Monday, November 13, 2017

Makalah Islam dan Globalisasi


A.    Latar belakang
Islam menurut bahasa berasal dari bahasa arab, yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima selanjutnya diubah menjadibentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian. Oleh karena itu orang yang berserah diri, patuh, dan taat kepada Allah SWT disebut sebagai orang muslim. Dari uraian di atas bisa diambil kesimpulan bahwa islam menurut bahasa ialah patuh, berserah diri, dan taat kepada Allah SWT.
Dalam makna istilah, islam sebagai agama yang ajaran-ajarannya  diwahyukan oleh Allah kepada masyarakat melalui Nabi Muhammad SAW. Menurut Maulana Muhammad Ali,islam adalah agama pendamaian dan dua ajaran pokoknya, yaitu keesaan Allah dan kesatuan atau persaudaraan umat islam menjadi bukti nyata bahwa agama islam itu selaras pada namanya.
Menghadapi peradaban dunia islam secara keseluruannya berada dalam tatanan global yang mendasar dipengaruhi oleh perkembangan teknologi komunikasi. Transportasi, dan informasi semuanya ini membuat dunia semakin global dan sempit karena mudanya dijangkau.[1]Dan inilah yang disebut fenomena “globalisasi”, yang secara sederhana bisa dipahami sebagai suatu proses pengintegrasian budaya, politik, ekonomi, dan informasi nasional bangsa-bangsa ke ruang lingkup dan tatanan baru sistem jaringan dunia (global).[2]



B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian Islam dan Globalisasi?
2.      Sebutkan karakteristik Islam?
3.      Sebutkan karakteristik Globalisasi?
4.      Apa pengertian Modernisme?
5.      Apa pengertian Puritanisme?

C.    Manfaat  dan tujuan
1.      Mengetahui dari Islam dan Globalisasi
2.      Mengetahui dari karakteristik Islam
3.      Mengetahui dari karakteristik Globalisasi
4.      Mengetahui dari Modernisme
5.      Mengetahui dari Puritanisme.




