Sunday, September 22, 2019

GERAKAN PEREMPUAN DI INDONESIA




Nuansa pergerakan perempuan yang ada di Indonesia saat ini tidak menutup kemungkinan karena mendapat pengaruh yang besar dari gerakan perempuan yang ada di belahan dunia lain. Karena, jika kita telaah lebih jauh mengenai sejarahnya, tidak jauh berbeda dengan fenomena gerakan perempuan di negara-negara lain yang pernah mengalami kolonialisme Barat. Pengaruh tersebut sangat jelas sekali terdapat dalam gagasannya RA. Kartini mengenai emansipasi wanita dan strategi perjuangan organisasi-organisasi perempuan yang berusaha menekan adanya Undang-Undang tentang perkawinan pada era 1950-an yang menggunakan model perjuangan reformasi hukum. Seiring berjalannya waktu, perjuangan gerakan perempuan di Indonesia tidak hanya berfokus pada bidang itu saja, namun juga berkembang pada isu-isu lain seperti gender masalah peran ganda, perkosaan, aborsi, serta berbagai isu gender lainnya.

Oleh sebab itu, Kartini mengajak para kaum muda untuk mengadakan persatuan demi mewujudkan cita-cita kemajuan bangsanya, karena melihat kondisi perlakuan ketidakadilan yang dialami perempuan di Indonesia terutama dalam lingkungan keluarga adalah surat-surat Kartini dari tahun 1878 hingga 1904 yang telah dibukukan pada abad ke-20 tersebut banyak berbicara mengenai nilai-nilai tradisi jawa yang banyak membelenggu ruang gerak kaum perempuan dan menjadikannya hanya bergantung pada kaum laki-laki saja sehingga membuatnya tidak berdaya dan tidak memiliki peran yang signifikan ditengah-tengah masyarakatnya. Kondisi semacam inilah yang tidak jauh berbeda dengan yang ada di Barat pada saat itu. Secara proporsional, Kartini menempatkan kasus penindasan terhadap perempuan sebagai permasalahan kultur budaya masyarakatnya, karena adat istiadat masyarakat Jawa seperti poligami dan pingitan terhadap anak gadis secara tidak langsung telah membatasi ruang geraknya sebagai perempuan. Disamping itu, meskipun Kartini memiliki teman-teman baik Belanda yang progresif, namun ia tetap mengecam sistem kolonialisme. Maka dari itu, strategi perjuangan pergerakan yang dilakukan oleh Kartini pertama kali untuk mengatasi permasalahan yang dialami kaumnya adalah melalui pendekatan pendidikan. Menurut pandangannya, pendidikan merupakan pendekatan perjuangan yang cukup brilian karena pendidikan dianggap sebagai syarat utama agar dapat membebaskan diri dari segala kekurangan dan secara nyata pendidikan dapat mengubah sistem yang ada dalam tata nilai masyarakat serta menawarkan berbagai kesempatan bagi kaum perempuan untuk mengaktualisasikan dirinya dalam membawa perubahan untuk kemajuan bangsa ini.
Berkat visi mulia itulah, RA. Kartini dianggap sebagai pendekar kemerdekaan bangsa terutama bagi kaumnya. Mengenai seruannya tersebut, dicamkan sungguh-sungguh oleh para kaum muda yang sedang belajar di Belanda pada saat itu. Hal ini dibuktikan dengan berdirinya Indische Vereeniging di tahun 1911. Ketika itu, seorang penyair Indonesia yang bernama Noto Soeroto menjelaskan dalam pidatonya bahwa pemikiran Kartini sebagai pedoman untuk Indische Vereeniging. Tak lama setelah itu, perkumpulan tersebut diberi nama perhimpuan Indonesia.
Kemudian pada tahun 1912, telah berdiri organisasi perempuan yang diberi nama Putri Mardika atas bantuan kaum pria dari perkumpulan Boedi Oetomo. Dengan bantuan dari para kaum pria tersebut, dapat membantu menggerakkan kaum perempuan dalam menyebarluaskan cita-cita untuk kemajuan rakyat,   bangsa, terutama kaum perempuan itu sendiri. Karena telah mendapat dukungan moral dari para kaum pria, khususnya yang beraliran progresif, dimasa berikutnya ternyata langkah-langkah perjuangan Kartini menjadi sebuah dorongan untuk para kaum perempuan terpelajar yang kemudian mendirikan organisasi-organisasi modern. Pada saat itu, organisasi perempuan dirasa sangat mendesak karena mengingat pada saat itu mulai muncul pandangan bahwa perempuan adalah komponen penting dalam kemajuan sebuah bangsa, terutama generasi mudanya. Bagi mereka, perjuangan ini tidak hanya melawan akibat dari penjajahan saja, melainkan juga melawan adat istiadat yang mendeskriminasikan perempuan. Program utama gerakan perempuan di Indonesia adalah memajukan perempuan khususnya bidang pendidikan, menghilangkan ketidakadilan, terutama dalam lembaga perkawinan. Pada awalnya mereka hanya fokus pada bidang perbaikan kultural dan sosial saja, tapi juga karena dilatarbelakangi oleh munculnya sikap nasionalisme yang berkembang akibat terlalu lamanya dijajah oleh bangsa asing.
Hingga saat ini, cita-cita gerakan perempuan di Indonesia menjelma di perguruan tinggi dalam bentuk kelompok maupun pusat studi wanita yang terdiri dari peminat-peminat wanita ataupun pria. Disini mereka memfokuskan kegiatannya tersebut untuk mempelajari fenomena gerakan perempuan sebagai gerakan sosial, mengadakan penelitian sosial terkait perempuan, memahami dan mengembangkan teori mengenai kedudukan dan peran seorang perempuan. Selain itu, studi wanita juga berbentuk perkuliahan yang terdapat di fakultas-fakultas ilmu pengetahuan sosial. Di Indonesia sendiri studi wanita baru dimulai pada tahun 1979 yang bermunculan di perguruan tinggi baik negeri ataupun swasta pada akhir tahun 80-an berkat dukungan yang besar oleh menteri Negara UPW hingga saat ini yang berjumlah hampir 60 buah. Adanya pusat studi wanita di Universitas Indonesia ini dianggap perlu karena sangat membantu pemerintah dalam mengetahui potensi perempuan dan hambatan yang dialaminya bahkan yang berada di daerah tertinggal sekalipun demi kepentingan sosial. Di perguruan tinggi pun terdapat kesempatan bagi perempuan secara khusus untuk memperdalam studinya dengan memperoleh gelar magister (S2). Selain itu, saat ini juga gerakan perempuan telah menjelma dalam bentuk lembaga bantuan hukum untuk perempuan dan keluarga yang ada di berbagai daerah di Indonesia. Gerakan perempuan adalah sebuah usaha untuk mencapai keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat di dunia khususnya di Indonesia yang didukung oleh kaum perempuan dan laki-laki dari berbagai generasi, organisasi-organisasi perempuan baik besar ataupun kecil oleh perguruan tinggi, dan oleh lembaga pemerintahan baik negeri ataupun swasta, bahkan oleh dunia internasional.

No comments:

Post a Comment