Sebelum saya
menulis dengan tema ini, saya sempat merenungkan paradigma yang ada pada
diri saya sendiri. Saya adalah seorang
mahasiswa di Kampus Kajian IAIT Tribakti Kediri, tapi disisi lain saya juga
seorang santri di Pondok Pesantren Lirboyo.
Pada realitanya,
sebagai santri terutama santri putri, banyak sekali peraturan yang menurut saya
sangat membatasi ruang gerak mereka yang dampaknya membuat mereka tidak banyak
berkembang karena dibatasi oleh peraturan yang sangat mengekang.
Contohnya adalah
berada di kampus hanya dibatasi ketika memiliki jadwal kuliah saja, tidak
diperbolehkannya seorang santri putri mengikuti organisasi di luar kampus, dan
masih banyak yang lainnya.
Disisi lain, sebagai
seorang mahasiswa yang disitu merupakan kaum cendekiawan, kaum intelektual,
yang diharapkan kepekaannya terhadap problematika yang ada di masyarakat,
seharusnya adalah sosok yang berjiwa sosial, yang melek terhadap arus perubahan
dunia, aktif menyuarakan jeritan rakyat kecil, dan juga peduli kepada kaum yang
tertindas. Disitulah letak peran kita
sebagai mahasiswa yang berguna.
Oleh karena itu,
untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut tak selayaknya seorang mahasiswa hanya
datang, duduk, diam, menerima mata kuliah, mengerjakan tugas, kemudian pulang
begitu saja. Lalu apa gunanya kita sebagai mahasiswa jika rutinitasnya hanyalah
semacam itu?
Padahal, menurut
presentase rata-rata dosen di Kampus IAI Tribakti, ilmu yang kita peroleh dari
dalam kelas hanyalah 25%, dengan kita membaca sendiri sebanyak 25%, kemudian
50% nya dapat kita peroleh dengan cara mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa dan
juga cara lain dalam berproses, baik dengan dengan mengikuti kegiatan seminar,
workshop, atau diskusi interaktif yang lain.
Disinilah letak
benang merahnya, dua keadaan yang sangat berkontradiksi. Di satu sisi sebagai
seorang mahasiswa kita dituntut harus aktif dan berproses, tapi disisi lain
kita terperangkap peraturan yang membatasi ruang gerak kita. Lalu bagaimanakah solusi
yang tepat bagi kita yang notabene nya seorang mahasiswa sekaligus seorang
santri jika ingin maju dan berkembang?
1.
Manage waktu
dengan baik
Mahasiswa adalah
seorang individu yang tingkat pemikirannya sudah dianggap cukup matang.
Tentunya sudah bisa mengatur waktunya dengan baik. Contohnya apabila jam kuliah
selesai lebih awal, atau jika ada salah satu dosen yang berhalangan memberikan
mata kuliah,maka gunakanlah sisa waktumu sebaik mungkin. Waktu adalah emas
kawan! Jangan sia-siakan waktumu itu hanya untuk duduk menikmati kopi tanpa
berdiskusi.
2.
Banyak menambah
wawasan
Ada banyak cara
untuk menambah wawasan yang kita miliki, contoh paling sederhana adalah membaca
buku. Dengan membaca buku kita membuka jendela dunia, kita mendapat pengetahuan
yang baru. Atau dapat pula dengan cara berdiskusi, karena diskusi merupakan
suatu sarana tempat kita bertukar pikiran dan menyampaikan argumen dengan cara
yang terstruktur.
3.
Pilihlah
organisasi yang tepat
Hal ini sangat
penting karena organisasi melatih kita untuk menjadi orang yang berperan.
Berorganisasi melatih diri kita untuk bekerjasama dalam mencapai tujuan.
Memilih organisasi yang tepat adalah bergabung dengan organisasi yang memang
sesuai dengan jati dirimu. Sehingga, dibidang mana kamu ingin berproses, maka
bergabunglah dengan organisasi tersebut.
Dari beberapa
paparan diatas, setidaknya dapat memberi sedikit solusi untuk merubah keadaan
yang sangat menghimpit paradigma sebagai mahasiswa sekaligus santri. Sehingga
majemuknya dinding pesantren tidak akan menghalangi kita dalam berproses.
Marilah sedikit
kita ubah pola pikir yang terlalu kolot menjadi lebih terbuka supaya kelak
pasca lulus dari bangku kuliah mahasiswa bukanlah sarjana semata yang vakum
akan pengalaman dan juga wawasan. Akan tetapi mahasiswa sekaligus santri yang
berdedikasi untuk masyarakat dan juga agama islam.

No comments:
Post a Comment