Saturday, November 27, 2021

Ritual Budaya 1 Suro Desa Menang, Bentuk Apresiasi Semua Umat Beragama Terhadap Tradisi dan Warisan Leluhur Bangsa


Memperingati tahun baru sudah menjadi sebuah kebudayaan yang secara turun temurun diadakan oleh nenek moyang bangsa kita. Hal ini menjadi semacam tradisi dan adat istiadat yang terus dilestarikan kepada generasi setelahnya hingga saat ini.

Salah satu tradisi peringatan tahun baru yang masih rutin diadakan setiap tahun oleh masyarakat berbagai daerah di Indonesia adalah ritual budaya 1 Suro atau suroan. Yaitu sebuah upacara ritual khusus yang dilaksanakan pada tahun baru kalender Jawa atau tahun baru Hijriyah dalam kalender Islam.

Salah satu bentuk upacara ritual suroan yang menjadi warisan budaya lokal adalah yang berlangsung di Desa Menang Kecamatan Pagu Kabupaten Kediri Provinsi Jawa Timur. Upacara ritual suroan di Desa Menang ini dilaksanakan di tempat yang menjadi saksi berdirinya Kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Prabu Sri Aji Joyoboyo (1135-1157 M) yaitu Pameksan Prabu Sri Aji Joyoboyo dan Sendang Tirto Kamandanu.

Sejarah Ritual Suroan Desa Menang

Tradisi suroan ini pertama kali diadakan di Desa Menang pada sekitar tahun 72-an di tempat yang dulunya dianggap sakral dan dikeramatkan oleh masyarakat sekitar. Tempat ini disebut pamuksan atau tempat terjadinya muksa Prabu Sri Aji Joyoboyo. Menurut kepercayaan dinamisme dan animisme pada saat itu, seseorang yang telah mencapai derajat kesempurnaan spiritualitas tertinggi adalah dengan muksa (menghilang beserta jasadnya). Oleh sebab itu, masyarakat sekitar mengkeramatkan tempat ini dan memberi penghormatan kepada Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo melalui upacara ritual yang dilaksanakan setiap tanggal 1 Suro.

Pada saat itu, tempat pamuksan Prabu Sri Aji Joyoboyo masih berupa alas dan hutan. Hingga beberapa tahun setelahnya, tradisi suroan yang diadakan oleh warga Desa Menang ini terdengar oleh Keluarga Yayasan Hondodento Yogyakarta. Yang mana salah satu fungsinya adalah merawat, mencari, menelusuri, dan melestarikan situs-situs yang ada hubungannya dengan silsilah keraton. Selain itu, hal ini disebabkan karena menurut silsilah keluarga kerajaan seperti Keraton Jogja dan Solo, hampir semua raja-raja yang pernah bertakhta di tanah Jawa ini bergenerasi dan masih memiliki silsilah keturunan keatas seperti kerajaan Mataram Islam, Pajang, Demak, Majapahit, Singosari, dan Kediri. Salah satu keturunan kerajaan yang dipercaya masih berkesinambungan secara silsilah adalah Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo. Sehingga, pihak Yayasan Hondodento melakukan pencarian secara spiritual dan logis untuk memastikan keberadaan tempat ini.   

Berawal dari sini, akhirnya semakin dipercaya bahwa tempat ini benar-benar pameksan Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo. Hal ini menyebabkan semakin banyak pengunjung berdatangan bahkan dari luar kota untuk mengikuti upacara ritual suroan atau hanya sekedar berkunjung dan berwisata.

Setelah mengetahui hal tersebut, Yayasan Hondodento berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat untuk melakukan pemugaran dan pembangunan Pameksan Prabu Sri Aji Joyoboyo dan Sendang Tirto Kamandanu. Kedua tempat ini memiliki keterkaitan sejarah. Sendang Tirto Kamandanu merupakan kolam pemandian yang dipercaya sebagai tempat Prabu Sri Aji Joyoboyo melukad (mandi atau bersuci) sebelum melakukan muksa. Setelah kedua tempat tersebut dipugar oleh Yayasan Hondodento, ritual suroan Desa Menang dilaksanakan oleh pihak keluarga Keraton Yogyakarta. Karena yang pertama kali melakukan pemugaran terhadap tempat ini adalah Keluarga Keraton, maka segala prosesi dan ritual dalam upacara ini bernuansakan ciri khas adat Keraton Yogyakarta.

