Di misi Minggu ke delapan di kelas pemikiran Gusdur ini, kami diminta untuk menulis tentang Indonesia di media sosial hari ini. Sebuah tajuk wacana yang sangat menarik menurutku. Bagaimana tidak? Saya rasa hari ini seluruh masyarakat Indonesia tidak ada yang tidak melek internet. Menarik bukan? Bahkan hampir seluruh kalangan usia termasuk anak-anak sudah dapat menggunakan dan mengakses internet.
Berdasarkan data yang dikutip oleh kominfo, jumlah
pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta orang per Januari 2021.
Selain itu, 70 persen masyarakat Indonesia memiliki hampir 10 akun media sosial
per orang yang digunakan untuk kepentingan pekerjaan, bisnis, dan pribadi.
Baik, dalam tulisan ini saya akan membicarakan
Indonesia dan media sosial dimulai dari pandangan saya pribadi sebagai pengguna
internet. Kemudian saya akan membahas
bahasa sebagai alat komunikasi yang digunakan di media sosial untuk
menyampaikan berita dan informasi. Dan yang terpenting tentu saya akan membahas
betapa besarnya pengaruh dari bahasa yang digunakan oleh media sosial dalam
menggiring informasi dan wacana kepada masyarakat serta dampaknya terhadap Indonesia.
Sebagai pengguna aktif media sosial, tentu kebutuhan
akan jaringan internet bagi kehidupan sangat besar dan semacam urat nadi.
Bagaimana tidak? dewasa ini hampir semua penyelesaian urusan bisnis, pekerjaan dan
pendidikan harus terkoneksi dengan internet. Sehingga keberadaannya ditengah
sendi kehidupan masyarakat sangat penting karena menjadi semacam kebutuhan
pokok. Terlebih lagi karena adanya pandemi virus covid-19 yang mewabah di
seluruh dunia, berhasil mengalihkan hampir seluruh kehidupan nyata ke dunia
maya, yaitu media sosial. Hampir seluruh interaksi yang dilakukan oleh setiap
orang baik dalam belajar ataupun bekerja dilakukan secara daring (dalam
jaringan). Hal ini membuat semakin pentingnya jaringan internet untuk
menyambung kehidupan masyarakat sehari-hari.
Selain itu, fenomena ini juga menyebabkan manusia menjadi
cenderung lebih sering menghabiskan waktunya untuk berselancar dengan gadget
dan perangkat komputer yang dapat menghubungkannya dengan media sosial. Tentu
hal ini tidak mungkin tidak memberi dampak pada diri, keluarga, dan lingkungan
terdekatnya.
Sebagai contoh dampak dari penggunaan media sosial
yang sangat terasa hari ini adalah membuat orang lain yang jaraknya jauh
menjadi sangat dekat, namun sebaliknya menjadikan orang yang sangat dekat
menjadi jauh. Faktor penyebabnya adalah adanya media sosial membuat orang semakin banyak berinteraksi
dengan dunia maya dan mengurangi interaksi dengan dunia nyata, yaitu keluarga,
masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
Dalam prosesnya, media sosial memberi layanan dan
fasilitas berupa berita dan beragam informasi menggunakan sebuah alat yang kita
sebut sebagai bahasa. Bahasa merupakan sebuah alat komunikasi yang digunakan
oleh seluruh makhluk di bumi untuk menyampaikan maksud, tujuan dan keinginannya
kepada makhluk lain, termasuk media sosial.
Baik, saya akan mulai membahas bahasa sebagai alat
yang digunakan oleh media sosial dalam menyampaikan berita dan informasi. Pertama,
pengertian bahasa itu sendiri menurut KBBI adalah sebuah sistem lambang bunyi digunakan
oleh anggota masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasi
diri. Sedangkan menurut Noam Chomsky, Bahasa
merupakan alat komunikasi antar individu dengan individu lainnya. Menurutnya, bahasa merupakan
bagian dari pikiran manusia yang diekspresikan sesuai dengan daya kerja pikiran
dan sistem kongnisi masing-masing. Sedangkan hubungan nya dengan media sosial, bahasa
adalah alat yang digunakan untuk merepresentasikan dan memproduksi segala macam
produk yang dilahirkannya. Yang nantinya produk dari media sosial yang berupa gambar,
video, serta narasi atas berbagai informasi dapat tersampaikan melalui sebuah bahasa.