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Islam Dan Globalisasi
Secara etimologi, islam berasal dari bahasa arab, yaitu salima yang mengandung arti selamat, damai dan sentosa. Dari kata salima, selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk kedamaian.[3]Islam adalah agama Allah SWT.yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, untuk diajarkan dan disampaikan kepada Umat-Nya.
Adapun globalisasi berasal dari kata “global”. Globalisasi (globalization) merupakan proses menuju arah global. Arti global adalah menyeluruh atau menyatu, dari berbagai unsur menjadi satu.
Globalisasi adalah era global/modern bahwa dunia ini terasa seperti kampung kecil. Interaksi antarnegara, peradaban, dan budaya semakin mudah dalam melakukannya, proses tersebut saling mempengaruhi antara satu budaya dengan budaya lain dengan proses yang cepat, baik budaya itu positif maupun negatif. Pada akhirnya, globalisasi menjadi alat untuk saling mempengaruhi antara peradaban, antarnegara, budaya, dan agama.
B.     Karakteristik Islam
Ungkapan “Islam, globalisasi, dan peradaban dunia” berusaha menjelaskan pada pertentangan, persinggungan, atau persamaan. Oleh karena itu islam memiliki karakter sebagai berikut:
a.       Menjanjikan keselamatan dunia dan akhirat
b.      Penyerahan diri seorang muslim kepada Allah SWT.
c.       Penyelamatan yang dijanjikan islam dengan kesempurnaan, komprensif dan mendetail.
d.      Islam sebagai agama yang sempurna
e.       Islam menjelaskan segala sesuatu yang semuanya itu untuk keselamatan manusia.
f.       Tidak ada satu pun yang dibiarkan dan tidak diperhatikan di dalam islam.
g.      Tebaran penyelamatan islam mencakup pada seluruh alam semesta, lebih dari sekadar globalisme.
C.    Karakteristik Globalisasi
Dalam hal-hal yang bersifat duniawi, umat islam diberi kebebasan seluas-luasnya untuk beradaptasi, berdialog, hidup berdampingan dengan non islam. Tetapi ia harus mengetahui prinsip-prinsip islam. globalisasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Internasionalisasi (dari daerah menuju ke arah wilayah yang lebih luas).
2.      Liberalisasi (paham menuju arah serba bebas dan melepaskan norma-norma yang telah mapan, antaralain norma-norma agama islam).
3.      Universalisasi (dunia telah menjadi dalam kesatuan, tetapi tidak ada wilayah yang melekat antara wilayah stu dengan wilayah lain sebagai berkah untuk memajukan IPTEK, terutama teknologi dan informasi.
4.      Westernisasi (arah peradaban dari dunia timur menuju arah kultural dunia barat yang bercirikan sekularisme, individualisme, kapitalisme, liberalisme, dan hedonisme.
5.      Suprateritoalisme (ruang-ruang sosialitas mulai tidak ada lagi dari jaraknya dan batas-batas wilayahnya. Dengan demikian, dunia adalah satu wilayah).
Secara singkat, globalisasi dapat dikatakan terjadinya keterbukaan wilayah atau Negara sehingga memungkinkan terjadi interaksi antara wilayah atau Negara tersebut.Seperti dalam ekonomi, politik, budaya dan lain-lain.[4]
D.    Pengertian Modernisme
Kata modern, modernitas, modernisasi dan modernisme, seperti kata lainnya yang berasal barat, telah dipakai dalam bahasa Indonesia. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, kata modern diartikan sebagai yang terbaru, secara baru, dan mutakhir.[5]Dalam masyarakat barat, kata “modernisme” mengandung arti pikiran, aliran, gerakan, dan usaha-usaha untuk mengubah paham-paham, adat istiadat, institusi-institusi lama dan sebagainya, agar semua itu sesuai dengan pendapat-pendapat dan keadaan-keadaan baru yang ditimbulkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Perubahan dilakukan untuk menyesuaikan zaman dan keadaan masyarakat dalam mengejar bangsa lain agar memberi solusi nyata dengan mendatangkan paradigma baru dalam suatu masyarakat supaya mewujudkan kebangkitan bagi umat islam.
Oleh karena itu, modern lebih mengacu pada dorongan untuk melakukan perubahan karena paham-paham dan institusi-institusi lama dinilai tidak relevan. Kaum modernis kebanyakan lebih percaya bahwa keterbelakangan umat islam karena disebabkan oleh kesalahan sikap mental, budaya, atau teologi mereka. Pandangan kaum modernis lebih merujuk pada pemikiran modernis Muktazilah, yang cenderung bersifat antroposentris karena bagi Muktazilah, manusia itu dapat menentukan perbuatannya sendiri.[6]
E.     Pengertian Puritanisme
Secara garis besar, kata “puritanisme” secara etimologis berasal dari bahasa Yunani, pure yang berarti murni.Puritanisme, berarti paham dan tingkah laku yang didasarkan pada ajaran kaum puritan.Puritan memiliki arti orang yang hidup saleh dan yang menganggap kemewahan dan kesenangan sebagai dosa.
Puritanisme menurut istilah memiliki dua arti, yaitu di lapangan pemikiran dan kepercayaan.Puritanisme di lapangan pemikiran, misalnya pada lapangan ilmu pengetahuan berupa tidak mau menggunakan kata atau ejaan yang mirip dengan perkataan atau ejaan bangsa asing.Dalam lapangan kepercayaan sendiri, misalnya sikap hanya berpegang pada ajaran yang termuat dalam suatu kitab suci sesuai dengan arti kata. Pengertian yang tidak sama dengan arti kata dianggapnya berbahaya atau salah, selain makna ajaran agama islam pada beberapa golongan, yang mengikuti pada cara hidup yang sederhana dan tidak menggangu pada kesehatan.
Dalam islam, puritanisme disamakan sengan istilah sufi. Pemurnian ditujukan untuk mengembalikan umat islam pada ajaran yang murni berasal dari pembawanya Nabi Muhammad SAW yaitu Al-Qur’an dan hadis agar bersih dari perilaku takhayul, bid’ah, dan khurafat yang dapat merusak pada ajaran dan akidah umat islam.
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pemurnian itu adalah kembali pada ajaran islam yang murni, yaitu kembali pada ajaran Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yaitu Al-Qur’an dan Hadist sahih untuk menyesuaikan zaman yang semakin aktual dengan ajaran islam yang murni.[7]



