Sunday, January 16, 2022

Indonesia, Bahasa, dan Media Sosial

Di misi Minggu ke delapan di kelas pemikiran Gusdur ini, kami diminta untuk menulis tentang Indonesia di media sosial hari ini. Sebuah tajuk wacana yang sangat menarik menurutku. Bagaimana tidak? Saya rasa hari ini seluruh masyarakat Indonesia tidak ada yang tidak melek internet. Menarik bukan? Bahkan hampir seluruh kalangan usia termasuk anak-anak  sudah dapat menggunakan dan mengakses internet.

Berdasarkan data yang dikutip oleh kominfo, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta orang per Januari 2021. Selain itu, 70 persen masyarakat Indonesia memiliki hampir 10 akun media sosial per orang yang digunakan untuk kepentingan pekerjaan, bisnis, dan pribadi.

Baik, dalam tulisan ini saya akan membicarakan Indonesia dan media sosial dimulai dari pandangan saya pribadi sebagai pengguna internet. Kemudian saya akan membahas  bahasa sebagai alat komunikasi yang digunakan di media sosial untuk menyampaikan berita dan informasi. Dan yang terpenting tentu saya akan membahas betapa besarnya pengaruh dari bahasa yang digunakan oleh media sosial dalam menggiring informasi dan wacana kepada masyarakat serta dampaknya terhadap Indonesia.

Sebagai pengguna aktif media sosial, tentu kebutuhan akan jaringan internet bagi kehidupan sangat besar dan semacam urat nadi. Bagaimana tidak? dewasa ini hampir semua penyelesaian urusan bisnis, pekerjaan dan pendidikan harus terkoneksi dengan internet. Sehingga keberadaannya ditengah sendi kehidupan masyarakat sangat penting karena menjadi semacam kebutuhan pokok. Terlebih lagi karena adanya pandemi virus covid-19 yang mewabah di seluruh dunia, berhasil mengalihkan hampir seluruh kehidupan nyata ke dunia maya, yaitu media sosial. Hampir seluruh interaksi yang dilakukan oleh setiap orang baik dalam belajar ataupun bekerja dilakukan secara daring (dalam jaringan). Hal ini membuat semakin pentingnya jaringan internet untuk menyambung kehidupan masyarakat sehari-hari.

Selain itu, fenomena ini juga menyebabkan manusia menjadi cenderung lebih sering menghabiskan waktunya untuk berselancar dengan gadget dan perangkat komputer yang dapat menghubungkannya dengan media sosial. Tentu hal ini tidak mungkin tidak memberi dampak pada diri, keluarga, dan lingkungan terdekatnya.

Sebagai contoh dampak dari penggunaan media sosial yang sangat terasa hari ini adalah membuat orang lain yang jaraknya jauh menjadi sangat dekat, namun sebaliknya menjadikan orang yang sangat dekat menjadi jauh. Faktor penyebabnya adalah adanya media sosial  membuat orang semakin banyak berinteraksi dengan dunia maya dan mengurangi interaksi dengan dunia nyata, yaitu keluarga, masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Dalam prosesnya, media sosial memberi layanan dan fasilitas berupa berita dan beragam informasi menggunakan sebuah alat yang kita sebut sebagai bahasa. Bahasa merupakan sebuah alat komunikasi yang digunakan oleh seluruh makhluk di bumi untuk menyampaikan maksud, tujuan dan keinginannya kepada makhluk lain, termasuk media sosial.

Baik, saya akan mulai membahas bahasa sebagai alat yang digunakan oleh media sosial dalam menyampaikan berita dan informasi. Pertama, pengertian bahasa itu sendiri menurut KBBI adalah sebuah sistem lambang bunyi digunakan oleh anggota masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi diri. Sedangkan menurut Noam Chomsky, Bahasa merupakan alat komunikasi antar individu dengan individu lainnya. Menurutnya, bahasa merupakan bagian dari pikiran manusia yang diekspresikan sesuai dengan daya kerja pikiran dan sistem kongnisi masing-masing. Sedangkan hubungan nya dengan media sosial, bahasa adalah alat yang digunakan untuk merepresentasikan dan memproduksi segala macam produk yang dilahirkannya. Yang nantinya produk dari media sosial yang berupa gambar, video, serta narasi atas berbagai informasi dapat tersampaikan melalui sebuah bahasa.

