Secara etimologis, para ahli berselisih tentang
asal kata tasawuf, antara lain :
Shuffah ( serambi tempat duduk ), yakni serambi masjid nabawi di Madinah yang disediakan untuk orang-orang yang belum mempunyai tempat tinggal dan kalangan Muhajirin di masa Rasulullah SAW. Mereka biasa dipanggil ahli shuffah (pemilik serambi) karena di serambi masjid itulah mereka bernaung.
Shaf ( barisan ), karena kaum shufi mempunyai iman kuat, jiwa bersih, ikhlas, dan senantiasa memilih barisan yang paling depan dalam sholat berjamaah atau dalam perang suci.
Shafa : bersih atau jernih.
Shufanah : Sebutan nama kayu yang bertahan
tumbuh di padang pasir.
Shuf (bulu domba), disebabkan karena kaum sufi biasa menggunakan pakaian dari bulu domba yang kasar, sebagai lambang akan kerendahan hati mereka, juga menghindari sikap sombong, serta meninggalkan usaha-usaha yang bersifat duniawi. Orang yang berpakaian bulu domba disebut “ mutashawwif ”, sedangakan perilakunya disebut “ tasawuf ”
Theosofi : Ilmu ketuhanan. Tetapi yang terakhir ini tidak disetujui oleh H.A.R.
Gibb. Dia cenderung kata tasawuf berasal dari
Shuf (bulu domba)
Pengertian Tasawuf Secara Terminologi
Sedangkan menurut terminologis pun, tasawuf
diartikan secara variatif oleh para ahli sufi, antara lain yaitu :
Imam Junaid dari Baghdad (m. 910), mendefinisikan tasawuf sebagai “mengambil setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah”.
Imam Junaid dari Baghdad (m. 910), mendefinisikan tasawuf sebagai “mengambil setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah”.
Syekh Abul Hasan asy-Syadzili (m. 1258) syekh sufi besar dari Afrika Utara, mendefinisikan tasawuf sebagai “praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan” 3).
Sahal al-Tustury (w 245) mendefinisikan tasawuf dengan “ orang yang hatinya jernih dari kotoran, penuh pemikiran, terputus hubungan dengan manusia, dan memandang antara emas dan kerikil” 4).
Syeikh Ahmad Zorruq (m. 1494) dari Maroko mendefinisikan tasawuf sebagai berikut :
“Ilmu yang denganya anda dapat memperbaiki hati dan menjadikannya semata-mata bagi Allah, dengan menggunakan pengetahuan anda tentang jalan islam, khususnya fiqih dan pengetahuan yang berkaitan, untuk memperbaiki amal anda dan menjaganya dalam batas-batas syariat islam agar kebijaksanaan menjadi nyata”.
Dengan demikian dapat disimpulkan secara sederhana, bahwa tasawuf itu adalah suatu sistem latihan dengan kesungguhan (riyadlah-mujahadah) untuk membersihkan, mempertinggi, dan memperdalam kerohanian dalam rangka mendekatkan (taqarrub) kepada Allah, sehingga dengan itu maka segala konsentrasi seseorang hanya tertuju kepada-Nya.
Dengan pengertian seperti itu, maka dapat dikatakan bahwa tasawuf adalah bagian ajaran Islam, karena ia membina akhlak manusia (sebagaimana Islam juga diturunkan dalam rangka membina akhlak umat manusia) di atas bumi ini, agar tercapai kebahagaan dan kesempurnaan hidup lahir dan batin, dunia dan akhirat. Oleh karena itu, siapapun boleh menyandang predikat mutasawwif sepanjang berbudi pekerti tinggi, sanggup menderita lapar dan dahaga, bila memperoleh rizki tidak lekat di dalam hatinya, dan begitu seterusnya yang pada pokoknya sifat-sifat mulia, dan terhindar dari sifat-sifat tercela.
Takhalli artinya
membersihkan diri dari sifat-sifat tercela, dari maksiat lahir dan batin. Di
antara sifat-sifat tercela itu menurut Imam al-Ghazali adalah pemarah, dendam,
hasad, kikir, ria, takabbur, dan lain-lain.
Takhalli juga dapat diartikan mengosongkan diri dari sifat ketergantungan terhadap kelezatan duniawi. Hal ini akan dapat dicapai dengan jalan menjauhkan diri dari kemaksiatan dalam segala bentuknya dan berusaha melenyapkan dorongan hawa nafsu jahat. Menurut kalangan sufi, kemksiatan dapat dibagi dua ; pertama maksiat lahir yaitu sifat tercela yang dikerjakan oleh anggota lahir seperti tangan, mulut dan mata. Sedangkan maksiat batin ialah segala sifat tercela yang diperbuat anggota batin yaitu hati. Menurut al-Ghazali moral adalah setiap hal yang mengangkat jiwa dan kehidupan menuju cahaya dan kesucian. Sedangakan kejelekan adalah semua hal yang merusak tubuh jiwa serta akal dan menjauhkan ruh dari cahaya dan kesucian. Al-Ghazali mengajak untuk tidak menjilat dalam mencari rezeki, menghilangkan keinginan kuat untuk meraih kenikmatan hidup dan membawa jiwa untuk menuju keindahan-keindahan hidup. Al-Ghazali meremehkan harta, pangkat dan kedudukan jika dalam membela sikap yang demikian terdapat sifat yang menggerogoti moral yang lurus. Al-Ghazali menyerukan untuk menahan jiwa, akal dan tangan dari ketamakan-ketamakan hidup, kenikmatan-kenikmatan hina, kemuliaan palsu dan pertarungan yang batil.
