Tuesday, December 14, 2021

Toleransi beragama dan berkebangsaan ala Gus Dur


"Semua umat manusia tidak dapat bersatu dalam satu agama. Tapi semua umat beragama dapat bersatu menghadapi problematika kemanusiaan yang sama”

KH. Abdurrahman Wahid, yang akrab disapa dengan Gus Dur, merupakan seorang tokoh yang sangat gigih dalam memperjuangkan toleransi umat beragama di Indonesia. Bagi Gus Dur, toleransi bukan hanya sekedar definisi, melainkan sebuah implementasi dan refleksi dalam kehidupan umat manusia sehari-hari.

Gagasan konsep toleransi ala Gus Dur muncul bersamaan dengan pembahasan pluralisme. Jika pluralisme membicarakan tentang bagaimana realitas kemajemukan agama dapat diterima, maka toleransi adalah tentang bagaimana menerapkan perilaku majemuk tersebut. Toleransi menurut Gus Dur bukanlah sebuah konsep yang dapat berdiri sendiri, melainkan menyatu dengan dimensi sosial kehidupan umat manusia.

Sebagai seorang muslim, gagasan toleransi ala Gus Dur tidak dapat dipisahkan dari dimensi normatif dalam agama Islam yang tertuang dalam terjemahan ayat al-Qur’an sebagai berikut: “Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat semesta alam”. Yang dimaksud dengan “rahmat semesta alam” pada ayat ini tidak hanya umat manusia semata, melainkan seluruh makhluk ciptaan Allah yang ada di dunia. Artinya, dalam pandangan Gus Dur Islam adalah sebagai pelindung semua makhluk di bumi. Konteks perlindungan yang dimaksud disini bukan dalam hal perbandingan kuat-lemah, mayoritas-minoritas, namun sebuah pertanggungjawaban yang mengarah pada terbentuknya persatuan dan persaudaraan semua umat manusia, khususnya sesama umat beragama.

Oleh sebab itu, toleransi bagi Gus Dur tidak hanya sekedar rasa saling menghormati dan tenggang rasa antar umat manusia, melainkan harus diwujudkan dengan adanya rasa saling memiliki (sense of belonging) dalam kehidupan sehari-hari demi terwujudnya “ukhuwah basyariyah”. Selain itu, Gus Dur juga menegaskan tentang kehidupan berbangsa. Sebagai umat muslim yang memeluk mayoritas terbesar di Indonesia, wajib menempatkan ajaran agama sebagai faktor komplementer, yaitu komponen yang membentuk dan mengisi kehidupan bermasyarakat di Indonesia.

Toleransi menurut pemikiran Gus Dur adalah sebuah relasi yang bersifat aktif dalam tujuan besar kehidupan berbangsa. Artinya, toleransi ala Gus Dur lebih tepat disebut sebagai toleransi beragama dan berkebangsaan. Yaitu bukan hanya relasi aktif dalam responnya terhadap agama lain, melainkan harus mengarah pada bagaimana terciptanya sebuah kehidupan yang damai, setara, berkeadilan, dan berperikemanusiaan dalam kehidupan berbangsa.

Selain itu, toleransi juga tidak berdasarkan pada hal-hal yang bersifat material, justru toleransi ini sering ditemukan pada orang yang tidak pintar dan juga kaya. Artinya, toleransi beragama yang dimaksud Gus Dur tidak hanya mengarah pada pengakuan dan penghormatan saja, melainkan penerimaan atas perbedaan agama dan status sosial. Ruang implementasi inilah yang menjadi titik tekan dari pemikiran Gus Dur tentang toleransi.

Dalam ruang politik, demokrasi bagi Gus Dur berarti persamaan hak dan status setiap warga Negara dihadapan hukum, tanpa melihat perbedaan etnis, agama, jenis kelamin, dan Bahasa. Gus Dur hendak menegaskan bahwa dalam negara demokrasi setiap umat beragama memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai warga negara. Mereka memiliki hak untuk berkarya dan mengeluarkan pendapat demi memecahkan suatu permasalahan Bersama.

Menurut Gus Dur, keadilan sangat penting demi mewujudkan kehidupan sosial dan politik yang rukun dan harmonis sehingga tidak ada perbedaan dan kesenjangan sosial yang dapat mengakibatkan konflik dan perpecahan.

Gus Dur senantiasa mengajarkan kepada kita semua untuk berpikiran positif dalam menyikapi orang lain yang berbeda dengan kita. Hal ini penting dalam mewujudkan masyarakat demokraris. Demokrasi adalah jaminan untuk semua umat beragama dalam mendapatkan hak dan kebebasan yang sama. Gus Dur sendiri sangat anti dengan sikap terlalu membenarkan diri sendiri. Karena justru sikap inilah yang akan melemahkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita hidup di era masyarakat pluralistik, sehingga nilai-nilai pluralisme yang ditanamkan Gus Dur seharusnya dapat kita implementasikan untuk menjadikan bangsa ini menjadi kaya dan kuat. Dengan bersatunya semua umat beragama, kita dapat menyelesaikan berbagai macam problem kemanusiaan yang sama.

No comments:

Post a Comment