Friday, March 27, 2026

Perjalanan MengASIhi, Sebagai Ayah dan Ibu

 

Siapa bilang perjalanan mengASIhi itu hanya sekedar antara Ibu dan bayi? Kenyataannya, mengasihi itu antara Ayah, Ibu, baru kemudian dapat berhasil memberikan ASI yang terbaik kepada bayi, anak kita.

Perjalanan MengASIhi itu dimulai dari niat dan mindset. Hal ini adalah keputusan bersama yang dibuat oleh Ayah dan Ibu. Seorang Ibu tidak akan berhasil berjuang sendiri memberikan ASI tanpa ada dukungan dan bantuan dari Ayah sang bayi.

Perjuangan memberikan ASI tidak bisa dibilang mudah, tapi sulit juga tidak terlalu. Berhasil memberikan ASI menurutku adalah sebuah keterampilan, baik secara biologis dan juga praktis.

Sejatinya semua perempuan memang tubuhnya didesan sedemikian ajaib oleh Tuhan hingga dapat memproduksi manusia kecil yang dilahirkan dari rahimnya, hingga memproses kantong-kantong kecil dari dalam payudaranya hingga mengeluarkan cairan putih manis yang juga tak kalah ajaib bernama ASI.

Semua ini memang diberikan secara merata oleh Tuhan di tubuh perempuan. Tinggal bagaimana nanti teknik dan praktiknya dilakukan agar ASI dapat produktif dan keberhasilan menyusui bayi selama dua tahun bisa tercapai.

Aku pun belum berhasil menyusui selama dua tahun, saat ini masih berjalan selama kurang lebih 17 bulan. Namun hal ini adalah pencapaian yang sangat kami apresiasi dalam kehidupan kami. Berhasil memberikan ASI, sebuah gizi terbaik untuk anak adalah impian setiap perempuan, terlebih pasangan.

Dukungan dari pasangan nomor satu. Kemudian mindset dan niat secara praktik harus diikuti dengan konsistensi yang luar biasa. 

Tidak ada yang gagal mengASIhi, kecuali kita sendiri yang terburu-buru menyentuh sufor karena kurang sabar menunggu aliran ASI yang tidak langsung deras seketika bayi baru lahir ke dunia.

Faktanya, dewasa ini banyak sekali parents yang kurang sabar menanti ASI keluar pasca melahirkan. Banyak yang tidak mau menunggu lama, bahkan 12 hingga 24 jam ASI belum keluar sudah dilabeli dengan "ASI seret". 

Padahal semua ibu baru membutuhkan stimulasi dari air liur bayinya ke puting agar sel otak menangkap rangsangan kebutuhan bayi akan ASI. Dengan begitu otak akan merespons tubuh dan bekerja keras menyediakan ASI. Tapi itu semua butuh proses, dan waktu yang tidak sebentar --- katakanlah 3-4 bahkan 7 hari. 

Dari pengalamanku sendiri aku butuh waktu hingga 7 hari sampai ASI ku benar-benar keluar berbentuk susu. Bahkan di awal keluar warnanya saja masih berupa cairan bening. Proses ini memang tidak mudah di awalnya.

Masa postpartum yang berat, tubuh yang sakit butuh pemulihan, bayi yang terus menangis sepanjang malam butuh dekapan, perlu dikenalkan dengan ASI yang belum kunjung keluar. Percayalah malam malam ini akan terasa sangat berat.

Tapi ingatlah ini semua tidak akan berlangsung lama setiap hari. Bayi akan terus tumbuh, begitu juga dengan Ayah dan Ibu. Kekompakan, kerjasama, saling dukung dan bantu itu semua solusinya. 

Ibu tidak akan berhasil menyusui tanpa bantuan tangan kekar Ayah yang membantu menggendong saat tubuh ibu masih dalam proses pemulihan pasca melahirkan. Begitu praktiknya.

Ibu juga semakin sering lapar karena produksi ASI di masa awal bayi baru lahir terus meningkat karena takutnya tubuh bayi mengalami dehidrasi. Disitu membutuhkan Ayah yang sigap mengambilkan dan menyuapi makan. Selalu menyediakan air mineral untuk Ibu menyusui baru yang selalu merasa kehausan.

Perjalanan ini memang berat dan tak pernah mudah. Keputusan memberikan ASI secara konsisten juga penting karena pertimbangan manfaat untuk anak di masa depan. Itulah kenapa aku mencoba membagikan cerita ini, yang semoga di masa mendatang dapat kembali aku renungi sebagai bagian dari perjuangan kami menjadi Ayah dan Ibu yang bahagia dengan hadirnya buah hati kami.

No comments:

Post a Comment