Beberapa nilai-nilai kehidupan yang sering saya refleksikan dari dahulu hingga kini diantaranya adalah: kebijaksanaan, kesederhanaan, kemandirian, kesabaran, dan kesetaraan.
Sebagai seorang anak dari pasangan petani
yang hidup sederhana di sebuah desa kecil di Kabupaten Tulang Bawang Barat
Lampung, orang tua saya sudah mencontohkan pola hidup sederhana sebagaimana
masyarakat pedesaan pada umumnya. Orang tua saya menanamkan nilai kebijaksanaan
kepada anak-anaknya dengan mencontohkan sifat Rasulullah SAW dalam kehidupan
sehari-hari.
Bapak adalah seorang petani pohon karet yang memiliki beberapa kebun yang diolah sendiri dan cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari, terutama menyekolahkan kami. Secara tingkat Pendidikan, bapak bukanlah seorang tamatan bangku sekolah dan perguruan tinggi, tapi memiliki cita-cita yang besar dan tinggi untuk semua anak-anaknya. Bahkan bapak pernah berpesan kepada kami “tidak apa-apa bapak makan cuma pake sambel dan ikan asin, yang penting anak-anak bisa sekolah sampe tamat”, begitu pesan bapak kepada kami.
Itu sebabnya, sejak kecil saya sudah
diajarkan untuk hidup secara sederhana dan bersahaja oleh kedua orang tua.
Mereka mengajarkan kami untuk lebih mementingkan kualitas Pendidikan dan
intelektualitas dibandingkan dengan hidup yang bermewah-mewahan. Seperti
semacam prinsip yang ditanamkan kepada kami sejak kami kecil, bahwa kualitas
Pendidikan jauh lebih penting dibandingkan apapun.
Pendidikan adalah sebuah jalan yang
ditempuh untuk menghantarkan seseorang kepada tingkat intelektualitas yang
lebih baik daripada sebelumnya serta menjadikan manusia lebih bermoral. Inilah
alasan mengapa bapak bertekad teguh untuk menyekolahkan semua anak-anaknya
hingga sarjana meskipun bapak dan mamak sendiri tidak tamat sekolah.
Terdapat sebuah pepatah “Seorang pencuri
tidak ingin melahirkan anak menjadi pencuri juga”, sebuah pepatah yang
menggambarkan bahwa cukup bapak mamak yang tidak mengenyam Pendidikan dan
bangku sekolah, namun anak-anaknya harus menjadi manusia yang berpendidikan
semua.
Tidak hanya menempuh Pendidikan di bangku
sekolah umum saja, sejak saya lulus dari bangku Madrasah Tsanawiyah, Bapak
bertekad menyekolahkanku di salah satu Pesantren di Pulau Jawa, yaitu Pondok
Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur. Dimana saat itu saya tidak memiliki satu orang
pun keluarga atau sanak saudara di Pulau Jawa. Disitulah mental dan batinku
benar-benar diuji. Nilai yang ingin ditanamkan oleh bapak saat itu adalah
kemandirian. Meskipun saya seorang anak perempuan, tapi bapak menuntutku untuk
menjadi perempuan yang pemberani dan mandiri. Dengan berbekal kemandirian, saya
menguatkan tekad dan semangat untuk mewujudkan keinginan orang tua, yaitu
belajar dan ber-tholabul ‘ilmi di pulau seberang selama bertahun-tahun
dan tidak diperkenankan pulang sebelum lulus belajar dan mengaji.
Hidup di perantauan dan jauh dari orang tua
tentu banyak sekali cobaan, tantangan, serta ujian. Disini Allah SWT.
benar-benar sedang menguji kesabaran hamba-Nya. Tanpa nilai kesabaran yang saya
implementasikan dalam kehidupan sehari-hari tentu tidak akan membuat saya
bertahan lama di tanah perantauan hingga saat ini.
