Memperingati tahun baru sudah menjadi sebuah kebudayaan yang secara turun temurun diadakan oleh nenek moyang bangsa kita. Hal ini menjadi semacam tradisi dan adat istiadat yang terus dilestarikan kepada generasi setelahnya hingga saat ini.
Salah satu tradisi peringatan tahun baru yang masih rutin diadakan setiap tahun oleh masyarakat berbagai daerah di Indonesia adalah ritual budaya 1 Suro atau suroan. Yaitu sebuah upacara ritual khusus yang dilaksanakan pada tahun baru kalender Jawa atau tahun baru Hijriyah dalam kalender Islam.
Salah
satu bentuk upacara ritual suroan yang menjadi warisan budaya lokal
adalah yang berlangsung di Desa Menang Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri Provinsi
Jawa Timur. Upacara ritual suroan di Desa Menang ini dilaksanakan di
tempat yang menjadi saksi berdirinya Kerajaan Kediri pada masa pemerintahan
Prabu Sri Aji Joyoboyo (1135-1157 M) yaitu Pameksan Prabu Sri Aji Joyoboyo dan
Sendang Tirto Kamandanu.
Sejarah
Ritual Suroan Desa Menang
Tradisi
suroan ini pertama kali diadakan di Desa Menang pada sekitar tahun 72-an
di tempat yang dulunya dianggap sakral dan dikeramatkan oleh masyarakat
sekitar. Tempat ini disebut pamuksan atau tempat terjadinya muksa Prabu
Sri Aji Joyoboyo. Menurut kepercayaan dinamisme dan animisme pada saat itu,
seseorang yang telah mencapai derajat kesempurnaan spiritualitas tertinggi adalah
dengan muksa (menghilang beserta jasadnya). Oleh sebab itu, masyarakat
sekitar mengkeramatkan tempat ini dan memberi penghormatan kepada Sang Prabu
Sri Aji Joyoboyo melalui upacara ritual yang dilaksanakan setiap tanggal 1
Suro.
Pada
saat itu, tempat pamuksan Prabu Sri Aji Joyoboyo masih berupa alas dan hutan.
Hingga beberapa tahun setelahnya, tradisi suroan yang diadakan oleh warga Desa
Menang ini terdengar oleh Keluarga Yayasan Hondodento Yogyakarta. Yang mana
salah satu fungsinya adalah merawat, mencari, menelusuri, dan melestarikan
situs-situs yang ada hubungannya dengan silsilah keraton. Selain itu, hal ini
disebabkan karena menurut silsilah keluarga kerajaan seperti Keraton Jogja dan
Solo, hampir semua raja-raja yang pernah bertakhta di tanah Jawa ini bergenerasi
dan masih memiliki silsilah keturunan keatas seperti kerajaan Mataram Islam, Pajang,
Demak, Majapahit, Singosari, dan Kediri. Salah satu keturunan kerajaan yang dipercaya
masih berkesinambungan secara silsilah adalah Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo.
Sehingga, pihak Yayasan Hondodento melakukan pencarian secara spiritual dan logis
untuk memastikan keberadaan tempat ini.
Berawal
dari sini, akhirnya semakin dipercaya bahwa tempat ini benar-benar pameksan
Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo. Hal ini menyebabkan semakin banyak pengunjung berdatangan
bahkan dari luar kota untuk mengikuti upacara ritual suroan atau hanya
sekedar berkunjung dan berwisata.
Setelah
mengetahui hal tersebut, Yayasan Hondodento berkoordinasi dengan pemerintah
desa setempat untuk melakukan pemugaran dan pembangunan Pameksan Prabu Sri Aji
Joyoboyo dan Sendang Tirto Kamandanu. Kedua tempat ini memiliki keterkaitan
sejarah. Sendang Tirto Kamandanu merupakan kolam pemandian yang dipercaya
sebagai tempat Prabu Sri Aji Joyoboyo melukad (mandi atau bersuci)
sebelum melakukan muksa. Setelah kedua tempat tersebut dipugar oleh
Yayasan Hondodento, ritual suroan Desa Menang dilaksanakan oleh pihak keluarga
Keraton Yogyakarta. Karena yang pertama kali melakukan pemugaran terhadap tempat
ini adalah Keluarga Keraton, maka segala prosesi dan ritual dalam upacara ini bernuansakan
ciri khas adat Keraton Yogyakarta.
