Sendang Tirto Kamandanu adalah sebuah tempat yang menjadi jejak sejarah peninggalan Kerajaaan Kediri di masa pemerintahan Prabu Sri Aji Joyoboyo. Tempat ini merupakan salah satu warisan budaya yang masih dilestarikan hingga saat ini.
Dalam Bahasa Jawa, sendang
berarti kolam, tirto berarti air, dan kamandanu berarti kehidupan. Jadi secara
makna Sendang Tirto Kamandanu berarti kolam yang mengandung sumber mata air
bagi kehidupan.
Sendang tirto kamandanu terletak 200 meter dari Pamuksan Prabu Aji Joyoboyo, yaitu di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri Provinsi Jawa Timur. Dibutuhkan waktu sekitar 30 menit dari pusat kota Kediri untuk mencapai tempat ini.
Pada bagian depan Sendang Tirto Kamandanu terdapat
sebuah gapura bercorak Buddha, dan didalamnya terdapat bagian patung Hindu yang
bernama Herihara, di bagian depan patung Trimurti (yaitu Siwa, Brahma, dan
Wisnu), dan bagian belakang patung Ganesha. Tidak hanya itu, berdasarkan cerita
dari masyarakat sekitar, semua tempat ini dulunya dibangun oleh orang Islam.
Hal ini menunjukkan betapa beragamnya budaya kita dan besarnya solidaritas umat
beragama di Indonesia.
Tempat ini dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai tempat
yang digunakan oleh Prabu Aji Joyoboyo untuk melukad (mandi dan bersuci)
sebelum melakukan “Prama Mokhsa” atau menghilang bersama jasadnya. Menurut
legenda masyarakat sekitar, Prabu Aji Joyoboyo tidak dikatakan meninggal karena
hingga saat ini jasadnya tidak diketemukan.
Selain itu, Sendang Tirto Kamandanu memiliki banyak
keistimewaan karena tempat ini dianggap sebagai patirtan atau petirtaan yaitu
mata air yang dianggap suci, sehingga air dari Sendang Tirto Kamandanu ini
banyak digunakan oleh para pengunjung untuk keperluan berdasarkan keyakinan
masing-masing. Tujuan dari mereka sangat beragam yaitu untuk mandi, sekedar
mencuci tangan atau kaki, bahkan ada pula yang mengambil air didalamnya untuk
dibawa pulang.
Tidak jauh dari Sendang Tirto Kamandanu, terdapat
sebuah pamuksan Prabu Aji Joyoboyo. Seorang Raja Kediri yang terkenal dengan
kitab Jangka Jayabayanya. Prabu Aji Joyoboyo telah mencapai masa kejayaan dalam
memerintah Kerajaan Kediri pada tahun 1135-1157 Masehi. Namun hingga saat ini,
tidak ada yang pernah tau dimana kitab jangka jayabaya dan seluruh peninggalan
kerajaan kediri berada.
Sebelum memasuki pamuksan Prabu Aji Joyoboyo terdapat
tiga buah pintu yang dipercaya oleh masyarakat sebagai tiga pintu alam
kehidupan manusia yaitu alam kandungan, alam nyata, dan alam sukma/akhirat. Dimana
setiap pintu memiliki fungsinya masing masing, mulai dari pintu sebelah barat
khusus digunakan untuk masuk kedalam muksa bagi yang hendak melaksanakan
ritual, kemudian pintu yang tengah khusus digunakan untuk juru kunci, dan pintu
yang paling timur digunakan untuk keluar.
Selain itu di dalam pamuksan ini terdapat beberapa
tempat penting yang disebut dengan loka. Yang terdiri dari loka busana, loka
makuta, dan loka muksa. Loka busana berarti tempat dimana Prabu Aji Joyoboyo
meletakkan busananya, loka makuta berarti tempat beliau meletakkan mahkotanya, loka
muksa berarti tempat beliau muksa, dan Sendang Tirto Kamandanu adalah tempat Prabu
Aji Joyoboyo mandi atau bersuci sebelum muksa.