Tahalli, sebagai tahap kedua berikutnya, adalah upaya pengisian hati yang telah dikosongkan dengan isi yang lain, yaitu Allah (swt). Pada tahap ini, hati harus selalu disibukkan dengan dzikir dan mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, melepas selain-Nya, akan mendatangkan kedamaian. Tidak ada yang ditakutkan selain lepasnya Allah dari dalam hatinya. Hilangnya dunia, bagi hati yang telah tahalli, tidak akan mengecewakan. Waktunya sibuk hanya untuk Allah, bersenandung dalam dzikir. Pada saat tahalli, lantaran kesibukan dengan mengingat dan berdzikir kepada Allah dalam hatinya, anggota tubuh lainnya tergerak dengan sendirinya ikut bersenandung dzikir. Lidahnya basah dengan lafadz kebesaran Allah yang tidak henti-hentinya didengungkan setiap saat. Tangannya berdzikir untuk kebesaran Tuhannya dalam berbuat. Begitu pula, mata, kaki, dan anggota tubuh yang lain. Pada tahap ini, hati akan merasai ketenangan. Kegelisahannya bukan lagi pada dunia yang menipu. Kesedihannya bukan pada anak dan istri yang tidak akan menyertai kita saat maut menjemput. Kepedihannya bukan pada syahwat badani yang seringkali memperosokkan pada kebinatangan. Tapi hanya kepada Allah. Hatinya sedih jika tidak mengingat Allah dalam setiap detik.
Tajali merupakan istilah tasawuf yang berarti ”penampakan diri Tuhan” yang bersifat absolut dalam bentuk alam yang bersifat terbatas. Istilah ini berasal dari kata tajalla atau yatajalla, yang artinya “menyatakan diri”. Tajali merupakan poin poros dalam pemikiran Ibn ’Arabi. Sebenarnya, konsep tajali adalah pijakan dasar pandangan Ibnu Arobi mengenai realitas. Semua pemikiran Ibn ’Arabi mengenai struktur ontologis alam berkisar pada poros ini, dan dari situ berkembang menjadi sistem kosmik berjangkauan luas. Tidak ada bagian dalam pandangan Ibnu Arobi tentang realitas yang bisa dipahami tanpa merujuk pada konsep utama ini. Keseluruhan filsafatnya, secara ringkas, adalah teori tajali.
Bagi Ibn Arabi pengertian tajalli tidak terbatas pada penampakan Tuhan bagi orang-orang yang mengalami kasyf (keterbukaan tabir dari mata batin mereka), tapi lebih dari itu. Menurutnya, pengetahuan kasyf memberi informasi bahwa alam adalah tajalli Tuhan dalam bentuk yang beraneka ragam, sesuai dengan ide-ide tetap (tentang alam) dalam ilmu Tuhan. Bentuk tajalli dengan tajalli yang lain tidak pernah persis sama, bentuk suatu tajalli tidak pernah berulang, dan tajalli itu akan berlangsung terus tanpa henti. Ajaran Ibn Arabi tentang alam sebagai tajalli Tuhan, bila dikaitkan dengan pengajarannya tentang tasybih dan tanzih, niscaya tidak bisa dipahami dengan pengertian bahwa Tuhan menampakkan diri-Nya secara langsung atau dengan pengertian bahwa Dia berkembang sedemikian rupa sehingga mengaktual menjadi alam dengan bentuk-bentuknya yang beraneka ragam. Pengertian seperti ini bertentangan dengan ajaran tasybih dan tanzih.
Takhalli juga dapat diartikan mengosongkan diri dari sifat ketergantungan terhadap kelezatan duniawi. Hal ini akan dapat dicapai dengan jalan menjauhkan diri dari kemaksiatan dalam segala bentuknya dan berusaha melenyapkan dorongan hawa nafsu jahat. Menurut kalangan sufi, kemksiatan dapat dibagi dua ; pertama maksiat lahir yaitu sifat tercela yang dikerjakan oleh anggota lahir seperti tangan, mulut dan mata. Sedangkan maksiat batin ialah segala sifat tercela yang diperbuat anggota batin yaitu hati. Menurut al-Ghazali moral adalah setiap hal yang mengangkat jiwa dan kehidupan menuju cahaya dan kesucian. Sedangakan kejelekan adalah semua hal yang merusak tubuh jiwa serta akal dan menjauhkan ruh dari cahaya dan kesucian. Al-Ghazali mengajak untuk tidak menjilat dalam mencari rezeki, menghilangkan keinginan kuat untuk meraih kenikmatan hidup dan membawa jiwa untuk menuju keindahan-keindahan hidup. Al-Ghazali meremehkan harta, pangkat dan kedudukan jika dalam membela sikap yang demikian terdapat sifat yang menggerogoti moral yang lurus. Al-Ghazali menyerukan untuk menahan jiwa, akal dan tangan dari ketamakan-ketamakan hidup, kenikmatan-kenikmatan hina, kemuliaan palsu dan pertarungan yang batil.
