Saturday, November 27, 2021

Pesona Budaya Sendang Tirto Kamandanu dan Napak Tilas Pamuksan Prabu Aji Joyoboyo Kediri

Sendang Tirto Kamandanu adalah sebuah tempat yang menjadi jejak sejarah peninggalan Kerajaaan Kediri di masa pemerintahan Prabu Sri Aji Joyoboyo. Tempat ini merupakan salah satu warisan budaya yang masih dilestarikan hingga saat ini.

Dalam Bahasa Jawa, sendang berarti kolam, tirto berarti air, dan kamandanu berarti kehidupan. Jadi secara makna Sendang Tirto Kamandanu berarti kolam yang mengandung sumber mata air bagi kehidupan.

Sendang tirto kamandanu terletak 200 meter dari Pamuksan Prabu Aji Joyoboyo, yaitu di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri Provinsi Jawa Timur. Dibutuhkan waktu sekitar 30 menit dari pusat kota Kediri untuk mencapai tempat ini.

Pada bagian depan Sendang Tirto Kamandanu terdapat sebuah gapura bercorak Buddha, dan didalamnya terdapat bagian patung Hindu yang bernama Herihara, di bagian depan patung Trimurti (yaitu Siwa, Brahma, dan Wisnu), dan bagian belakang patung Ganesha. Tidak hanya itu, berdasarkan cerita dari masyarakat sekitar, semua tempat ini dulunya dibangun oleh orang Islam. Hal ini menunjukkan betapa beragamnya budaya kita dan besarnya solidaritas umat beragama di Indonesia.

Tempat ini dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai tempat yang digunakan oleh Prabu Aji Joyoboyo untuk melukad (mandi dan bersuci) sebelum melakukan “Prama Mokhsa” atau menghilang bersama jasadnya. Menurut legenda masyarakat sekitar, Prabu Aji Joyoboyo tidak dikatakan meninggal karena hingga saat ini jasadnya tidak diketemukan. 

Selain itu, Sendang Tirto Kamandanu memiliki banyak keistimewaan karena tempat ini dianggap sebagai patirtan atau petirtaan yaitu mata air yang dianggap suci, sehingga air dari Sendang Tirto Kamandanu ini banyak digunakan oleh para pengunjung untuk keperluan berdasarkan keyakinan masing-masing. Tujuan dari mereka sangat beragam yaitu untuk mandi, sekedar mencuci tangan atau kaki, bahkan ada pula yang mengambil air didalamnya untuk dibawa pulang.

Tidak jauh dari Sendang Tirto Kamandanu, terdapat sebuah pamuksan Prabu Aji Joyoboyo. Seorang Raja Kediri yang terkenal dengan kitab Jangka Jayabayanya. Prabu Aji Joyoboyo telah mencapai masa kejayaan dalam memerintah Kerajaan Kediri pada tahun 1135-1157 Masehi. Namun hingga saat ini, tidak ada yang pernah tau dimana kitab jangka jayabaya dan seluruh peninggalan kerajaan kediri berada.

Sebelum memasuki pamuksan Prabu Aji Joyoboyo terdapat tiga buah pintu yang dipercaya oleh masyarakat sebagai tiga pintu alam kehidupan manusia yaitu alam kandungan, alam nyata, dan alam sukma/akhirat. Dimana setiap pintu memiliki fungsinya masing masing, mulai dari pintu sebelah barat khusus digunakan untuk masuk kedalam muksa bagi yang hendak melaksanakan ritual, kemudian pintu yang tengah khusus digunakan untuk juru kunci, dan pintu yang paling timur digunakan untuk keluar.

Selain itu di dalam pamuksan ini terdapat beberapa tempat penting yang disebut dengan loka. Yang terdiri dari loka busana, loka makuta, dan loka muksa. Loka busana berarti tempat dimana Prabu Aji Joyoboyo meletakkan busananya, loka makuta berarti tempat beliau meletakkan mahkotanya, loka muksa berarti tempat beliau muksa, dan Sendang Tirto Kamandanu adalah tempat Prabu Aji Joyoboyo mandi atau bersuci sebelum muksa.

