KH Abdurrahman Wahid atau yang sering akrab disapa dengan Gus Dur merupakan seorang putra dari salah satu tokoh besar Nahdlatul Ulama KH Abdul Wahid Hasyim. Gus Dur lahir di Jombang, 7 September 1940. Beliau memiliki nama asli Abdurrahman Addakhil. Seorang putra pertama dari KH Wahid Hasyim, dan cucu dari KH Hasyim Asy'ari tokoh pendiri Nahdlatul Ulama.
Beliau
dikaruniai empat orang putri dari pernikahannya dengan Sinta Nuriyah, yaitu
Yenni Wahid, Alissa Qatrunnada Wahid, Anita Hayatunnuufus Wahid, dan Inayah
Wulandari Wahid.
Seperti halnya Ayahnya, Gus Dur adalah sosok yang aktif dan berwawasan luas. sebagai pemimpin Nahdlatul Ulama (NU), Gus Dur merupakan salah satu tokoh yang sangat berpengaruh di rezim Soeharto. Saat tumbangnya orde baru, Gus Dur sempat menjabat sebagai presiden Republik Indonesia yg ke-4 menggantikan Baharuddin Jusuf Habibie secara demokratis pada tahun 1999 sebelum akhirnya dilengserkan oleh DPR secara politis.
Seperti
halnya keluarganya yang berasal dari kalangan pesantren, Gus Dur kecil pun dibesarkan
di dunia pesantren. Tidak hanya itu, orang tua Gus Dur juga membekali nya dengan
ilmu sosial, ilmu pemikiran, dan ilmu agama.
Sejak
kecil, Gus Dur kecil sudah mengaji kepada kakenya KH Hasyim Asyari di
pesanntren Tebuireng sejak usia 5 tahun. Saat itu ia sudah pandai mengaji dan
membaca Al-Qur’an. Sehingga setelah lulus Sekolah Dasar orang tuanya
mengirimnya untuk melanjutkan mengaji di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta
sealigus melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP)
Gowongan. Setelah selesai mengaji di PP Krapyak Yogyakarta, Gus Dur melanjutkan
nyantrinya di Pondok Pesantren Tegalrejo Magelang, dan Pondok Pesantren Tambakberas
Jombang.
Proses
belajar seorang Gus Dur tidak hanya di Pondok Pesantren. Setelah selesai
nyantri beliau melanjutkan pendidikannya ke luar negeri yaitu ke Al-Azhar
Mesir, Universitas Baghdad Irak, kemudian melanjutkan proses belajar di
Belanda, Jerman, dan Perancis sebelum akhirnya kembli ke Indonesia.
Setelah
kembali ke Indonesia pada tahun 1971, Gus Dur bergabung dengan Lembaga
Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Eonomi dan Sosial (LP3ES), sebuah
organisasi yang mewadahi kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat.
Disini Gus Dur berperan sebagai kontributor utama dalam majalah Prisma yang
didirikan oleh LP3ES.
Tidak
hanya itu, Gus Dur juga berkarir di dunia jurnalistik sebagai penulis Tempo dan
Kompas. Hal ini menyebabkan artikel-artikel tulisannya dapat berkembang dan
diterima dengan baik sebagai komentator sosial. Kemudian pada tahun 1977 Gus
Dur bergabung di Universitas Hasyim Asy’ari dan menjabat sebagai Dekan Fakultas
Praktik dan Kepercayaan Islam dengan mengajar beberapa mata kuliah seperti syariat
Islam, pedagogi, dan misiologi.
Gus
Dur dikenal sebagai sosok yang humanis dan humoris. Sehingga tidak sedikit
buku-buku yang berisi tentang pemikiran dan koleksi humor ala Gus Dur. Dengan intelektualitasnya
yang sangat tinggi, menyebabkan Gus Dur sering diundang kemana-mana untuk
mengisi seminar dan memberikan kuliah.
Selain
itu Gus Dur juga dikenal sebagai bapak pluralisme karena ia sangat menjunjung tinggi
kemanusiaan. Ia tidak hanya mengkampanyekan soal kewajiban kita melindungi
minoritas di dalam Indonesia saja, melainkan hal ini juga disampaikannya dalam
pidatonya saat melakukan kunjungan luar negeri di Amerika Serikat. Dihadapan Negara
adidaya ini pula Gus Dur menyampaikan betapa pentingnya melindungi minoritas
dan menjunjung tinggi humanisme.
Hal
ini yang menyebabkan Gus Dur terkenal sebagai Bapak Kemanusiaan dengan 9 konsep
kemanusiaan ala pemikiran Gus Dur. Bahkan ia juga berpesan bahwa kelak ketika
ia wafat, ia meminta agar di batu nisannya dituliskan “The Humanist died here”,
dan dapat kita lihat saat berziarah ke makm Gus Dur hari ini, terdapat tulisan “Here
Rest a Humanist” yang artinya “disini beristirahat Bapak Kemanusiaan”.
Hal
ini sudah seharusnya menjadi catatan penting bagi kita untuk terus menularkan
dan menyebarkan pemikiran dan ajaran Gus Dur sebagai refleksi dari sikap
kemanusiaan yang diajarkan kepada kita semua.
Apabila
saya diberi kesempatan untuk bertemu dengan beliau, saya ingin bertanya kepada
Gus Dur, “Sudah pantaskah kita semua saat ini untuk disebut sebagai manusia
yang memanusiakan manusia??”

No comments:
Post a Comment