Tahalli, sebagai tahap kedua berikutnya, adalah upaya pengisian hati yang telah dikosongkan dengan isi yang lain, yaitu Allah (swt). Pada tahap ini, hati harus selalu disibukkan dengan dzikir dan mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, melepas selain-Nya, akan mendatangkan kedamaian. Tidak ada yang ditakutkan selain lepasnya Allah dari dalam hatinya. Hilangnya dunia, bagi hati yang telah tahalli, tidak akan mengecewakan. Waktunya sibuk hanya untuk Allah, bersenandung dalam dzikir. Pada saat tahalli, lantaran kesibukan dengan mengingat dan berdzikir kepada Allah dalam hatinya, anggota tubuh lainnya tergerak dengan sendirinya ikut bersenandung dzikir. Lidahnya basah dengan lafadz kebesaran Allah yang tidak henti-hentinya didengungkan setiap saat. Tangannya berdzikir untuk kebesaran Tuhannya dalam berbuat. Begitu pula, mata, kaki, dan anggota tubuh yang lain. Pada tahap ini, hati akan merasai ketenangan. Kegelisahannya bukan lagi pada dunia yang menipu. Kesedihannya bukan pada anak dan istri yang tidak akan menyertai kita saat maut menjemput. Kepedihannya bukan pada syahwat badani yang seringkali memperosokkan pada kebinatangan. Tapi hanya kepada Allah. Hatinya sedih jika tidak mengingat Allah dalam setiap detik.
Tajali merupakan istilah tasawuf yang berarti ”penampakan diri Tuhan” yang bersifat absolut dalam bentuk alam yang bersifat terbatas. Istilah ini berasal dari kata tajalla atau yatajalla, yang artinya “menyatakan diri”. Tajali merupakan poin poros dalam pemikiran Ibn ’Arabi. Sebenarnya, konsep tajali adalah pijakan dasar pandangan Ibnu Arobi mengenai realitas. Semua pemikiran Ibn ’Arabi mengenai struktur ontologis alam berkisar pada poros ini, dan dari situ berkembang menjadi sistem kosmik berjangkauan luas. Tidak ada bagian dalam pandangan Ibnu Arobi tentang realitas yang bisa dipahami tanpa merujuk pada konsep utama ini. Keseluruhan filsafatnya, secara ringkas, adalah teori tajali.
Bagi Ibn Arabi pengertian tajalli tidak terbatas pada penampakan Tuhan bagi orang-orang yang mengalami kasyf (keterbukaan tabir dari mata batin mereka), tapi lebih dari itu. Menurutnya, pengetahuan kasyf memberi informasi bahwa alam adalah tajalli Tuhan dalam bentuk yang beraneka ragam, sesuai dengan ide-ide tetap (tentang alam) dalam ilmu Tuhan. Bentuk tajalli dengan tajalli yang lain tidak pernah persis sama, bentuk suatu tajalli tidak pernah berulang, dan tajalli itu akan berlangsung terus tanpa henti. Ajaran Ibn Arabi tentang alam sebagai tajalli Tuhan, bila dikaitkan dengan pengajarannya tentang tasybih dan tanzih, niscaya tidak bisa dipahami dengan pengertian bahwa Tuhan menampakkan diri-Nya secara langsung atau dengan pengertian bahwa Dia berkembang sedemikian rupa sehingga mengaktual menjadi alam dengan bentuk-bentuknya yang beraneka ragam. Pengertian seperti ini bertentangan dengan ajaran tasybih dan tanzih.
MACAM-MACAM AHWAL
3.1.1. Muraqabah
Secara literal, muraqabah berrti menjaga atau mengamati
tujuan. Sedang secara terminologis, berarti melestarikan pengamatan kepada
Allah dengan hatinnya. Sehingga manusi mengamati pekerjaan dan hukum-hukum-Nya,
dan dengan penuh perasaan-Nya. Allah melihat dirinya dalam gerak dan diam-Nya.
Menurut al-Qusyairi, muraqabah adalah keadaan mawas diri
kepada Allah dan mawas diri juga berarti adannya kesadaran sang hamba bahwa
Allah senantiasa melihat dirinnya. Sang hamba, lanjut al-Qusyairi, hanya akan
sampai kepada muraqabah ini setelah sepenuhnya melakukan perhitungan dengan
dirinnya sendiri mengenai apa yang telah terjadi di masa lampau, memperbaiki
keadannya di masa kini, tetap teguh di jalan yang benar, menperbaiki
hubungannya dengan Allah sepenuh hati, menjaga diri agar setiap saat senantiasa
ingat kepada Allah, taat kepada-Nya dalam segala kondisi. Baru,setelah ini
semua dilakukan, Allah melihat perbuatannya dan mendengar perkataannya.
