Wednesday, January 12, 2022

Angkara

 Seruas yang kunikmati denganmu malam itu,

Berangsur-angsur menjelma menjadi puisi,

Kata yang berbakti pada sang penulis,

Setiap kali pena dijatuhkan,

saat itu pula puisi hidup dan memiliki makna,

Meski hanya sebatas jejeran kata tak berperasan

yang dicoretkan kekasihnya,

 

Dikau, adalah segenap amin yang aku langitkan pada Tuhan,

Setangkai abulus yang kita mainkan bersama sore lalu,

Saat Angkara pada baju beningmu belum mampu kusucikan,

Adalah skenario terindah dalam menciptakan setangkai rindu,

No comments:

Post a Comment