Pada saat itu, saat hendak melaksanakan ritual suroan di Desa Menang, keluarga keraton mempersiapkan segala kebutuhan upacara dari Yogyakarta. Setelah berjalan selama beberapa tahun, pihak Yayasan Hondodento memutuskan untuk memberi kepercayaan kepada masyarakat Desa Menang untuk melanjutkan tradisi ritual suroan ini. Selain itu, Yayasan Hondodento juga menyerahkan seluruh tanggungjawab untuk menjaga, merawat, dan melestarikan situs pameksan Prabu Aji Joyoboyo dan Sendang Tirto Kamandanu kepada pemerintah Desa Menang.

Proses Pelestarian Ritual Suroan Desa Menang

Memasuki tahun 80-an, estafet pelestarian budaya ritual suroan ini beralih dari Yayasan Hondodento kepada masyarakat Desa Menang. Kemudian Pemerintah Desa membentuk struktur kepengurusan yang terdiri dari beberapa warga yang bertanggungjawab penuh pada pelestarian ritual tahunan ini.

Hal ini mencakup semua persiapan ritual. Meliputi tempat pelaksanaannya yaitu Pameksan Prabu Aji Joyoboyo dan Sendang Tirto Kamandanu, pelaku upacara, petugas pembawa payung, penabur bunga, para penari, dan lain-lain. Selain itu, mereka juga membentuk struktur kepanitiaan yang mengkoordinir segala persiapan tersebut selama 4 bulan sebelum pelaksanaan upacara.

Dikarenakan upacara ini merupakan ritual besar tahunan, maka diperlukan persiapan yang sangat matang terutama bagi pelaku upacara. Pihak pemerintah desa memberi fasilitas Gedung Balai Desa yang dapat digunakan untuk berlatih sewaktu-waktu. Para pelaku upacara melakukan latihan sekali dalam seminggu. Berbeda dengan penari dan penabur bunga yang harus melakukan latihan lebih rutin yaitu dua kali dalam seminggu. Pelaku upacara sendiri secara umum dalam kondisi normal terdiri dari 120 orang pemuda-pemudi, remaja, anak-anak, orang tua, dan sesepuh. Yang mana mereka semua harus berlatih untuk berjalan sesuai dengan ciri khas Keraton Yogyakarta.

Prosesi upacara ritual suroan diawali dengan do’a bersama di pagi hari yang digelar di Balai Desa Menang dan dipimpin oleh sesepuh. Kemudian dilanjutkan dengan kirab budaya atau berjalan iring-iringan menuju ke Pameksan Prabu Sri Aji Joyoboyo tanpa menggunakan alas kaki. Dilanjutkan dengan prosesi tabur bunga di Pameksan dan seluruh prosesi ritual ditutup di Sendang Tirto Kamandanu. Menurut legenda masyarakat sekitar, hal ini dipercaya dapat membuang sial dan seluruh pengaruh jahat.

Tantangan Dalam Pelaksanaan Ritual Suroan Desa Menang

Dalam melaksanakan ritual tahunan ini, selalu terdapat hambatan atau kendala yang berbeda di setiap tahunnya. Hal ini disebabkan oleh faktor internal dan kapasitas kemampuan dari kepanitiaan sendiri. “Saya tidak memandang ini kendala, melainkan tantangan. Jadi pasti ada tantangan yang berbeda di setiap tahunnya. Tugas kami dari kepanitiaan harus menyiapkan banyak metode alternatif apabila nanti tiba-tiba menemukan hambatan ditengah prosesi ritual. Entah itu dari para pendatang yang membludak ataupun dari pelaku upacara sendiri”, Ujar Pak Sony Prasetyo selaku sekertaris kepengurusan ritual satu suro Desa Menang.[i]