Meskipun Pameksan Prabu Aji Joyoboyo dan Sendang Tirto Kamandanu merupakan dua tempat yang terpisah, namun keduanya merupakan satu kesatuan. Hal ini dibuktikan karena hingga saat ini kedua tempat ini dijadikan sebagai tempat melaksanakan ritual besar tahunan pada tanggal 1 Suro dalam Bahasa Jawa atau tanggal 1 Muharram dalam kalender Hijriyah. Upacara ritual suroan ini sudah dimulai sejak tahun 1972-an jauh sebelum tempat ini dipugar. Dahulu, tempat ini merupakan sebuah tempat yang dianggap keramat oleh masyarakat. Hingga akhirnya beberapa tahun setelahnya kedua tempat ini dipugar oleh Yayasan Hondodento Yogyakarta.

Upacara ritual ini diadakan untuk menghormati Prabu Aji Jayabaya dan mengenang napak tilasnya, sekaligus menjadi agenda wisata budaya rutinan setiap tahun. Upacara ini diikuti oleh seluruh warga desa Menang khususnya yang telah dipilih menjadi pelaku upacara oleh panitia. Selain itu, setiap tahun pihak Yayasan hondodento Yogyakarta selalu hadir dalam ritual suroan ini serta banyak pengunjung dari berbagai kota lain.

Rangkaian acara ritual suroan ini dimulai dengan doa bersama yang digelar di balai desa Menang. Kemudian dilanjutkan dengan upacara adat yaitu prosesi kirab atau iring-iringan menuju pameksan Prabu Aji Joyoboyo. Dalam melaksanakan kirab budaya ini, semua warga menggunakan pakaian adat Jawa yang menggambarkan Kerajaan Kediri dahulu kala yang terdiri dari para sesepuh, pembawa payung pusaka, pembawa bunga, dan warga sekitar.

Prosesi utama dilaksanakan di pameksan yaitu prosesi tabur bunga dan penyemayaman pusaka Prabu Aji Joyoboyo dan dilanjutkan doa yang dipimpin oleh sesepuh. Segala prosesi upacara ritual 1 Suro ini diakhiri di Sendang Tirto Kamandanu yang dipercaya dapat membuang sial dan seluruh pengaruh jahat.

Selain itu Peran dari pemerintah desa dalam upacara ritual suroan ini sangat besar, yaitu membentuk kepengurusan ritual suroan, yang nantinya akan membentuk struktur kepanitian yang bertugas mempersiapkan seluruh kebutuhan acara 4 bulan jauh sebelum hari H. selain itu, pemerintah desa juga memberi bantuan pendanaan, menyediakan berbagai fasilitas untuk berlatih, inventaris dan peralatan ritual, serta berbagai macam keperluan melaksanakan upacara. Dan yang terpenting pemerintah desa juga bekerjasama dengan dinas pariwisata kabupaten untuk mendukung semua hal yang berkaitan dengan pelestarian adat budaya dari leluhur ini.

Hingga saat ini, upacara ritual 1 suro ini masih terus dilestarikan oleh masyarakat setempat sebagai warisan budaya lokal. Tidak hanya itu, mereka juga mengajak anak-anak sejak kecil untuk nyantrek/mengikuti dan mengamati proses upacara adat ini dengan harapan kelak Ketika mereka sudah dewasa jiwanya akan terpanggil sendiri untuk meneruskan adat istiadat dan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur terdahulu.

Sudah menjadi tugas kita sebagai generasi selanjutnya untuk menjaga adat istiadat dan budaya turun temurun bangsa kita yang sangat beragam ini terlepas dari apapun keyakinannya.

 

No comments:

Post a Comment