Masyarakat sebagai konsumen berita dan informasi yang diproduksi oleh media, secara tidak sadar akan dibawa pada penggiringan wacana dan isu yang disampaikan melalui bahasa yang digunakan pada pemberitaan. Dalam perjalanannya, pilihan bahasa yang digunakan oleh pengguna media sosial tentu merepresentasikan makna yang ingin disampaikan.

Sebagai contoh, bahasa yang digunakan oleh  perusahaan bisnis dalam menawarkan sebuah produk di media sosial tentu ingin menggiring masyarakat pada kesadaran akan ketertarikan untuk membeli produk yang dipromosikannya. Kemudian bahasa yang digunakan dalam sebuah berita peristiwa bencana alam tentu hendak menggiring kesadaran masyarakat kepada musibah yang menimpa saudaranya, dan bertujuan menggerakkan hati masyarakat untuk segera melakukan tindakan kemanusiaan serta memberi bantuan. Contoh lain bahasa yang digunakan dalam memberitakan seorang anggota parpol menjelang pemilu bertujuan menggiring masyarakat untuk memberikan suaranya untuk memilih mereka. Dan masih banyak lagi contoh penggunaan dan pemilihan bahasa di media sosial yang merepresentasikan sebuah makna dan tujuan tertentu, kemudian menggiring pada kesadaran dan kepercayaan pada suatu wacana dan informasi tertentu.

Lalu bagaimana pengaruh dari bahasa yang diproduksi secara terus-menerus melalui media sosial yang kemudian diserap, dipahami, dan dipercayai oleh masyarakat serta dampaknya di kemudian hari untuk Indonesia? Tentu kita sudah dapat membayangkan bagaimana cara kerja bahasa yang tersaji dengan sangat halus di media sosial sehingga akan memberi pengaruh besar pada pemikiran, kebiasaan, bahkan kepercayaan masyarakat terhadap isu dan fenomena tertentu. Sebagai contoh kasus ada sebuah informasi palsu tentang seseorang atau golongan yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya dan kemudian menjadi trending di media sosial. Apabila informasi ini terus menerus diproduksi dan dinikmati oleh masyarakat setiap berinteraksi dengan media sosialnya, tentu sangat mungkin informasi ini nantinya mendapatkan tempat di pikiran dan kepercayaan masyarakat. Hal inilah yang menyebabkan mengapa masyarakat Indonesia begitu mudah percaya dengan informasi hoax di media sosial. Salah satu penyebabnya karena media sosial hari ini menjadi pusat produksi berbagai macam informasi yang sangat sulit untuk diidentifikasi kebenaran tentang sumber dan faktanya. Tidak hanya itu, media sosial hari ini pun menjadi sarana untuk berkembangnya konten yang mengandung  pemikiran dan ideologi asing yang bertentangan dengan Pancasila, konten yang berisi ujaran negatif terhadap suatu kelompok atau golongan tertentu, konten yang berisi provokasi kebencian terhadap suatu rezim pemerintahan dan agama tertentu, dan lain-lain.

Apabila informasi ini terus-menerus diproduksi dan dinikmati, dibiarkan tetap terus tumbuh dan berkembang tanpa dibarengi dengan pembuatan konten positif yang menjadi tandingannya, maka secara tidak sadar akan membawa masyarakat pada penggiringan wacana dan kepercayaan baru yang tentu sangat berbahaya bagi keberlangsungan perdamaian hidup bangsa. Apabila hal ini terus berlangsung tanpa melalui proses penyerapan informasi yang selektif, penyaringan makna dan analisis mendalam pada suatu konten, serta tidak dibarengi dengan kesadaran melek literasi, maka sudah dapat dipastikan bahwa kehancuran moral dan etika masyarakat Indonesia ada didepan mata kita.

Itu sebabnya mengapa kita sebagai pengguna media sosial harus dapat menggunakan analisis kritis dalam menyerap dan menangkap informasi apapun yang kita terima. Hal ini bertujuan agar kita dapat memahami makna apa yang hendak disampaikan melalui bahasa yang digunakan dalam sebuah pemberitaan. Selain itu, perlu pula diadakannya kampanye bijak bermedia sosial agar kita sebagai penikmatnya dapat lebih kritis dan selektif dalam mengakses informasi dan pengetahuan apapun yang kita kehendaki.

 

No comments:

Post a Comment