Kendala yang paling sering dihadapi menjelang ritual suroan adalah ketika jumlah pengunjung yang datang dari luar kota membludak. Baik itu pengunjung pribadi, kelompok, paguyuban, komunitas, dan lain-lain. Mereka semua datang karena memenuhi panggilan batin dan spiritual untuk ikut menghormati napak tilas Sang Prabu Sri Aji Joyoboyo terlepas apapun keyakinannya. “Mereka semua yang datang kesini beda-beda mbak agamanya, ada yang Hindu, Buddha, Kristen dan Islam. Bahkan sering banget rombongan pesantren juga ziaroh kesini. Semua tumplek blek jadi satu. Tujuannya mereka semua sama, cari keberkahan di tempat yang keramat (dianggap mulia) dan berdoa kepada Tuhannya masing-masing”. Ujar Pak Mukri selaku juru kunci pamuksan Prabu Sri Aji Joyoboyo dalam wawancara yang dilakukan oleh penulis.[ii]

Dikarenakan membludaknya pengunjung yang datang untuk mengikuti upacara, pihak pengurus sering kewalahan dalam menyambut dan melayani setiap tamu yang datang. Sehingga panitia mengadakan kerjasama dengan para pengurus RT/RW setempat agar membantu mengkondisikan tempat singgah bagi para tamu yang datang.

Selain itu, pada prosesi kirab atau iring-iringan dari balai desa menuju pameksan berlangsung di siang hari saat cuaca begitu panas-panasnya. Maka panitia memberi solusi alternatif dengan menyediakan karpet merah agar para pelaku upacara dapat tahan apabila berjalan tanpa menggunakan alas kaki.

Apabila hal ini dilihat secara historis dan filosofis, tentu kurang etis apabila memberi penghormatan kepada seorang Raja dengan berjalan diatas karpet merah. Namun karena dipandang demi kemaslahatan semua pelaku upacara, maka panitia menerapkan kebijakan ini sebagai solusi.

Dikarenakan ritual tahunan ini merupakan sebuah warisan budaya dan tradisi para leluhur, maka pihak panitia ritual suroan terus mengupayakan kenyamanan bagi seluruh pelaku upacara dan pengunjung yang datang dari berbagai daerah. Karena mau diakui atau tidak, kedatangan para pengunjung memberi pengaruh untuk menggerakkan perekonomian warga Desa Menang. Khususnya bagi para pedagang kecil seperti penjual bunga, makanan, minuman, dan tukang parkir. Hal ini mendorong panitia untuk terus berkoordinasi dengan Dinas Pariwisata Kediri dan Muspika (Musyawarah Pimpinan Kecamatan) yang terdiri dari Camat, Koramil, dan Kapolsek untuk meningkatkan keamanan bagi seluruh pengunjung dan peserta upacara pada hari itu.

Berbagai upaya ini dilakukan dengan tujuan mempertegas jati diri bangsa, melestarikan adat budaya para leluhur, dan membina kerukunan sesama umat beragama di Indonesia. Selain itu, pengurus ritual suroan Desa Menang memiliki harapan besar kepada pemuda-pemudi yang diajak mengikuti ritual ini sejak kecil (nyantrek) kelak ketika mereka sudah dewasa akan menjadi generasi penerus yang melanjutkan estafet pelestarian budaya bangsa ini.



[i] Wawancara Dengan Bapak Sony Prasetyo: Sekretaris Pengurus Ritual Suroan Desa Menang, Tanggal 12 Oktober 2021 di Balai Desa Menang, Kabupaten Kediri.

[ii] Wawancara Dengan Bapak Mukri: Juru Kunci Pamuksan Prabu Sri Aji Joyoboyo, Tanggal 12 Oktober 2021 di Pamuksan Prabu Sri Aji Joyoboyo Desa Menang,S Kabupaten Kediri.

No comments:

Post a Comment