Muraqabah menurut al-Sarraj, adalah kesadaran rohani sang
hamba bahwa Allah senantiasa mengawasinnya. Selanjutnya tentang muraqabah ini,
al-Sarraj menunjuk ungkapan al-Darani yang menyatakan bagaiamana mungkin
tersembunyi bagi Allah apa-apoa yang ada di dalam hati, tak ada di dalam hati
kecuali apa yang telah Allah berikan kedalamnya.
Menuru al-Sarraj, ahli muraqabah itu dalam muraqabahnya terbagi atas tiga
tingakatan.
a. Tingkatan Pertama
Adalah tingkatan ibtida’. Kelompok ini seperti yang disebut Hasan ibn ‘Ali
al-Damaghani bahwa bagi sang hamba hendaknya senantiasa menjaga rahasia-rahasia
hati karana Allah selalu mengawasi setiap apa-apa yang tersirat dalam
batin.
b. Tingkatan Kedua
Dalam muraqabah di tunjukkan oleh ibn ‘Atha yang mengatakan, “Sebaik-baik
kalian adalah yang senntiasa mengawasi Yang Haq dengan Yang Haq di dalam fana’
kepada selain yang haq dan senantiasa mengikuti nabi Muhammad SAW. Dalam
perbuatan, akhlak dan adabnya. Artinya, sang hamba memilki kesadaran penuh
bahwa sebaik pengawasan adalah pengawasan Allah, tidak nsedikitpun terbesit
adannya pengawasan yang lain , dan bagi hamba hendaknya ia lebur bersama-Nya.
c. Tingkatan Ketiga
Dari ahli muraqabah adalah hal-al kubara’ (orang-orang agung), yakni mereka
yang senantiasa mengawasi Allah dan meminta kepada-Nya untuk menjaga mereka
dalam muraqabah dan Allah sendiri sudah menjamin secara khusus hamba-hamba-Nya
yang mulia itu untuk tidak mempercayakan mereka dan segala kondisi mereka
kepada selain diri-Nya, dan hanya Allah saja yang melindungi mereka, seperti
firman-Nya,
“Sesungguhnya pelindungku ialahlah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al
Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh”. (QS. Al-A’raf:196).
3.1.2. Qurb
Secara literal, qurb berarti dekat darinnya dan
kepadanya. Menurut sari al-saqathi, qurb(mendekatkan diri kepada Allah) adalah
taat kepada-Nya. Sementara ruwaym ibn Ahmad ketika ditanya tentang qurb,
menjawab, “menghilangkan setiap hal yang merintangi dirimu untuk bersama-Nya.
Dalam pandangan al-sarraj, qurb adalah penyaksian sang hamba dengan hatinya akan kedekatan Allah kepada-Nya, maka ia mendekat kepada Allah dengan ketaatanya, dan mengerahkan segala keinginannya kepada Allah semata dengan cara mengingatnya secara kontinu baik pada keramaian maupun dikala sendiri. Kedekatan allah kepada hambanya banyak disebut dalam firmanNya seperti:
·
“
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa
apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala
perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada
dalam kebenaran”. (QS.Al-Baqarah:186)
Menurut Al-Sarraj Qurb ada tiga tingkatan yaitu:
a. Tingkatan pertama dari tiga
tingkatan orang-orang mendekaat kepada Allah adalah orang-orang yang berjuang
mendekati Allah dengan berbagai macam ketaatan karena mereka memiliki
pengetahuan yang diberikan oleh Allah, mengetahui kedekatan dan kekuasaan Allah
kepada mereka.
b. Tingkatan kedua adalah orang yang
sudah sempurna dengan keadaan tingakat pertama. Artinnya dengan ketaatan dan
ilmunya tentang Allah ia yakin merasa melihat dan dekat kepada Allah.
c. Tingkatan ketiga adalah
kelompok kaum agung dan kaum akhir (hal al-Kubara wa ahl al-Nihayah). Kondisi
qurb mereka seperti yang dicewritakan oleh Husyan al-Nuri. Ia menjelaskan dalam
pandangan kaum sufi, teman sejati adalah Allah dan bukan yang lain. Kedekatan
kepada Allah jauh lebih baik daripada kedekatan sepasang sahabat. Dan kedekatan
sepasang sahabat boleh jadi itu artinnya semakin jauhnya hamaba dari Allah.
3.1.3. Mahabbah
Mahabah secara literal mengandung beberapa pengertian
sesuai dengan beberapa pengertian sesuai dengan asal pengambilan katannya.
Mahabbah berasal dari kata hibbah, yang berarti benih yang jatuh ke bumi,
karena cinta adalah sumber kehidupan sebagaimana benih menjadi sumber tanaman.
Dalam prespektif tasawuf, mahabbah bisa di telusuri
maknanya menurut pandangan para sufi. Menurut al-Junaid, cinta adalah
kecenderungan hati. Yakni hati cenderung kepada tuhan dan apa-apa yang
berhubungan dengan-Nya tanpa usaha. Cinta, menurut pemuka sufi lain, adalah
mengabdikan diri kepada yang dicintainnya. Ali al-Kattani juga memandang cinta
sebagai menyukai kepada apa yang disenanginya dan apa-apa yang datang dari yang
dikasihinnya.
