Tuesday, May 12, 2020

Hiperrealitas media pembungkus derita massa

Dalam kondisi masyarakat modern ini, media memiliki suatu peranan penting dalam menampilkan sebuah realitas. Yang mana dalam penyebarannya tersebut nantinya akan diserap oleh konsumen yaitu masyarakat.




Kemudian oleh masyarakat realitas ini akan diterima dan dianggap sebagai suatu kebenaran informasi. Dan informasi yang ditampilkan ini ternyata adalah sebuah realitas semu.


Sebuah konsep yang dikemukakan oleh Jean Budrillard dimana sebuah realitas yang dalam konstruksinya tidak bisa dilepaskan dari produksi dan tanda-tanda yang melampaui realitas aslinya.

Konsep ini dinamakan konsep hiperrealitas. Yaitu suatu kondisi dimana kepalsuan bersatu dengan keaslian, masa lalu berbaur dengan masa kini, fakta bersimpang siur dengan rekayasa, tanda melebur dengan realitas, dusta bersenyawa dengan kebenaran.

Hiperrealitas menghadirkan model-model kenyataan sebagai sebuah simulasi bagi penikmatnya. Simulasi adalah sebuah proses dimana representasi atas dasar tanda-tanda tersebut justru menggantikan sebuah objek. Dan representasi disini menjadi hal yang jauh lebih penting daripada objek itu sendiri.


Terdapat empat kunci yang mendasari analisis Baudrillard yaitu simulasi, media massa, tanda, dan komunikasi. Namun dalam tulisan ini hanya akan membahas mengenai media massa.


Peran media massa dalam merepresentasikan sebuah realitas sangat besar. Istilah representasi sendiri menunjuk pada bagaimana seseorang, suatu kelompok, gagasan atau pendapat tertentu ditampilkan dalam suatu pemberitaan di media massa.


Hal ini seperti pada persoalan pembangunan Bandara Dhoho Kediri. Pembangunan ini diprakarsai oleh PT. Gudang Garam Tbk (GGRM) sebagai investor utama dengan modal hampir mencapai 10 trilyun. Bandara ini akan dibangun di sebanyak tiga kecamatan di Kediri yaitu Tarokan, Grogol, dan Banyakan.


Pembangunan ini membutuhkan area seluas 13.558 meter persegi di lahan seluas 400 hektar untuk runaway bandara yang berdimensi 2.400 m × 45 m dengan kapasitas mencapai 1,5 juta penumpang per tahun.


Dalam beberapa pemberitaan di media sangat mungkin ditemukan kesimpulan yang tidak setara antara yang ditampilkan di media dengan realita di lapangan. Karena media apapun tidak pernah lepas dari bias-bias, baik yang berkaitan dengan ideologi-politik, ekonomi sosial, dan budaya.


Termasuk pemberitaan yang menyatakan bahwa adanya bandara di Kediri nantinya dapat meningkatkan konektivitas antar daerah, membuka kesempatan kerja serta meningkatkan pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat.


Namun realitanya, masyarakat yang lahannya terdampak termasuk rumah dan ladang pertanian mengalami kemunduran dalam masalah perekonomian. Selain ganti untung yang diberikan oleh pihak pemerintah kurang sepadan, ditambah lagi masyarakat harus membangun kehidupan perekonomian di lokasi yang baru, menyelesaikan administrasi sekolah bagi anak mereka, dan alih profesi baru yang belum tentu lebih meningkatkan perekonomian dari profesi sebelumnya.


Tidak ada satu pun media yang memiliki independensi dan objektivitas absolut. Disini berita bukan merupakan cermin dan refleksi dari realitas, melainkan konstruksi dari realitas itu sendiri.


Misalnya, dalam pembahasan lahan pemerintah telah menyiapkan solusi bagi warga yang kurang mampu berdasarkan database desa dengan menyediakan lahan relokasi yang dilengkapi dengan beberapa fasilitas seperti pos kamling, sumur, dan sambungan listrik.


Pada realitanya, relokasi sendiri tidak disediakan dari pemerintah maupun pihak PT. Gudang Garam sebagai investor utama, melainkan melalui tanah milik perseorangan yang saat ini menjabat sebagai Kepala Desa Grogol, yaitu bapak Suparyono.


Memasuki tahun 2019-2020, warga terdampak yang belum membebaskan lahan hanya dibeli dengan harga 10,5 juta per rhu (15 m2) oleh Negara. Yang mana saat itu proyek pembangunan ini telah berubah menjadi Proyek Strategis Nasional (PSN) yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo pada Juli 2018 lalu. Padahal, sebelum proyek ini beralih mejadi PSN harga tanah dapat mencapai 15-20 juta per rhu dan apabila dibelikan tanah diluar daerah dapat mencapai 2 kali lipat.


Tentu saja warga enggan melepaskan tanahnya karena ganti untung dari pemerintah tidak seimbang. Padahal harapan warga harga tanah dapat dinaikkan lagi. Namun, menurut pemberitaan di media keyakinan warga semacam ini dianggap tidak masuk akal dan ditambah dengan adanya ancaman konsinyasi terhadap warga yang bersikukuh mempertahankan tanahnya.


Tidak hanya itu, selain ancaman konsinyasi warga juga kerap mendapat intimidasi oleh adanya tim 9. Tim 9 merupakan sebutan untuk gabungan dari perangkat desa, kecamatan, koramil, kodim, pengadilan, kejaksaan, pemerintah kabupaten, dan BDI/SDI yang melakukan intimidasi agar warga segera melepaskan tanahnya.


Media sebagai penyalur informasi hanya merepresentasikan realitas yang telah di konstruksi oleh penguasa, sehingga adanya intimidasi dari aparat negara tersebut tidak ditampilkan dalam pemberitaan.


Dari beberapa contoh ini dapat dianalisis bahwa penderitaan yang dirasakan oleh warga terdampak tidak direpresentasikan oleh media massa, melainkan hanya representasi positif dari perusahaan, pemerintahan, dan efek pembangunan bandara jangka kedepan.


Lebih dari itu, media massa tidak lagi menampilkan realitas yang sebenarnya, namun menampilkan hiperrealitas. Fakta yang dirasakan oleh warga terdampak pembangunan Bandara Dhoho Kediri telah berhasil di rekayasa dan direkonstruksi melalui pemberitaan di media massa.


Sehingga masyarakat yang tidak mengetahui realitas aslinya tentu sudah mengkonsumsi informasi ini dan memberi apresiasi positif tanpa memikirkan nasib warga terdampak.


Hiperrealitas yang dihadirkan oleh media massa menjadi acuan utama bahkan dianggap sebagai realitas itu sendiri. Sedangkan realitas utamanya perlahan-lahan hilang ataupun blur.


Masyarakat sebagai konsumen informasi dari media seolah-olah meyakini bahwa yang nyata adalah pembangunan bandara akan membawa kemajuan untuk Daerah Kediri, meningkatkan perekonomian warga, dan meningkatkan investasi negara, sedangkan realitas utamanya yaitu penderitaan dan ketidakadilan serta intimidasi yang dirasakan oleh warga terdampak menjadi hilang.


Disisi lain, manfaat pembangunan bandara yang masih berada jauh didepan inilah yang ingin ditampilkan oleh media massa sebagai hiperrealitas. Sehingga dapat dikatakan bahwa realitas asli telah runtuh  disebabkan oleh representasi yang diciptakan oleh media massa.


(wnhlc)




No comments:

Post a Comment