Masyarakat sebagai konsumen berita dan
informasi yang diproduksi oleh media, secara tidak sadar akan dibawa pada
penggiringan wacana dan isu yang disampaikan melalui bahasa yang digunakan pada
pemberitaan. Dalam perjalanannya, pilihan bahasa yang digunakan oleh pengguna media
sosial tentu merepresentasikan makna yang ingin disampaikan.
Sebagai contoh, bahasa yang digunakan
oleh perusahaan bisnis dalam menawarkan
sebuah produk di media sosial tentu ingin menggiring masyarakat pada kesadaran
akan ketertarikan untuk membeli produk yang dipromosikannya. Kemudian bahasa
yang digunakan dalam sebuah berita peristiwa bencana alam tentu hendak
menggiring kesadaran masyarakat kepada musibah yang menimpa saudaranya, dan
bertujuan menggerakkan hati masyarakat untuk segera melakukan tindakan kemanusiaan
serta memberi bantuan. Contoh lain bahasa yang digunakan dalam memberitakan
seorang anggota parpol menjelang pemilu bertujuan menggiring masyarakat untuk memberikan
suaranya untuk memilih mereka. Dan masih banyak lagi contoh penggunaan dan
pemilihan bahasa di media sosial yang merepresentasikan sebuah makna dan tujuan
tertentu, kemudian menggiring pada kesadaran dan kepercayaan pada suatu wacana
dan informasi tertentu.
Lalu bagaimana
pengaruh dari bahasa yang diproduksi secara terus-menerus melalui media sosial yang
kemudian diserap, dipahami, dan dipercayai oleh masyarakat serta dampaknya di
kemudian hari untuk Indonesia? Tentu kita sudah dapat membayangkan bagaimana
cara kerja bahasa yang tersaji dengan sangat halus di media sosial sehingga
akan memberi pengaruh besar pada pemikiran, kebiasaan, bahkan kepercayaan masyarakat
terhadap isu dan fenomena tertentu. Sebagai contoh kasus ada sebuah informasi
palsu tentang seseorang atau golongan yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya dan
kemudian menjadi trending di media sosial. Apabila informasi ini terus menerus
diproduksi dan dinikmati oleh masyarakat setiap berinteraksi dengan media
sosialnya, tentu sangat mungkin informasi ini nantinya mendapatkan tempat di
pikiran dan kepercayaan masyarakat. Hal inilah yang menyebabkan mengapa
masyarakat Indonesia begitu mudah percaya dengan informasi hoax di media
sosial. Salah satu penyebabnya karena media sosial hari ini menjadi pusat produksi
berbagai macam informasi yang sangat sulit untuk diidentifikasi kebenaran
tentang sumber dan faktanya. Tidak hanya itu, media sosial hari ini pun menjadi
sarana untuk berkembangnya konten yang mengandung pemikiran dan ideologi asing yang
bertentangan dengan Pancasila, konten yang berisi ujaran negatif terhadap suatu
kelompok atau golongan tertentu, konten yang berisi provokasi kebencian terhadap
suatu rezim pemerintahan dan agama tertentu, dan lain-lain.
Apabila informasi ini
terus-menerus diproduksi dan dinikmati, dibiarkan tetap terus tumbuh dan
berkembang tanpa dibarengi dengan pembuatan konten positif yang menjadi tandingannya,
maka secara tidak sadar akan membawa masyarakat pada penggiringan wacana dan kepercayaan
baru yang tentu sangat berbahaya bagi keberlangsungan perdamaian hidup bangsa. Apabila
hal ini terus berlangsung tanpa melalui proses penyerapan informasi yang selektif,
penyaringan makna dan analisis mendalam pada suatu konten, serta tidak dibarengi
dengan kesadaran melek literasi, maka sudah dapat dipastikan bahwa kehancuran
moral dan etika masyarakat Indonesia ada didepan mata kita.
Itu sebabnya mengapa
kita sebagai pengguna media sosial harus dapat menggunakan analisis kritis
dalam menyerap dan menangkap informasi apapun yang kita terima. Hal ini
bertujuan agar kita dapat memahami makna apa yang hendak disampaikan melalui bahasa
yang digunakan dalam sebuah pemberitaan. Selain itu, perlu pula diadakannya
kampanye bijak bermedia sosial agar kita sebagai penikmatnya dapat lebih kritis
dan selektif dalam mengakses informasi dan pengetahuan apapun yang kita
kehendaki.
No comments:
Post a Comment