Mahabbah ini, disebut Allah dalam beberapa ayatnya:
· (QS. alHai
orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya,
maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan
merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin,
yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah,
dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia
Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya),
lagi Maha Mengetahui. (Qs. al-Ma’idah:54)
·
(QKatakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang. (Qs. al-Ali’Imran:31)
·
(Qs.Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan
selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun
orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya
orang-orang yang berbuat zalim itu[106] mengetahui
ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan
Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka
menyesal). (Qs. al-Baqarah:165)
Mahabbbah mempunyai tiga tingkatan
a. Tingkatan pertama ini pada
intinnya mengandung 3 hal yakni
o Mengerahkan ketaatan pada Allah dan membenci sikap
melawan kepada-Nya
o Menyerahkan diri kepada sang kekasih secara total
o Mengosongkan hati dari segala sesuatu yang dikasihi.
b. Tingkatan kedua
Adalah pandangan hati, keagungan, pengetahuan, dan kekuasaan-Nya. Itulah
cinta orang yang jujur kepada Allah dan orang yang telah menemukan
kebenaran dan pengetahuan sejati tentang tuhan.
c. Tingkatan ketiga
Adalah cintannya orang yang bersikap benar kepada Allah (shiddiqun) dan
orang yang mengenal Allah dengan mata hatinnya (arifin).
3.1.4. Khawf
Menurut al-Qusyairi takut kepada Allah berarti takut
kepada hokum-Nya. “Maka takutlah Kepada-Ku jika kalian orang-orang yang
beriman.”
Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang
menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy),
karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika
kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. Ali-Imran : 175).
Khawf atau takut, adalah masalah yang berkaitan dengan
kejadian yang akan datang, sebab seseorang hanya merasa takut jika apa yang
dibenci tiba dan yang dicintai sirna. Dan kenyataan itu hanya terjadi di masa
mendatang.
Al-Ghozali memandang khawf sebagai hati yang sakit dan terbakar karena adanya bayangan atau imajinasi tentang sesuatu yang dibenci di masa mendatang. Abu Hafs menerangkan bahwa takut adalah cambuk Allah yang digunakan-Nya untuk menghukum manusia yang berontak keluar dari ambang pintu-Nya. Takut adalah pelita hati. Dengan takut akan tampak baik dan buruk hati seseorang. Abu Umar Al Dimasyqi menegaskan bahwa orang yang takut adalah yang takut akan dirinya sendiri melebihi rasa takutnya kepada musuh. Abu Al Qasim Al Hakim memandang orang yang takut kepada sesuatu akan lari darinya, sedang orang yang takut kepada Allah akan lari kepada-Nya. Ahmad Al Nuri menegaskan seseorang yang takut adalah yang lari dari Tuhannya kepada Tuhannya. Syah Al kirmani berpendapat tanda rasa takut adalah sedih yang terus-menerus dan menurut sufi lain, tanda rasa takut adalah kebingungan dan menunggu-nunggu di pintu gerbang keghaiban.
Al-Ghozali memandang khawf sebagai hati yang sakit dan terbakar karena adanya bayangan atau imajinasi tentang sesuatu yang dibenci di masa mendatang. Abu Hafs menerangkan bahwa takut adalah cambuk Allah yang digunakan-Nya untuk menghukum manusia yang berontak keluar dari ambang pintu-Nya. Takut adalah pelita hati. Dengan takut akan tampak baik dan buruk hati seseorang. Abu Umar Al Dimasyqi menegaskan bahwa orang yang takut adalah yang takut akan dirinya sendiri melebihi rasa takutnya kepada musuh. Abu Al Qasim Al Hakim memandang orang yang takut kepada sesuatu akan lari darinya, sedang orang yang takut kepada Allah akan lari kepada-Nya. Ahmad Al Nuri menegaskan seseorang yang takut adalah yang lari dari Tuhannya kepada Tuhannya. Syah Al kirmani berpendapat tanda rasa takut adalah sedih yang terus-menerus dan menurut sufi lain, tanda rasa takut adalah kebingungan dan menunggu-nunggu di pintu gerbang keghaiban.
Ibnu Qoyyim memandang khawf sebagai perasaan bersalah
dalam setiap tarikan nafas. Perasaan bersalah dan adanya ketakutan dalam hati
inilah yang menyebabkan orang lari menuju Allah. Untuk memunculkan rasa beralah
seseorang harus mengingat dosa-dosa yang pernah dilakukan sambil merasa
khawatir kalau-kalau Allah tidak mengampuninya, khawatir kalau-kalau masih
tergoda setan dalam setiap desahan nafasnya. Dengan perasaan seperti ini sang
sufi akan berusaha agar sikap dan perilakunya tidak menyimpang dari yang
dikehendaki Allah.
