Tuesday, November 30, 2021

Gus Dur, Sang Guru Besar dari Pesantren


 KH Abdurrahman Wahid atau yang sering akrab disapa dengan Gus Dur merupakan seorang putra dari salah satu tokoh besar Nahdlatul Ulama KH Abdul Wahid Hasyim. Gus Dur lahir di Jombang, 7 September 1940. Beliau memiliki nama asli Abdurrahman Addakhil. Seorang putra pertama dari KH Wahid Hasyim, dan cucu dari KH Hasyim Asy'ari tokoh pendiri Nahdlatul Ulama.

Beliau dikaruniai empat orang putri dari pernikahannya dengan Sinta Nuriyah, yaitu Yenni Wahid, Alissa Qatrunnada Wahid, Anita Hayatunnuufus Wahid, dan Inayah Wulandari Wahid.

Seperti halnya Ayahnya, Gus Dur adalah sosok yang aktif dan berwawasan luas. sebagai pemimpin Nahdlatul Ulama (NU), Gus Dur merupakan salah satu tokoh yang sangat berpengaruh di rezim Soeharto. Saat tumbangnya orde baru, Gus Dur sempat menjabat sebagai presiden Republik Indonesia yg ke-4 menggantikan Baharuddin Jusuf Habibie secara demokratis pada tahun 1999 sebelum akhirnya dilengserkan oleh DPR secara politis.

Seperti halnya keluarganya yang berasal dari kalangan pesantren, Gus Dur kecil pun dibesarkan di dunia pesantren. Tidak hanya itu, orang tua Gus Dur juga membekali nya dengan ilmu sosial, ilmu pemikiran, dan ilmu agama.

Sejak kecil, Gus Dur kecil sudah mengaji kepada kakenya KH Hasyim Asyari di pesanntren Tebuireng sejak usia 5 tahun. Saat itu ia sudah pandai mengaji dan membaca Al-Qur’an. Sehingga setelah lulus Sekolah Dasar orang tuanya mengirimnya untuk melanjutkan mengaji di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta sealigus melanjutkan sekolah di Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) Gowongan. Setelah selesai mengaji di PP Krapyak Yogyakarta, Gus Dur melanjutkan nyantrinya di Pondok Pesantren Tegalrejo Magelang, dan Pondok Pesantren Tambakberas Jombang.

Proses belajar seorang Gus Dur tidak hanya di Pondok Pesantren. Setelah selesai nyantri beliau melanjutkan pendidikannya ke luar negeri yaitu ke Al-Azhar Mesir, Universitas Baghdad Irak, kemudian melanjutkan proses belajar di Belanda, Jerman, dan Perancis sebelum akhirnya kembli ke Indonesia.

Setelah kembali ke Indonesia pada tahun 1971, Gus Dur bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Eonomi dan Sosial (LP3ES), sebuah organisasi yang mewadahi kaum intelektual muslim progresif dan sosial demokrat. Disini Gus Dur berperan sebagai kontributor utama dalam majalah Prisma yang didirikan oleh LP3ES.

Tidak hanya itu, Gus Dur juga berkarir di dunia jurnalistik sebagai penulis Tempo dan Kompas. Hal ini menyebabkan artikel-artikel tulisannya dapat berkembang dan diterima dengan baik sebagai komentator sosial. Kemudian pada tahun 1977 Gus Dur bergabung di Universitas Hasyim Asy’ari dan menjabat sebagai Dekan Fakultas Praktik dan Kepercayaan Islam dengan mengajar beberapa mata kuliah seperti syariat Islam, pedagogi, dan misiologi.

Gus Dur dikenal sebagai sosok yang humanis dan humoris. Sehingga tidak sedikit buku-buku yang berisi tentang pemikiran dan koleksi humor ala Gus Dur. Dengan intelektualitasnya yang sangat tinggi, menyebabkan Gus Dur sering diundang kemana-mana untuk mengisi seminar dan memberikan kuliah.

Selain itu Gus Dur juga dikenal sebagai bapak pluralisme karena ia sangat menjunjung tinggi kemanusiaan. Ia tidak hanya mengkampanyekan soal kewajiban kita melindungi minoritas di dalam Indonesia saja, melainkan hal ini juga disampaikannya dalam pidatonya saat melakukan kunjungan luar negeri di Amerika Serikat. Dihadapan Negara adidaya ini pula Gus Dur menyampaikan betapa pentingnya melindungi minoritas dan menjunjung tinggi humanisme.

Hal ini yang menyebabkan Gus Dur terkenal sebagai Bapak Kemanusiaan dengan 9 konsep kemanusiaan ala pemikiran Gus Dur. Bahkan ia juga berpesan bahwa kelak ketika ia wafat, ia meminta agar di batu nisannya dituliskan “The Humanist died here”, dan dapat kita lihat saat berziarah ke makm Gus Dur hari ini, terdapat tulisan “Here Rest a Humanist” yang artinya “disini beristirahat Bapak Kemanusiaan”.

Hal ini sudah seharusnya menjadi catatan penting bagi kita untuk terus menularkan dan menyebarkan pemikiran dan ajaran Gus Dur sebagai refleksi dari sikap kemanusiaan yang diajarkan kepada kita semua.

Apabila saya diberi kesempatan untuk bertemu dengan beliau, saya ingin bertanya kepada Gus Dur, “Sudah pantaskah kita semua saat ini untuk disebut sebagai manusia yang memanusiakan manusia??”

No comments:

Post a Comment