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Islam berasal dari bahasa arab, yaitu salima yang yang mengandung arti selamat, damai dan sentosa  Islam adalah agama Allah yang SWT, yang diturunkan pada Nabi Muhammad SAW, untuk mengajarkan dan menyampaikan pada Umat-Nya. Globalisasi adalah era global/modern bahwa dunia ini terasa seperti kampung kecil.Interaksi antarnegara, peradaban, dan budaya semakin mudah dalam melakukannya.
Karakteristik islam yaitu menjanjikan keselamatan dunia dan akhirat, penyerahan diri seorang muslim kepada Allah SWT, penyelamatan yang dijanjikan islam dengan kesempurnaan, sebagai agama yang sempurna, menjelaskan segala sesuatu yang semuanya itu untuk keselamatan manusia, tidak ada satu pun yang dibiarkan dan tidak diperhatikan di dalam islam, serta penyelamatan islam mencakup pada seluruh alam semesta, lebih dari sekadar globalisme.
Karakteristik globalisasi adalah internasionalisasi, liberalisasi, universalisasi, suprateritoalisme, westernisasi.
Modernisme adalah  pikiran, aliran, gerakan, dan usaha-usaha untuk mengubah paham-paham, adat istiadat, institusi-institusi lama dan sebagainya.
Puritanisme adalah pemurnian, asal, dan kembali pada suatu ajaran-ajaran atau sikap-sikap pada masa awal kejadiannya.
B.     Saran
Jadi, dilihat dari makalah ini, penulis sendiri menyarankan bahwa islam dalam globalisasi juga dibutuhkan di kalangan islam karena melihat perkembangan zaman dan kehidupan masyarakat, tetapi juga harus melihat dari titik positif dan negatif dalam menangapinya.



DAFTAR PUSTAKA

Hidayat,Komaruddin. 1996. Memahami Bahasa Agama,Jakarta: Cahaya Surya.
Natta,Abuddin. 1998. Metodologi Studi Islam, Bandung: Pustaka Setia.
Abdullah,M. Yatimin. 2004.Metodologi Studi Islam, Surabaya: Pustaka Media Abdul Kodir,Koko. 2009. Metodologi Studi Islam, Yogyakarta: TERAS.
Wahid,Abdurrahman, dkk. 1999. Zaman Baru Islam Indonesia, Bandung: Remaja Rosda Karya.
Fakih, Mansour. 1997.Ulumul Qur’an,Bandung: Lentera.
Abdul Kodir,Koko. 2009. Metodologi Studi Islam, Surabaya: Sinar Surya.





[1]Komaruddin Hidayat, Memahami Bahasa Agama, (Jakarta: Cahaya Surya,1996), hlm 5.
[2]Abuddin Natta, Metodologi Studi Islam, (Bandung : Pustaka Setia, 1998), hlm. 162.
[3]M. Yatimin Abdullah, Metodologi Studi Islam, (Surabaya : Pustaka Media, 2004)  hlm. 15.
[4]Koko Abdul Kodir, Metodologi Studi Islam, ( Yogyakarta, TERAS, 2009), hlm. 243.
[5]Abdurrahman Wahid, dkk.,Zaman Baru Islam Indonesia, (Bandung, Remaja Rosda Karya,1999),  hlm. 64.
[6] Mansour Fakih, Ulumul Qur’an,( Bandung: Lentera,1997), hlm. 11.
[7]Koko Abdul Kodir, Metodologi Studi Islam, (Surabaya: Sinar Surya, 2009), hlm. 244.

No comments:

Post a Comment