Dalam pandangan Al Sarraj, Khawf (takut) senantiasa
bergandengan dengan Mahabbah (cinta). Keduanya tidak bisa dipisahkan dan masih
dalam bingkai qurb (kedekatan). Qurb membutuhkan dua kondisi. Pertama, dalam
hati sang hamba yang dominan adalah rasa takutnya. Kedua, dalam hati sang hamba
yang dominan adalah rasa cintanya. Hal itu terjadi karena Allah memberikan
kepada hati sebuah kepercayaan, keyakinan yang kuat, dan rasa takut kepada
Allah.Khawf itu menurut Al Sarraj dibagi menjadi tiga tingkatan :
a. Takutnya orang awam.
b. Takutnya orang-orang pertengahan.
c. Takutnya kaum Khushus (khusus)
Khawf berkaitan dengan raja’. Seorang hamba yang dekat
dan intim dengan Allah akan merasa ketakutan yang luar biasa kepada-Nya. Takut
akan ancaman dan siksa-Nya, takut berpisah, dijauhi oleh-Nya, sehingga terputus
dari rahmat-Nya dan hilang rasa nikmat bersama-Nya. Namun pada saat bersamaan
sang hamba juga merasakan raja’, harapan yang besar akan limpahan dan ampunan,
kasih sayang, dan karunia Allah.
3.1.5. Raja’
Raja’ atau harapan menurut Al Qusyairi adalah keterpautan
hati kepada sesuatu yang diinginkannya terjadi di masa yang akan datang,
seperti halnya takut juga berkaitan dengan apa yang akan terjadi dimasa datang.
Hati menjadi hidup oleh harapan-harapan akan lenyapnya beban di hati. Harapan
adalah melihat kegemilangan Ilahi dengan mata keindahan. Harapan adalah
kedekatan hati kepada kemurahan Tuhan. Harapan berarti melihat pada kasih
sayang Allah Yang Maha Meliputi. Al Ghazali memandang Raja’ sebagai senangnya
hati karena menunggu Sang Kekasih datang kepadanya. Khawf dan Raja’ adalah dua
kata yang senantiasa bergandengan dan tidak akan terputus, jika terputus bukan
Khawf dan Raja’ namanya. Jika seseorang berkata, “Aku berharap terbitnya
matahari disaat terbit dan aku takut terbenamnya disaat terbenam.”, ucapan itu
menurut Al-Ghozali bukanlah Khawf dan Raja’ karena ada yang terputus. Tapi jika
ada yang mengatakan,” Aku berharap turun hujan dan aku takut berhentinya.”,
itulah ucapan yang menunjukkan keterpautan Khawf dan Raja’.
Abu Ali Al-Rudzbari memandang Khawf dan Raja’
seperti sepasang sayap burung. Apalabila takut dan harap keduanya tidak ada,
maka si burung akan terlempar ke jurang kematiannya. Raja’ berarti suatu sikap
mental optimism dalam memperoleh karunia dan nikmat ilahi yang disediakan bagi
hamba-hamba-Nya yang shaleh. Dalam pandangan Al Sarraj, Raja’ merupakan hal
yang mulia. Kemuliaan hal ini ditunjukkan dalam firman-Nya,
· ” Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah”. (QS. Al-Ahzab : 21).
· Firmannya
yang lain
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada
Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat
(kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya;
sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti”. (QS.
Al-Isra’ : 57)
Menurut Al-Sarraj Raja’ terdiri atas tiga bagian :
a. raja’ bersama Allah (fi Allah)
b. raja’ di dalam luasnya rahmat Allah
(fi sa’ati rahmat Allah)
c. raja’ di dalam pahala Allah (fi
tsawab Allah).
3.1.6. Syawq
Secara literal, syawq berarti lepasnya jiwa dan
bergeloranya cinta. Menurut Suhrawardi, syawq merupakan bagian-bagian dari
mahabbah, seperti halnya zuhud bagian dari tobat. Jika mahabbah sudah mantab
akan tampak pula syawq. Menurut Abu Utsman siapa yang cinta kepada Allah dia
akan merindu hendak berjumpa dengan-Nya. Rasa rindu tak mungkin ada pada yang
mencinta. Sementara itu, Dzunun memandang syawq sebagai derajat atau maqom
tertinggi. Jika sang hamba sudah mencapai derajat Syawq ini mati rasanya mudah
dan ringan karena kerinduan kepada Tuhannya dan harapan hendak berjumpa
dengan-Nya.
Pengetahuan dan pengenalan yang mendalam terhadap Allah
akan menimbulkan rasa senang dan gairah. Rasa senang dan bergairah melahirkan
cinta dan akan tumbuh rasa rindu. Rindu ingin bertemu, hasrat akan selalu
bergelora agar selalu bersama Dia. Di setiap denyutan jantung, detak kalbu, dan
desah nafas, serta ingatan hanya kepada Allah, itulah Syawq (rindu).
Menurut Al Sarraj orang yang merindu itu terbagi atas
tiga golongan.
a. pertama adalah mereka yang
merindu kepada janji Allah atas para kekasih-Nya tentang pahala, karamah,
keutamaan, dan keridlaan-Nya.
b. Kedua, mereka yang rindu kepada kekasihnya
karena cintanya yang mendalam dan bersemayamnya rindu itu hendak bertemu dengan
kekasihnya.
c. Ketiga, mereka yang menyaksikan
kedekatan Allah terhadap dirinya, Allah senantiasa hadir tidak pernah pergi,
maka hatinya merasa senang walau hanya menyebut nama-Nya saja.
