1461 hari, dengan demikian untuk memperoleh jumlah hari, dapat dirumuskan sebagai berikut : Bilangan tahun dibagi 4 kemudian hasilnya dikalikan 1461 lalu dikurangi 13 hari. Angka 13 hari ini terdiri dari 10 hari akibat perubahan Paus Gregorius XIII dan 3 hari sebagai ralat dari abad 17, 18, dan 19 yang semestinya tahun pendek tetapi oleh Julius Caisar dianggap sebagai tahun panjang. Sedangkan untuk mengetahui nama hari dan pasaran, maka jumlah hari dibagi 7 dan sisanya dihitung mulai hari Sabtu.

2) Tarihk Hijriah

Sistem perhitungan bulan qamariyah ialah sistem perhitungan yang didasarkan pada peredaran bulan mengelilingi Bumi yang biasa dikenal dengan istilah LUNAR SISTEM (Sistem Qamariyah) yang lamanya dalam satu tahun 354 hari untuk tahun pendek (basithah) dan 355 hari untuk tahun panjang (kabisah). Satu tahun qamariyah terdiri atas 12 bulan yaitu:
1. Muharram 7. Rajab
2. Shafar 8. Sya‟ban
3. Rai‟ul Awal 9. Ramadhan
4. Rabi‟ul Tsani 10. Syawal
5. Jumadil Ula 11. Dzil Qa‟dah
6. Jumadil Tsani 12. Dzil Hijjah
Lamanya bulan pada satu bulan didasarkan kepada waktu yang berselang antara 2 ijtimak, yaitu rata-rata 29 hari 12 jam 44 menit 2.8 datik, ukuran waktu tersebut dinamakan satu periode Bulan Sinodis.

No comments:

Post a Comment