Sunday, September 22, 2019

Mahasiswa plus Santri, no different



Sebelum saya menulis dengan tema ini, saya sempat merenungkan paradigma yang ada pada diri  saya sendiri. Saya adalah seorang mahasiswa di Kampus Kajian IAIT Tribakti Kediri, tapi disisi lain saya juga seorang santri di Pondok Pesantren Lirboyo.
Pada realitanya, sebagai santri terutama santri putri, banyak sekali peraturan yang menurut saya sangat membatasi ruang gerak mereka yang dampaknya membuat mereka tidak banyak berkembang karena dibatasi oleh peraturan yang sangat mengekang.

Contohnya adalah berada di kampus hanya dibatasi ketika memiliki jadwal kuliah saja, tidak diperbolehkannya seorang santri putri mengikuti organisasi di luar kampus, dan masih banyak yang lainnya.
Disisi lain, sebagai seorang mahasiswa yang disitu merupakan kaum cendekiawan, kaum intelektual, yang diharapkan kepekaannya terhadap problematika yang ada di masyarakat, seharusnya adalah sosok yang berjiwa sosial, yang melek terhadap arus perubahan dunia, aktif menyuarakan jeritan rakyat kecil, dan juga peduli kepada kaum yang tertindas.  Disitulah letak peran kita sebagai mahasiswa yang berguna.
Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut tak selayaknya seorang mahasiswa hanya datang, duduk, diam, menerima mata kuliah, mengerjakan tugas, kemudian pulang begitu saja. Lalu apa gunanya kita sebagai mahasiswa jika rutinitasnya hanyalah semacam itu?
Padahal, menurut presentase rata-rata dosen di Kampus IAI Tribakti, ilmu yang kita peroleh dari dalam kelas hanyalah 25%, dengan kita membaca sendiri sebanyak 25%, kemudian 50% nya dapat kita peroleh dengan cara mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa dan juga cara lain dalam berproses, baik dengan dengan mengikuti kegiatan seminar, workshop, atau diskusi interaktif yang lain.
Disinilah letak benang merahnya, dua keadaan yang sangat berkontradiksi. Di satu sisi sebagai seorang mahasiswa kita dituntut harus aktif dan berproses, tapi disisi lain kita terperangkap peraturan yang membatasi ruang gerak kita. Lalu bagaimanakah solusi yang tepat bagi kita yang notabene nya seorang mahasiswa sekaligus seorang santri jika ingin maju dan berkembang?
1.            Manage waktu dengan baik
Mahasiswa adalah seorang individu yang tingkat pemikirannya sudah dianggap cukup matang. Tentunya sudah bisa mengatur waktunya dengan baik. Contohnya apabila jam kuliah selesai lebih awal, atau jika ada salah satu dosen yang berhalangan memberikan mata kuliah,maka gunakanlah sisa waktumu sebaik mungkin. Waktu adalah emas kawan! Jangan sia-siakan waktumu itu hanya untuk duduk menikmati kopi tanpa berdiskusi.
2.            Banyak menambah wawasan
Ada banyak cara untuk menambah wawasan yang kita miliki, contoh paling sederhana adalah membaca buku. Dengan membaca buku kita membuka jendela dunia, kita mendapat pengetahuan yang baru. Atau dapat pula dengan cara berdiskusi, karena diskusi merupakan suatu sarana tempat kita bertukar pikiran dan menyampaikan argumen dengan cara yang terstruktur.
3.            Pilihlah organisasi yang tepat
Hal ini sangat penting karena organisasi melatih kita untuk menjadi orang yang berperan. Berorganisasi melatih diri kita untuk bekerjasama dalam mencapai tujuan. Memilih organisasi yang tepat adalah bergabung dengan organisasi yang memang sesuai dengan jati dirimu. Sehingga, dibidang mana kamu ingin berproses, maka bergabunglah dengan organisasi tersebut.
Dari beberapa paparan diatas, setidaknya dapat memberi sedikit solusi untuk merubah keadaan yang sangat menghimpit paradigma sebagai mahasiswa sekaligus santri. Sehingga majemuknya dinding pesantren tidak akan menghalangi kita dalam berproses.
Marilah sedikit kita ubah pola pikir yang terlalu kolot menjadi lebih terbuka supaya kelak pasca lulus dari bangku kuliah mahasiswa bukanlah sarjana semata yang vakum akan pengalaman dan juga wawasan. Akan tetapi mahasiswa sekaligus santri yang berdedikasi untuk masyarakat dan juga agama islam.

No comments:

Post a Comment