Monday, December 6, 2021

Refleksi Nilai-nilai Kehidupan


Beberapa nilai-nilai kehidupan yang sering saya refleksikan dari dahulu hingga kini diantaranya adalah: kebijaksanaan, kesederhanaan, kemandirian, kesabaran, dan  kesetaraan.

Sebagai seorang anak dari pasangan petani yang hidup sederhana di sebuah desa kecil di Kabupaten Tulang Bawang Barat Lampung, orang tua saya sudah mencontohkan pola hidup sederhana sebagaimana masyarakat pedesaan pada umumnya. Orang tua saya menanamkan nilai kebijaksanaan kepada anak-anaknya dengan mencontohkan sifat Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Bapak adalah seorang petani pohon karet yang memiliki beberapa kebun yang diolah sendiri dan cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari, terutama menyekolahkan kami. Secara tingkat Pendidikan, bapak bukanlah seorang tamatan bangku sekolah dan perguruan tinggi, tapi memiliki cita-cita yang besar dan tinggi untuk semua anak-anaknya. Bahkan bapak pernah berpesan kepada kami “tidak apa-apa bapak makan cuma pake sambel dan ikan asin, yang penting anak-anak bisa sekolah sampe tamat”, begitu pesan bapak kepada kami.

Itu sebabnya, sejak kecil saya sudah diajarkan untuk hidup secara sederhana dan bersahaja oleh kedua orang tua. Mereka mengajarkan kami untuk lebih mementingkan kualitas Pendidikan dan intelektualitas dibandingkan dengan hidup yang bermewah-mewahan. Seperti semacam prinsip yang ditanamkan kepada kami sejak kami kecil, bahwa kualitas Pendidikan jauh lebih penting dibandingkan apapun.

Pendidikan adalah sebuah jalan yang ditempuh untuk menghantarkan seseorang kepada tingkat intelektualitas yang lebih baik daripada sebelumnya serta menjadikan manusia lebih bermoral. Inilah alasan mengapa bapak bertekad teguh untuk menyekolahkan semua anak-anaknya hingga sarjana meskipun bapak dan mamak sendiri tidak tamat sekolah.

Terdapat sebuah pepatah “Seorang pencuri tidak ingin melahirkan anak menjadi pencuri juga”, sebuah pepatah yang menggambarkan bahwa cukup bapak mamak yang tidak mengenyam Pendidikan dan bangku sekolah, namun anak-anaknya harus menjadi manusia yang berpendidikan semua.

Tidak hanya menempuh Pendidikan di bangku sekolah umum saja, sejak saya lulus dari bangku Madrasah Tsanawiyah, Bapak bertekad menyekolahkanku di salah satu Pesantren di Pulau Jawa, yaitu Pondok Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur. Dimana saat itu saya tidak memiliki satu orang pun keluarga atau sanak saudara di Pulau Jawa. Disitulah mental dan batinku benar-benar diuji. Nilai yang ingin ditanamkan oleh bapak saat itu adalah kemandirian. Meskipun saya seorang anak perempuan, tapi bapak menuntutku untuk menjadi perempuan yang pemberani dan mandiri. Dengan berbekal kemandirian, saya menguatkan tekad dan semangat untuk mewujudkan keinginan orang tua, yaitu belajar dan ber-tholabul ‘ilmi di pulau seberang selama bertahun-tahun dan tidak diperkenankan pulang sebelum lulus belajar dan mengaji.

Hidup di perantauan dan jauh dari orang tua tentu banyak sekali cobaan, tantangan, serta ujian. Disini Allah SWT. benar-benar sedang menguji kesabaran hamba-Nya. Tanpa nilai kesabaran yang saya implementasikan dalam kehidupan sehari-hari tentu tidak akan membuat saya bertahan lama di tanah perantauan hingga saat ini.

Selain itu, sebagai santri di Pondok Pesantren yang juga mengemban amanah dari Masyayikh (guru) sebagai pengurus, membuat keadaan memaksaku untuk terus belajar memahami karakteristik manusia yang berbeda-beda. Diperlukan kesabaran yang besar pula bagi saya untuk menghadapi santri-santri yang terkadang tidak berjalan sesuai peraturan yang diterapkan di Pondok Pesantren.

Tidak hanya itu, rasa rindu yang teramat dalam kepada keluarga, terutama bapak dan mamak tentu sering tiba-tiba menghampiri. Hal ini karena sekian lama kami tidak pernah berjumpa, dan saya hanya dapat terhubung dengan mereka via telepon pondok. Dan tentunya saat menghubungi mereka harus sesuai dengan waktu penelponan pondok dengan batas jam tertentu. Sering kali saya merasa sedih dan menangis ketika melihat teman-teman dijenguk orang tuanya di Pondok Pesantren. Pasalnya, yang membuatku sedih adalah keadaanku yang jauh dari orang tua dan tidak pernah dijenguk sekalipun, bahkan ketika saya sedang sakit. Namun mamak tidak pernah berhenti menasehati, ia selalu mengajarkanku untuk menjadi pribadi yang lebih sabar dan kuat menghadapi cobaan dan proses dalam kehidupan ini.

Mamak pernah berpesan “logam yang indah dan mengkilat perlu ditempa oleh besi panas dahulu berkali-kali”. Seperti halnya yang sedang saya alami saat ini, semua cobaan yang sedang kuhadapi merupakan bagian dari proses menuju kesuksesanku.

Setelah lulus Madrasah Aliyah (MA) Al-Mahrusiyah Lirboyo, sudah tak tahan lagi bagiku untuk segera pulang ke rumah dan bertemu dengan orang tua. Namun bapak memiliki keinginan lain. Yaitu, ingin anaknya selain mengaji dan mondok di Pesantren, tapi juga menempuh Pendidikan di Perguruan tinggi. Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan studiku berkuliah di IAIT (Institut Agama Islam Tribakti) Lirboyo Kediri dengan mengambil Program Studi Hukum Keluarga Islam / Ahwal Al-Syakhsyiyyah (AS) yang mana pada saat itu dalam satu kelas berjumlah 32 orang yang terdiri dari 30 mahasiswa dan 2 mahasiswi.

Tentu bukan jumlah yang setara secara kuantitas. Dan aku termasuk kedalam golongan minoritas pada saat itu. Menjalani perkuliahan selama empat tahun merupakan sebuah tantangan baru bagiku. Hidup Bersama dengan kelompok yang terdiri dari mayoritas laki-laki membuatku mengerti arti dari sebuah kesetaraan. Tidak hanya itu, mereka sangat menjunjung tinggi dan menghargai keberadaan minoritas perempuan ditengah-tengah lingkungan mereka. Kami diberi kebebasan untuk menyatakan pendapat kami, kami diberi hak untuk memimpin diskusi dan mengambil keputusan, serta banyak hal-hal kecil lain terkait praktek kesetaraan antara gender laki-laki dan perempuan yang diimplementasikan dalam lingkungan kampus kami. Dari sini aku tidak hanya belajar tentang teori kesetaraan, melainkan mempraktekkannya langsung di dalam lingkungan akademik.

Beberapa hal diatas adalah refleksi tentang nilai-nilai yang sudah mandarah daging dalam kehidupanku. Hal ini tentunya dilatarbelakangi oleh bagaimana cara orang tua mendidikku sejak kecil dahulu. Karena menjadi apapun kelak ketika kita sudah dewasa, keluarga khususnya orang tua adalah faktor terbesar yang mempengaruhi nilai kehidupan seperti apa yang kita implementasikan sehari-hari.

No comments:

Post a Comment