Seruas yang kunikmati denganmu malam itu,
Berangsur-angsur menjelma menjadi puisi,
Kata yang berbakti pada sang penulis,
Setiap kali pena dijatuhkan,
saat itu pula puisi hidup dan memiliki
makna,
Meski hanya sebatas jejeran kata tak berperasan
yang dicoretkan kekasihnya,
Dikau, adalah segenap amin yang aku
langitkan pada Tuhan,
Setangkai abulus yang kita mainkan bersama
sore lalu,
Saat Angkara pada baju beningmu belum
mampu kusucikan,
Adalah skenario terindah dalam menciptakan
setangkai rindu,
No comments:
Post a Comment