3.1.7. ‘Uns
Dalam tasawuf ‘Uns berarti keakraban atau keintiman
menurut Abu Sa’id Al Kharraj ‘Uns adalah perbincangn roh dengan Sang Kekasih
pada kondisi yangs sangat dekat. Dzunun memandang ‘Uns sebagai perasaan lega
yang melekat pada sang pencinta terhadap Kekasihnya. Salah seorang pemuka
thabi’in menulis surat kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz,”Hendaknya
keakrabanmu hanya dengan Allah semata dan putuskan hubungan selain
dengan-Nya.”. Menurut Al-Sarraj, ‘Uns bersama Allah bagi seorang hamba
adalah ketika sempurna kesuciannya dan benar-benar bening zikirnya serta
terbebas dari segala sesuatu yang menjauhkannya dari Allah.
Orang-orang yang intim itu terbagi atas tiga tingkatan.
- Pertama, mereka yang merasa intim dengan sebab zikir dan jauh dari
kelalaian, merasa intim dengan sebab ketaatan dan jauh dari dosa.
- Kedua, Ketika sang hamba sudah sedemikian intim bersama Allah dan jauh
dari apapun selain-Nya, yakni pengingkaran-pengingkaran dan
bisikan-bisikan yang menyibukkannya.
- Ketiga adalah hilangnya pandangan tentang ‘Uns karena ada rasa segan,
kedekatan dan keagungan bersama ‘Uns itu sendiri. Maksudnya sang hamba
sudah tidak melihat ‘uns itu sendiri.
3.1.8. Thuma ‘Ninah
Secara literal,
Thuma’ninah berarti tenang tentram, tidak ada perasaan khawatir atau was-was,
tak ada yang dapat ,mengganggu perasaan dan pikiran, karena ia telah mencapai
tingkat kebersihan jiwa yang paling tinggi. Thuma’ninah menurut Al-Sarraj
adalah hal yang paling tinggi. Thuma’ninah bagi sang hamba berarti kuat
akalnya, kuat imannya, dalam ilmunya, bersih ingatannya dan kokoh realitasnya
(haqiqat). Beberapa firman Allah tentang Thuma’ninah, diantaranya:
·
”Ya” (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati
menjadi tenteram.”(QS. Al-Ra’du:28)
·
“Wahai jiwa yang tenang”(QS. Al-Fajr:27)
Thuma’ninah terbagi menjadi 3 tingkatan.
- Pertama adalah kaum awam. Mereka merasa tenang jika menyebut-Nya.
- Kedua, Kelompok khushus(khusus). Mereka tenang karena rela dengan
ketetapan-Nya, sabar dengan , musibah-Nya, bertakwa, ikhlas, dan damai.
- Ketiga, kelompok istimewa (khusus al khusus) mereka mengetahui bahwa
rahasia-rahasia yang ada pada mereka tidak akan mampu membuat tenang
kepada-Nya, karena rasa agung dan segan yang hinggap dihati mereka.
Menurut mereka, Allah tidak memiliki akhir yang mungkin dicapai.
3.1.9. Musyahadah
Dalam perpektif tasawuf, musyahadah berarti melihat Tuhan
dengan mata hati, tanpa keraguan sedikitpun, bagaikan melihat-Nya dengan mata
kepala. Hal ini berarti bahwa dalam tasawuf, seorang sufi dalam keadaan
tertentu akan dapat melihat Tuhan dengan mata hatinya. Sehingga boleh jadi,
hanya bagi mereka, Tuhan itu dapat dilihat. Hal ini misalnya tertera dalam
permohonan Nabi Musa as untuk melihat Tuhan, ”Musa berkata : Ya Tuhanku
perlihatkanlah (diri-Mu) kepadaku, agar aku dapat melihat-Mu.” (QS. Al-Khaf :
143). Para Sufi juga meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW dapat melihat Tuhan
ketika melakukan Mi’raj.
Menurut Al Sarraj, musyahadah adalah hal yang tinggi, ia
merupakan gambaran-gambaran yang menambah hakikat keyakiinan. Tingginya hal
Musyahadah ini ditunjukkan oleh firman Allah,
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi
orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang
dia menyaksikannya”. (QS. Qaf :37). Menyaksikan dalam ayat ini berarti
menghadirkan hati atau kesaksian hati bukan dengan mata.
Hal Musyahadah ini dapat dikatakan merupakan tujuan akhir
dari tasawuf, yakni menemukan puncak pengalaman rohani kedekatan seorang hamba
dengan Allah. Menurut Al sarraj ahli Musyahadah terbagi atas tiga
tingkatan.
- Tingkat pertama, adalah kelompok Al Ashagir (pemula), yakni mereka
yang berkehendak.
- Tingkat kedua, kelompok pertengahan (Al-Awsath). Dalam pandangan
kelompok ini Musyahadah berarti bahwa ciptaan aa pada genggaman Yang Haq
dan pada kerajaan-Nya.
- Tingkat ketiga seperti yang diterangkan Al Makki, hati kaum arifin
ketika menyaksikan Allah sesungguhnya menyaksikan dengan kesaksian yang
kokoh.
