Nuansa
pergerakan perempuan yang ada di Indonesia saat ini tidak menutup kemungkinan
karena mendapat pengaruh yang besar dari gerakan perempuan yang ada di belahan
dunia lain. Karena, jika kita telaah lebih jauh mengenai sejarahnya, tidak jauh
berbeda dengan fenomena gerakan perempuan di negara-negara lain yang pernah
mengalami kolonialisme Barat. Pengaruh tersebut sangat jelas sekali terdapat
dalam gagasannya RA. Kartini mengenai emansipasi wanita dan strategi perjuangan
organisasi-organisasi perempuan yang berusaha menekan adanya Undang-Undang
tentang perkawinan pada era 1950-an yang menggunakan model perjuangan reformasi
hukum. Seiring berjalannya waktu, perjuangan gerakan perempuan di Indonesia
tidak hanya berfokus pada bidang itu saja, namun juga berkembang pada isu-isu
lain seperti gender masalah peran ganda, perkosaan, aborsi, serta berbagai isu
gender lainnya.
Oleh sebab itu, Kartini mengajak para kaum muda untuk mengadakan
persatuan demi mewujudkan cita-cita kemajuan bangsanya, karena melihat kondisi
perlakuan ketidakadilan yang dialami perempuan di Indonesia terutama dalam
lingkungan keluarga adalah surat-surat Kartini dari tahun 1878 hingga 1904 yang
telah dibukukan pada abad ke-20 tersebut banyak berbicara mengenai nilai-nilai
tradisi jawa yang banyak membelenggu ruang gerak kaum perempuan dan
menjadikannya hanya bergantung pada kaum laki-laki saja sehingga membuatnya
tidak berdaya dan tidak memiliki peran yang signifikan ditengah-tengah masyarakatnya.
Kondisi semacam inilah yang tidak jauh berbeda dengan yang ada di Barat pada
saat itu. Secara proporsional, Kartini menempatkan kasus penindasan terhadap
perempuan sebagai permasalahan kultur budaya masyarakatnya, karena adat
istiadat masyarakat Jawa seperti poligami dan pingitan terhadap anak gadis
secara tidak langsung telah membatasi ruang geraknya sebagai perempuan.
Disamping itu, meskipun Kartini memiliki teman-teman baik Belanda yang
progresif, namun ia tetap mengecam sistem kolonialisme. Maka dari itu, strategi
perjuangan pergerakan yang dilakukan oleh Kartini pertama kali untuk mengatasi
permasalahan yang dialami kaumnya adalah melalui pendekatan pendidikan. Menurut
pandangannya, pendidikan merupakan pendekatan perjuangan yang cukup brilian
karena pendidikan dianggap sebagai syarat utama agar dapat membebaskan diri
dari segala kekurangan dan secara nyata pendidikan dapat mengubah sistem yang
ada dalam tata nilai masyarakat serta menawarkan berbagai kesempatan bagi kaum
perempuan untuk mengaktualisasikan dirinya dalam membawa perubahan untuk
kemajuan bangsa ini.
Berkat visi mulia itulah, RA. Kartini dianggap sebagai pendekar
kemerdekaan bangsa terutama bagi kaumnya. Mengenai seruannya tersebut, dicamkan
sungguh-sungguh oleh para kaum muda yang sedang belajar di Belanda pada saat
itu. Hal ini dibuktikan dengan berdirinya Indische Vereeniging di tahun 1911.
Ketika itu, seorang penyair Indonesia yang bernama Noto Soeroto menjelaskan
dalam pidatonya bahwa pemikiran Kartini sebagai pedoman untuk Indische
Vereeniging. Tak lama setelah itu, perkumpulan tersebut diberi nama perhimpuan
Indonesia.
Kemudian pada tahun 1912, telah berdiri organisasi perempuan yang diberi
nama Putri Mardika atas bantuan kaum pria dari perkumpulan Boedi Oetomo. Dengan
bantuan dari para kaum pria tersebut, dapat membantu menggerakkan kaum
perempuan dalam menyebarluaskan cita-cita untuk kemajuan rakyat, bangsa, terutama kaum perempuan itu sendiri.
Karena telah mendapat dukungan moral dari para kaum pria, khususnya yang beraliran
progresif, dimasa berikutnya ternyata langkah-langkah perjuangan Kartini
menjadi sebuah dorongan untuk para kaum perempuan terpelajar yang kemudian
mendirikan organisasi-organisasi modern. Pada saat itu, organisasi perempuan
dirasa sangat mendesak karena mengingat pada saat itu mulai muncul pandangan
bahwa perempuan adalah komponen penting dalam kemajuan sebuah bangsa, terutama
generasi mudanya. Bagi mereka, perjuangan ini tidak hanya melawan akibat dari
penjajahan saja, melainkan juga melawan adat istiadat yang mendeskriminasikan
perempuan. Program utama gerakan perempuan di Indonesia adalah memajukan
perempuan khususnya bidang pendidikan, menghilangkan ketidakadilan, terutama
dalam lembaga perkawinan. Pada awalnya mereka hanya fokus pada bidang perbaikan
kultural dan sosial saja, tapi juga karena dilatarbelakangi oleh munculnya
sikap nasionalisme yang berkembang akibat terlalu lamanya dijajah oleh bangsa
asing.
Hingga saat ini, cita-cita gerakan perempuan di Indonesia menjelma di
perguruan tinggi dalam bentuk kelompok maupun pusat studi wanita yang terdiri
dari peminat-peminat wanita ataupun pria. Disini mereka memfokuskan kegiatannya
tersebut untuk mempelajari fenomena gerakan perempuan sebagai gerakan sosial,
mengadakan penelitian sosial terkait perempuan, memahami dan mengembangkan
teori mengenai kedudukan dan peran seorang perempuan. Selain itu, studi wanita
juga berbentuk perkuliahan yang terdapat di fakultas-fakultas ilmu pengetahuan
sosial. Di Indonesia sendiri studi wanita baru dimulai pada tahun 1979 yang
bermunculan di perguruan tinggi baik negeri ataupun swasta pada akhir tahun
80-an berkat dukungan yang besar oleh menteri Negara UPW hingga saat ini yang
berjumlah hampir 60 buah. Adanya pusat studi wanita di Universitas Indonesia
ini dianggap perlu karena sangat membantu pemerintah dalam mengetahui potensi
perempuan dan hambatan yang dialaminya bahkan yang berada di daerah tertinggal
sekalipun demi kepentingan sosial. Di perguruan tinggi pun terdapat kesempatan
bagi perempuan secara khusus untuk memperdalam studinya dengan memperoleh gelar
magister (S2). Selain itu, saat ini juga gerakan perempuan telah menjelma dalam
bentuk lembaga bantuan hukum untuk perempuan dan keluarga yang ada di berbagai
daerah di Indonesia. Gerakan perempuan adalah sebuah usaha untuk mencapai
keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat di dunia khususnya di Indonesia yang
didukung oleh kaum perempuan dan laki-laki dari berbagai generasi,
organisasi-organisasi perempuan baik besar ataupun kecil oleh perguruan tinggi,
dan oleh lembaga pemerintahan baik negeri ataupun swasta, bahkan oleh dunia
internasional.

No comments:
Post a Comment