Meskipun Pameksan Prabu Aji Joyoboyo dan Sendang Tirto
Kamandanu merupakan dua tempat yang terpisah, namun keduanya merupakan satu
kesatuan. Hal ini dibuktikan karena hingga saat ini kedua tempat ini dijadikan
sebagai tempat melaksanakan ritual besar tahunan pada tanggal 1 Suro dalam
Bahasa Jawa atau tanggal 1 Muharram dalam kalender Hijriyah. Upacara ritual suroan
ini sudah dimulai sejak tahun 1972-an jauh sebelum tempat ini dipugar. Dahulu,
tempat ini merupakan sebuah tempat yang dianggap keramat oleh masyarakat.
Hingga akhirnya beberapa tahun setelahnya kedua tempat ini dipugar oleh Yayasan
Hondodento Yogyakarta.
Upacara ritual ini diadakan untuk menghormati Prabu
Aji Jayabaya dan mengenang napak tilasnya, sekaligus menjadi agenda wisata
budaya rutinan setiap tahun. Upacara ini diikuti oleh seluruh warga desa Menang
khususnya yang telah dipilih menjadi pelaku upacara oleh panitia. Selain itu,
setiap tahun pihak Yayasan hondodento Yogyakarta selalu hadir dalam ritual
suroan ini serta banyak pengunjung dari berbagai kota lain.
Rangkaian acara ritual suroan ini dimulai dengan doa
bersama yang digelar di balai desa Menang. Kemudian dilanjutkan dengan upacara
adat yaitu prosesi kirab atau iring-iringan menuju pameksan Prabu Aji Joyoboyo.
Dalam melaksanakan kirab budaya ini, semua warga menggunakan pakaian adat Jawa
yang menggambarkan Kerajaan Kediri dahulu kala yang terdiri dari para sesepuh,
pembawa payung pusaka, pembawa bunga, dan warga sekitar.
Prosesi utama dilaksanakan di pameksan yaitu prosesi
tabur bunga dan penyemayaman pusaka Prabu Aji Joyoboyo dan dilanjutkan doa yang
dipimpin oleh sesepuh. Segala prosesi upacara ritual 1 Suro ini diakhiri di
Sendang Tirto Kamandanu yang dipercaya dapat membuang sial dan seluruh pengaruh
jahat.
Selain itu Peran dari pemerintah desa dalam upacara
ritual suroan ini sangat besar, yaitu membentuk kepengurusan ritual suroan,
yang nantinya akan membentuk struktur kepanitian yang bertugas mempersiapkan
seluruh kebutuhan acara 4 bulan jauh sebelum hari H. selain itu, pemerintah
desa juga memberi bantuan pendanaan, menyediakan berbagai fasilitas untuk
berlatih, inventaris dan peralatan ritual, serta berbagai macam keperluan melaksanakan
upacara. Dan yang terpenting pemerintah desa juga bekerjasama dengan dinas
pariwisata kabupaten untuk mendukung semua hal yang berkaitan dengan pelestarian
adat budaya dari leluhur ini.
Hingga saat ini, upacara ritual 1 suro ini masih terus
dilestarikan oleh masyarakat setempat sebagai warisan budaya lokal. Tidak hanya
itu, mereka juga mengajak anak-anak sejak kecil untuk nyantrek/mengikuti dan mengamati
proses upacara adat ini dengan harapan kelak Ketika mereka sudah dewasa jiwanya
akan terpanggil sendiri untuk meneruskan adat istiadat dan budaya yang telah diwariskan
oleh para leluhur terdahulu.
Sudah menjadi tugas kita sebagai generasi selanjutnya untuk
menjaga adat istiadat dan budaya turun temurun bangsa kita yang sangat beragam
ini terlepas dari apapun keyakinannya.
No comments:
Post a Comment