Selain itu, sebagai santri di Pondok
Pesantren yang juga mengemban amanah dari Masyayikh (guru) sebagai
pengurus, membuat keadaan memaksaku untuk terus belajar memahami karakteristik
manusia yang berbeda-beda. Diperlukan kesabaran yang besar pula bagi saya untuk
menghadapi santri-santri yang terkadang tidak berjalan sesuai peraturan yang
diterapkan di Pondok Pesantren.
Tidak hanya itu, rasa rindu yang teramat
dalam kepada keluarga, terutama bapak dan mamak tentu sering tiba-tiba
menghampiri. Hal ini karena sekian lama kami tidak pernah berjumpa, dan saya
hanya dapat terhubung dengan mereka via telepon pondok. Dan tentunya saat
menghubungi mereka harus sesuai dengan waktu penelponan pondok dengan batas jam
tertentu. Sering kali saya merasa sedih dan menangis ketika melihat teman-teman
dijenguk orang tuanya di Pondok Pesantren. Pasalnya, yang membuatku sedih
adalah keadaanku yang jauh dari orang tua dan tidak pernah dijenguk sekalipun,
bahkan ketika saya sedang sakit. Namun mamak tidak pernah berhenti menasehati,
ia selalu mengajarkanku untuk menjadi pribadi yang lebih sabar dan kuat
menghadapi cobaan dan proses dalam kehidupan ini.
Mamak pernah berpesan “logam yang indah dan
mengkilat perlu ditempa oleh besi panas dahulu berkali-kali”. Seperti halnya yang
sedang saya alami saat ini, semua cobaan yang sedang kuhadapi merupakan bagian
dari proses menuju kesuksesanku.
Setelah lulus Madrasah Aliyah (MA)
Al-Mahrusiyah Lirboyo, sudah tak tahan lagi bagiku untuk segera pulang ke rumah
dan bertemu dengan orang tua. Namun bapak memiliki keinginan lain. Yaitu, ingin
anaknya selain mengaji dan mondok di Pesantren, tapi juga menempuh Pendidikan
di Perguruan tinggi. Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan studiku
berkuliah di IAIT (Institut Agama Islam Tribakti) Lirboyo Kediri dengan
mengambil Program Studi Hukum Keluarga Islam / Ahwal Al-Syakhsyiyyah (AS) yang
mana pada saat itu dalam satu kelas berjumlah 32 orang yang terdiri dari 30 mahasiswa
dan 2 mahasiswi.
Tentu bukan jumlah yang setara secara
kuantitas. Dan aku termasuk kedalam golongan minoritas pada saat itu. Menjalani
perkuliahan selama empat tahun merupakan sebuah tantangan baru bagiku. Hidup
Bersama dengan kelompok yang terdiri dari mayoritas laki-laki membuatku
mengerti arti dari sebuah kesetaraan. Tidak hanya itu, mereka sangat menjunjung
tinggi dan menghargai keberadaan minoritas perempuan ditengah-tengah lingkungan
mereka. Kami diberi kebebasan untuk menyatakan pendapat kami, kami diberi hak
untuk memimpin diskusi dan mengambil keputusan, serta banyak hal-hal kecil lain
terkait praktek kesetaraan antara gender laki-laki dan perempuan yang
diimplementasikan dalam lingkungan kampus kami. Dari sini aku tidak hanya
belajar tentang teori kesetaraan, melainkan mempraktekkannya langsung di dalam
lingkungan akademik.
Beberapa hal diatas adalah refleksi tentang
nilai-nilai yang sudah mandarah daging dalam kehidupanku. Hal ini tentunya
dilatarbelakangi oleh bagaimana cara orang tua mendidikku sejak kecil dahulu.
Karena menjadi apapun kelak ketika kita sudah dewasa, keluarga khususnya orang
tua adalah faktor terbesar yang mempengaruhi nilai kehidupan seperti apa yang
kita implementasikan sehari-hari.

No comments:
Post a Comment