3.1.10. Yaqin
Perpaduan antara pengetahuan yang luas dan mendalam
dengan rasa cinta dan rindu yang bergelora bertaut lagi dengan perjumpaan
secara langsung, tertanamlah dalam jiwanya dan tumbuh bersemi perasaan yang
mantap, Dialah yang dicari itu. Perasaan mantapnya pengetahuan yang diperoleh
dari pertemuan secara langsung, itulah yang disebut dengan Al Yaqin. Yaqin
adalah kepercayaan yang kokoh tak tergoyahkan tentang kebenaran pengetahuan
yang ia miliki, karena ia sendiri menyaksikannya dengan segenap
jiwanya.
Keyakinan menurut Al Sarraj merupakan hal yang tinggi. Ia
adalah pondasi dan sekaligus bagian akhir serta pangkalan terakhir dari seluruh
ahwal. Dengan kata lain seluruh ahwal terletak pada keyakinan yang nampak
(Zahir) Puncak dari keyakinan ini diisyaratkan Allah dalam firman-Nya.
”Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda
(kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda”. (QS. Al
Hijr : 75).
”Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang
yakin.” (QS. Al-Dzariyat :20)
Lebih lanjut menurut Al sarraj seluruh ayat-ayat
Allah yang berbicara mengenai yaqin sesungguhnya terdiri atas tiga hal : Ilm
Al-yaqin, ‘ain Al yaqin, dan haq Al yaqin. Al Junaid berpandangan bahwa
keyakinan adalah tetapnya ilmu di dalam hati, ia tidak berbalik, tidak
berpindah, dan tidak berubah. Karena tetapnya keyakinan ini, nabi pernah
bersabda,”Sekalian makhluk nanti akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan mereka
ketika mati.” Maksudnya sesuai dengan keyakinan mereka ketika mati.
PENGERTIAN
TASAWUF IRFANI
Secara etimologis, kata
irfan merupakan kata jadian (masdhar) dari kata ‘arafa’ (mengenal/pengenalan).
Adapun secara terminologis, ‘irfan diidentifikasikan dengan ma’rifat sufistik.
Orang yang ‘irfat/ makrifat kepada Allah adalah yang benar-benar mengenal
Allah melalui dzauq dan kasyf (ketersingkapan). Ahli ‘irfan adalah yang
bermakrifat kepada Allah. Terkadang kata itu diidentifikasikan dengan sifat-sifat
inheren tertentu yang tampak pada diri seorang ‘arif (yang bermakrifat kemada
Allah), dan menjadi hal baginya. Dalam konteks ini, Ibn ‘Arabi berkata, ‘Arif
adalah seseorang yang memperoleh penampakan Tuhan sehingga pada dirinya tampak
kondisi-kondisi hati tertentu (ahwal). ‘Irfan diperoleh seseorang melalui jalan
al-idrak al-mubasyir al-wudjani (penangkapan langsung secara emosional), bukan
penagkapan langsung secara rasional. Pembicaraan tentang ‘irfan atau makrifat
dikalangan sufi dimulai sekitar abad III dan IV H. Tokoh sufi yang sangat
menonjol membicarakannya adalah Dzu An-Nun Al-Mishri (w. 245 H/859M). Sementara
Al-Ghazali diposisikan sebagai tokoh sufi yang pertama kali mendalaminya secara
intens.
Sebagai sebuah ilmu,
‘irfan memiliki dua aspek yakni aspek praktis dan aspek teoritis. Aspek
praktisnya adalah bagian menjelaskan hubungan dan penaggungjwaban manusia
terhadap dirinya, dunia dan Tuhan. Sebagai ilmu praktis, bagian ini menyerupai
etika. Bagian praktis ini juga di sebut syar wa suluk (perjalanan rohani).
Bagian ini menjelaskan bagaimana seorang penempuh rohani (salik) yang ingin
mencapai tujuan puncak kemanusiaan, yakni tauhid, harus mengawali perjalanan,
menempuh tahapan-tahapan (maqam) perjalanannya secara berturutan, dan keadaan
jiwa (hal) yang bakal dialami sepanjang perjalanannya tersebut.
Sementara itu, ‘irfan
teoritis memfokuskan perhatiannya pada masalah wujud (ontologi), mendiskusikan
manusia, serta Tuhan alam semesta. Dengan sendirinya, bagian ini menyerupai
teosofi (falsafah Illahi) yang juga memberikan penjelasan tentang wujud.
Seperti halnya filsafat, bagian ini mendefinisikan berbagai prinsip dan
problemnya. Namun, jika filsafat hanya mendasarkan argumennya pada
prinsip-prinsip rasional, ‘irfan mendasarkan diri pada ketersibakan mistik yang
kemudian diterjemahkan dalam bahasa rasional untuk menjelaskannya.
Di samping ada tasawuf
yang membahas moralitas yang terukur, seperti kejujuran, keikhlasan, dan
perkataan yang benar, yang dinamakan tasawuf akhlaqi, ada juga tasawuf yang
mempunyai tingkatan lebih tinggi lagi, yang di sebut tasawuf irfani. Tasawuf
irfani tidak hanya membahas soal keikhlasan dalam hubungaan antarmanusia,
tetapi lebih jauh menetapkan bahwa apa yang kita lakukan sesungguhnya tidak
pernah kita lakukan. Inilah tingkatan ikhlas yang paling tinggi.

No comments:
Post a Comment