"Semua umat manusia tidak dapat bersatu dalam satu agama. Tapi semua umat beragama dapat bersatu menghadapi problematika kemanusiaan yang sama”
KH. Abdurrahman Wahid, yang akrab disapa dengan Gus Dur, merupakan seorang tokoh yang sangat gigih dalam memperjuangkan toleransi umat beragama di Indonesia. Bagi Gus Dur, toleransi bukan hanya sekedar definisi, melainkan sebuah implementasi dan refleksi dalam kehidupan umat manusia sehari-hari.
Gagasan konsep toleransi ala Gus Dur muncul
bersamaan dengan pembahasan pluralisme. Jika pluralisme membicarakan tentang bagaimana
realitas kemajemukan agama dapat diterima, maka toleransi adalah tentang bagaimana
menerapkan perilaku majemuk tersebut. Toleransi menurut Gus Dur bukanlah sebuah
konsep yang dapat berdiri sendiri, melainkan menyatu dengan dimensi sosial
kehidupan umat manusia.
Sebagai seorang muslim, gagasan toleransi
ala Gus Dur tidak dapat dipisahkan dari dimensi normatif dalam agama Islam yang
tertuang dalam terjemahan ayat al-Qur’an sebagai berikut: “Dan tiadalah kami mengutus
kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat semesta alam”. Yang dimaksud dengan
“rahmat semesta alam” pada ayat ini tidak hanya umat manusia semata, melainkan
seluruh makhluk ciptaan Allah yang ada di dunia. Artinya, dalam pandangan Gus
Dur Islam adalah sebagai pelindung semua makhluk di bumi. Konteks perlindungan
yang dimaksud disini bukan dalam hal perbandingan kuat-lemah,
mayoritas-minoritas, namun sebuah pertanggungjawaban yang mengarah pada
terbentuknya persatuan dan persaudaraan semua umat manusia, khususnya sesama umat beragama.
Oleh sebab itu, toleransi bagi Gus Dur
tidak hanya sekedar rasa saling menghormati dan tenggang rasa antar umat
manusia, melainkan harus diwujudkan dengan adanya rasa saling memiliki (sense
of belonging) dalam kehidupan sehari-hari demi terwujudnya “ukhuwah
basyariyah”. Selain itu, Gus Dur juga menegaskan tentang kehidupan berbangsa.
Sebagai umat muslim yang memeluk mayoritas terbesar di Indonesia, wajib
menempatkan ajaran agama sebagai faktor komplementer, yaitu komponen yang
membentuk dan mengisi kehidupan bermasyarakat di Indonesia.
Toleransi menurut pemikiran Gus Dur adalah
sebuah relasi yang bersifat aktif dalam tujuan besar kehidupan berbangsa.
Artinya, toleransi ala Gus Dur lebih tepat disebut sebagai toleransi beragama
dan berkebangsaan. Yaitu bukan hanya relasi aktif dalam responnya terhadap
agama lain, melainkan harus mengarah pada bagaimana terciptanya sebuah
kehidupan yang damai, setara, berkeadilan, dan berperikemanusiaan dalam kehidupan
berbangsa.
Selain itu, toleransi juga tidak
berdasarkan pada hal-hal yang bersifat material, justru toleransi ini sering
ditemukan pada orang yang tidak pintar dan juga kaya. Artinya, toleransi
beragama yang dimaksud Gus Dur tidak hanya mengarah pada pengakuan dan
penghormatan saja, melainkan penerimaan atas perbedaan agama dan status sosial.
Ruang implementasi inilah yang menjadi titik tekan dari pemikiran Gus Dur
tentang toleransi.
Dalam ruang politik, demokrasi bagi Gus Dur
berarti persamaan hak dan status setiap warga Negara dihadapan hukum, tanpa
melihat perbedaan etnis, agama, jenis kelamin, dan Bahasa. Gus Dur hendak menegaskan
bahwa dalam negara demokrasi setiap umat beragama memiliki hak dan kewajiban
yang sama sebagai warga negara. Mereka memiliki hak untuk berkarya dan
mengeluarkan pendapat demi memecahkan suatu permasalahan Bersama.
Menurut Gus Dur, keadilan sangat penting
demi mewujudkan kehidupan sosial dan politik yang rukun dan harmonis sehingga
tidak ada perbedaan dan kesenjangan sosial yang dapat mengakibatkan konflik dan
perpecahan.
Gus Dur senantiasa mengajarkan kepada kita
semua untuk berpikiran positif dalam menyikapi orang lain yang berbeda dengan
kita. Hal ini penting dalam mewujudkan masyarakat demokraris. Demokrasi adalah
jaminan untuk semua umat beragama dalam mendapatkan hak dan kebebasan yang
sama. Gus Dur sendiri sangat anti dengan sikap terlalu membenarkan diri
sendiri. Karena justru sikap inilah yang akan melemahkan kehidupan berbangsa
dan bernegara. Kita hidup di era masyarakat pluralistik, sehingga nilai-nilai
pluralisme yang ditanamkan Gus Dur seharusnya dapat kita implementasikan untuk
menjadikan bangsa ini menjadi kaya dan kuat. Dengan bersatunya semua umat
beragama, kita dapat menyelesaikan berbagai macam problem kemanusiaan yang
sama.
No comments:
Post a Comment