Dalam mempelajari sebuah pemikiran dan pemahaman baru, saya rasa setiap orang pasti memiliki alasan yang berbeda-beda, termasuk pemikiran perempuan. Dalam tulisan ini saya akan membahas alasan saya mengapa ingin mengikuti Sekolah Pemikiran Perempuan. Dalam mengambil sebuah tindakan, tentu ada suatu kejadian atau fenomena yang menjadi dasar dan melatarbelakangi seseorang dalam mengambil sebuah tindakan.
Tentu saya akan menjelaskan fenomena/kejadian yang terjadi di masa lampau sehingga menyebabkan saya harus melakukan sebuah tindakan hari ini, yaitu mempelajari pemikiran perempuan.
Dalam benak saya muncul banyak pertanyaan
diantaranya: mengapa pemikiran perempuan harus dipelajari dan diketahui?
Mengapa perempuan harus mengetahui sejarahnya? Apa yang telah terjadi pada
perempuan? Mengapa hingga hari ini masih terdapat banyak Gerakan yang
memperjuangkan hak-hak perempuan? Apa yang menjadi latarbelakang Gerakan ini?
Hal apa yang sesungguhnya telah menimpa perempuan?? hingga hari ini diluar sana
saudara-saudara perempuan saya masih banyak yang menyuarakan ketidakadilan,
ketertindasan, dan pelecehan yang mereka alami.
Pertanyaan-pertanyaan itu terus-menerus
muncul dan menghantui otak saya. Sebagaimana yang kita ketahui pada sejarah
masa lalu dalam budaya patriarki dan misogini, perempuan tidak memiliki peran
dalam sejarah karena mereka dianggap makhluk yang rendah dan manusia kelas dua
karena dunia ini milik laki-laki. Perempuan tidak memiliki fungsi selain dalam
urusan rumah tangga dan melayani laki-laki. Itu sebabnya pada saat itu
perempuan tidak perlu berpendidikan dan tidak boleh memegang kekuasaan apalagi
bertakhta dalam kerajaan atau pemerintahan.
Karena budaya patriarki yang terus menerus
berkembang pada saat itu, narasi sejarah mencatat pada pertengahan abad ke-19
mulai muncul Gerakan perempuan pertama di Amerika yang menuntut emansipasi dan
penghapusan diskriminasi hak pada perempuan. Titik perjuangan mereka bertemu
pada sebuah misi dan cita-cita yang sama yaitu mendapatkan perlakuan, peran, hak,
dan keadilan yang sama seperti laki-laki. Mereka memperjuangkan kesetaraan yang
mana pada saat itu hubungan antara laki-laki dan perempuan selalu diwarnai
dengan ketidakseimbangan yang dialami perempuan. Tuntutan inilah yang kemudian
menjadi dasar dari Gerakan perempuan di berbagai belahan dunia lain yang hari
ini kita kenal dengan istilah feminisme.
Seperti yang kita ketahui hingga hari ini,
masih banyak saudara-saudara perempuan kita diluar sana yang tidak seberuntung
kita. Masih banyak diantara mereka menjadi korban kekerasan seksual baik di
ruang maya ataupun nyata. Masih banyak diantara mereka yang secara tidak sadar
menjadi korban stereotype masyarakat di lingkungannya dan terhegemoni oleh
standar-standar yang diciptakan media dalam menindas eksistensi dan
memarjinalkan perempuan.
Dari sinilah saya menganggap otak dan
kesadaran saya seperti memberi peringatan tanda bahaya: bahwa saya, sebagai
perempuan harus mengetahui sejarah gerakan perempuan, pemikiran mereka, dan
perjuangan yang dilakukan mereka hingga hari ini untuk mempertahankan
eksistensinya. Apakah semua perempuan telah mendapatkan hak, keadilan dan
kebebasan yang sama? Apakah semua perempuan pada hari ini sudah mendapatkan
ruang aman? Apakah perempuan hari ini sudah mendapatkan peran yang sama seperti
laki-laki?? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang memberangkatkan jiwa raga saya
secara alamiah untuk mempelajari pemikiran perempuan. Saya harus melakukan
sebuah tindakan untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan saya
sendiri. Saya harus mendapatkan pengetahuan dari narasi sejarah tentang semua
peristiwa yang dialami oleh perempuan. sehingga pada hari ini pun, apabila saya
telah mendapatkan itu semua, saya merasa diri saya terpanggil untuk
membagikannya kepada saudara-saudara perempuan saya diluar sana. Dalam
pengetahuan yang saya miliki terdapat hak mereka juga, sehingga saya harus
membagikannya kepada sesama perempuan. Agar perjuangan dan pergerakan mereka mendapatkan
hasil yang baik, yaitu dapat mensejahterakan semua umat manusia di bumi,
khususnya perempuan.
No comments:
Post a Comment