Pada
saat itu, saat hendak melaksanakan ritual suroan di Desa Menang, keluarga
keraton mempersiapkan segala kebutuhan upacara dari Yogyakarta. Setelah
berjalan selama beberapa tahun, pihak Yayasan Hondodento memutuskan untuk
memberi kepercayaan kepada masyarakat Desa Menang untuk melanjutkan tradisi
ritual suroan ini. Selain itu, Yayasan Hondodento juga menyerahkan seluruh
tanggungjawab untuk menjaga, merawat, dan melestarikan situs pameksan Prabu Aji
Joyoboyo dan Sendang Tirto Kamandanu kepada pemerintah Desa Menang.
Proses
Pelestarian Ritual Suroan Desa Menang
Memasuki
tahun 80-an, estafet pelestarian budaya ritual suroan ini beralih dari Yayasan
Hondodento kepada masyarakat Desa Menang. Kemudian Pemerintah Desa membentuk struktur
kepengurusan yang terdiri dari beberapa warga yang bertanggungjawab penuh pada
pelestarian ritual tahunan ini.
Hal
ini mencakup semua persiapan ritual. Meliputi tempat pelaksanaannya yaitu
Pameksan Prabu Aji Joyoboyo dan Sendang Tirto Kamandanu, pelaku upacara,
petugas pembawa payung, penabur bunga, para penari, dan lain-lain. Selain itu,
mereka juga membentuk struktur kepanitiaan yang mengkoordinir segala persiapan tersebut
selama 4 bulan sebelum pelaksanaan upacara.
Dikarenakan
upacara ini merupakan ritual besar tahunan, maka diperlukan persiapan yang
sangat matang terutama bagi pelaku upacara. Pihak pemerintah desa memberi
fasilitas Gedung Balai Desa yang dapat digunakan untuk berlatih sewaktu-waktu.
Para pelaku upacara melakukan latihan sekali dalam seminggu. Berbeda dengan
penari dan penabur bunga yang harus melakukan latihan lebih rutin yaitu dua kali
dalam seminggu. Pelaku upacara sendiri secara umum dalam kondisi normal terdiri
dari 120 orang pemuda-pemudi, remaja, anak-anak, orang tua, dan sesepuh. Yang
mana mereka semua harus berlatih untuk berjalan sesuai dengan ciri khas Keraton
Yogyakarta.
Prosesi
upacara ritual suroan diawali dengan do’a bersama di pagi hari yang
digelar di Balai Desa Menang dan dipimpin oleh sesepuh. Kemudian dilanjutkan
dengan kirab budaya atau berjalan iring-iringan menuju ke Pameksan Prabu Sri Aji
Joyoboyo tanpa menggunakan alas kaki. Dilanjutkan dengan prosesi tabur bunga di
Pameksan dan seluruh prosesi ritual ditutup di Sendang Tirto Kamandanu. Menurut
legenda masyarakat sekitar, hal ini dipercaya dapat membuang sial dan seluruh
pengaruh jahat.
Tantangan
Dalam Pelaksanaan Ritual Suroan Desa Menang
Dalam
melaksanakan ritual tahunan ini, selalu terdapat hambatan atau kendala yang
berbeda di setiap tahunnya. Hal ini disebabkan oleh faktor internal dan
kapasitas kemampuan dari kepanitiaan sendiri. “Saya tidak memandang ini
kendala, melainkan tantangan. Jadi pasti ada tantangan yang berbeda di setiap
tahunnya. Tugas kami dari kepanitiaan harus menyiapkan banyak metode alternatif
apabila nanti tiba-tiba menemukan hambatan ditengah prosesi ritual. Entah itu
dari para pendatang yang membludak ataupun dari pelaku upacara sendiri”, Ujar
Pak Sony Prasetyo selaku sekertaris kepengurusan ritual satu suro Desa Menang.[i]

Kendala
yang paling sering dihadapi menjelang ritual suroan adalah ketika jumlah
pengunjung yang datang dari luar kota membludak. Baik itu pengunjung pribadi,
kelompok, paguyuban, komunitas, dan lain-lain. Mereka semua datang karena
memenuhi panggilan batin dan spiritual untuk ikut menghormati napak tilas Sang
Prabu Sri Aji Joyoboyo terlepas apapun keyakinannya. “Mereka semua yang datang
kesini beda-beda mbak agamanya, ada yang Hindu, Buddha, Kristen dan Islam.
Bahkan sering banget rombongan pesantren juga ziaroh kesini. Semua tumplek
blek jadi satu. Tujuannya mereka semua sama, cari keberkahan di tempat yang
keramat (dianggap mulia) dan berdoa kepada Tuhannya masing-masing”. Ujar Pak
Mukri selaku juru kunci pamuksan Prabu Sri Aji Joyoboyo dalam wawancara yang
dilakukan oleh penulis.[ii]
Dikarenakan
membludaknya pengunjung yang datang untuk mengikuti upacara, pihak pengurus
sering kewalahan dalam menyambut dan melayani setiap tamu yang datang. Sehingga
panitia mengadakan kerjasama dengan para pengurus RT/RW setempat agar membantu
mengkondisikan tempat singgah bagi para tamu yang datang.
Selain
itu, pada prosesi kirab atau iring-iringan dari balai desa menuju pameksan berlangsung
di siang hari saat cuaca begitu panas-panasnya. Maka panitia memberi solusi
alternatif dengan menyediakan karpet merah agar para pelaku upacara dapat tahan
apabila berjalan tanpa menggunakan alas kaki.
Apabila
hal ini dilihat secara historis dan filosofis, tentu kurang etis apabila
memberi penghormatan kepada seorang Raja dengan berjalan diatas karpet merah.
Namun karena dipandang demi kemaslahatan semua pelaku upacara, maka panitia
menerapkan kebijakan ini sebagai solusi.
Dikarenakan
ritual tahunan ini merupakan sebuah warisan budaya dan tradisi para leluhur,
maka pihak panitia ritual suroan terus mengupayakan kenyamanan bagi
seluruh pelaku upacara dan pengunjung yang datang dari berbagai daerah. Karena
mau diakui atau tidak, kedatangan para pengunjung memberi pengaruh untuk
menggerakkan perekonomian warga Desa Menang. Khususnya bagi para pedagang kecil
seperti penjual bunga, makanan, minuman, dan tukang parkir. Hal ini mendorong
panitia untuk terus berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Kediri dan Muspika
(Musyawarah Pimpinan Kecamatan) yang terdiri dari Camat, Koramil, dan Kapolsek
untuk meningkatkan keamanan bagi seluruh pengunjung dan peserta upacara pada
hari itu.
Berbagai
upaya ini dilakukan dengan tujuan mempertegas jati diri bangsa, melestarikan
adat budaya para leluhur, dan membina kerukunan sesama umat beragama di
Indonesia. Selain itu, pengurus ritual suroan Desa Menang memiliki
harapan besar kepada pemuda-pemudi yang diajak mengikuti ritual ini sejak kecil
(nyantrek) kelak ketika mereka sudah dewasa akan menjadi generasi
penerus yang melanjutkan estafet pelestarian budaya bangsa ini.
[i] Wawancara
Dengan Bapak Sony Prasetyo: Sekretaris Pengurus Ritual Suroan Desa Menang,
Tanggal 12 Oktober 2021 di Balai Desa Menang, Kabupaten Kediri.
[ii] Wawancara Dengan Bapak Mukri: Juru
Kunci Pamuksan Prabu Sri Aji Joyoboyo, Tanggal 12 Oktober 2021 di Pamuksan
Prabu Sri Aji Joyoboyo Desa Menang,S Kabupaten Kediri.

No comments:
Post a Comment