Sebangunku
pagi ini, tersadar bahwa dunia masih gelap. Ya mungkin karena memang lampu
kamar masih mati dan tirai jendela belum tersibak. Dering alarm dari smartphone
yang tidak bersuara karena ku nyalakan mode jangan ganggu sejak semalam.
Rentetan pesan-pesan singkat dari email dan whatsapp tak kunjung aku buka
karena malas dan tiada keinginan. Ku buka mata dengan berat karena masih
tersisa sakit di kepala mencegah untuk bangkit. Ku ubah pola tidur menghadap ke
bingkai jendela yang tidak menampakkan cahaya matahari. Padahal ku lirik layar
gawai sudah menunjukkan pukul 06.30, dimana diluar sana silau matahari sudah
berpendar. Mengingat pesan-pesan yang tak kunjung aku buka dan membalasnya,
biarkan mereka menunggu pikirku.
Ku bawa tubuh untuk terbangun dari tempat tidur, mencari jepit dibawah kaca dan merapihkan rambut panjangku. Kuraih handuk dengan malas dan mencari pembalut lalu masuk ke kamar mandi.
Selepasnya
kunyalakan kompor di dapur umun untuk membuat teh hangat untuk menetralisir
suhu badan yang menggigil setelah mandi. Di asrama bahasa ini tersedia beberapa
fasilitas umum kecuali kamar mandi di kamar masing-masing. Namun suhu masih
saja dingin saat kuguyur air di seluruh badan.
Aku memulai
kelas bahasa bersama para mahasiswa. Belum sempat aku buka pesan-pesan di
whatsapp ku. Tapi begitu notifikasi khusus muncul sebagai pesan teratas, segera
aku buka pesan darinya.
“gimana
keadaan kamu hari ini? Kalo masih pusing ke klinik aja. Sesekali diperiksain,
biar tau apa penyakitnya” pesannya.
Aku tidak
menjawab pesannya, singkat ku kirim pap foto para mahasiswa sedang berdiskusi.
Ku beri caption “mereka lebih membutuhkanku daripada diriku sendiri”.
“oo, lagi
kelas. Ya sudah lanjutkan. Aku juga mau lanjut menyelesaikan tugas”.
Percakapan
berakhir dan kembali ku isi takdir.
Berbincang
menggunakan bahasa asing bersama para mahasiswa. Mereka berdiskusi soal rokok.
Sehingga terhubung dengan diskursus perekonomian di Indonesia, tembakau dan
cengkeh sebagai komoditasnya. Pertanian sebagai sektor terbesar perekonomian
masyarakat.
Mereka
mempersoalkan, hubungan rokok dengan Kesehatan. Dampak jangka panjang
ditimbulkan oleh rokok bagi tubuh. Terutama paru-paru, pemilik peran paling
krusial bagi sistem pernapasan manusia. Sehingga diluar dibutuhkan banyak
pendonor paru-paru bagi pasien bergeletakan di rumah sakit. Rokok salah satu
penyebabnya.
Bagi
perekonomian negara-negara berkembang, bukan Kesehatan persoalannya.
Kesejahteraan rakyat visi utamanya. Menghindari banyak pengangguran kehilangan
pekerjaan, petani cengkeh dan tembakau kehilangan garapan, penjual rokok di
asongan, produksi pabrik rokok tutup besar-besaran. Rokok terus menerus di
produksi untuk mendongkrak perekonomian negara. Meningkatkan ekspor tembakau,
cengkeh, dan ganja untuk negara tetangga. Kebutuhan dunia medis juga. Industri
rokok berbagai pabrik besar menunjukkan hasilnya. Investasi untuk pembangunan
daerah, infrastruktur, dan fasilitas umum mulai digelontorkan. Berbagai program
beasiswa Pendidikan diadakan dengan perusahaan rokok swasta sebagai penyelenggaranya.
Sebuah permasalahan kompleks yang tak berkesudahan karena roda perekonomian
harus terus berputar. Satu sektor dimatikan tentu mengganggu stabilitas sektor
lain.
Diskusi kami
berakhir tak berkesimpulan. Durasi terus berjalan membawa kami pada kelaparan.
Kelas ku tutup dengan sedikit tambahan terkait teknis berdiskusi. Kubiarkan
satu persatu mereka pergi meninggalkan kelas. Toh tujuan kami bukan mencari
kebenaran dalam diskusi ini. Melatih mereka untuk berbahasa asing dengan baik.
Bahasa inggris tentu saja.
Smartphone ku
berdering, panggilan suara whatsapp sumbernya.
“halo, gimana
keadaanmu? Udah baikan?”
“baru aja
selesai kelas”, jawabku.
“loh, emang
udah sembuh?” tanya dari seberang
“gapapa, dah
mendingan kok, Cuma nungguin anak-anak diskusi”.
“jangan lupa
sarapan ya.. yaudah kalo gitu”. Suara dari seberang mengakhiri percakapan kami.
Sebelum aku
tidur semalam sempat ku mengirim pap foto ke lawyer senior ku ini. Dia sudah
layaknya ibu kandungku. Berkomunikasi selama 1 x 24 jam denganku soal kasus
perkara hukum dan pekerjaanku. Hanya jeda ketika tidur atau saat ku malas
membalas pesannya.
Notifikasi
khusus belum membuka pesanku. Aku biarkan sambil membuka komputer dan mulai
menulis. Tapi aku ingin mendengar pesannya. Ku kirim foto benda di hadapanku.
Langsung saja dia membalasnya. Ia menanyakan apa yang sedang aku lakukan.
Tetapi pesan
lain menyita perhatianku. Pak Bandung mengirim pesan.
Pak Bandung
mengirim gambar buku novel karangan WR Supratman terbaru yang berjudul Perawan
Desa. Masih adakah peminat lain dari buku ini, tanyanya. Aku jawab, tentu.
Kemudian gambar buku lainnya, masih tulisan Pak Bandung berjudul “Tulisan dan
Kehormatan”. Baru saja terbit dan masih hangat.
Kubalas saja,
aku sedang berhadapan dengan bahasa, kata, dan aksara. Kububuhkan foto
pendukung ke Pak Bandung.
Ada hal yang
aku adukan padanya. “Kami diminta untuk berpuasa menggunakan kata “yang” pak
sama mam Uun”. Lalu pak bandung tertawa.
Aku meminta
tips padanya. Hanya diberi contoh dua baris:
Membaca
bersuara setiap kalimat sudah ditulis.
Nanti ada
beda rasa. Begitu
Pak Bandung
Mawardi, penulis dari solo, berproses di bilik literasi. Sudah ratusan karya
tulisan dan bukunya. Tak akan selesai kita baca biografinya lewat kanal Google.
Tidak akan ketemu siapa dia. Kecuali kamu mengenalnya, duduk dan berdiskusi.
Soal buku dan bahasa, tentang tulisan dan cerita, Menyusun naskah abjad dan
aksara. Baru kau akan tau siapa dia
֎
Tetiba aku menggigil.
Tak kusadari sejak semalam aku tertidur di office. Tak beralas, hanya ada
guling. Ku putar ingatanku semalam. Aku hanya meletakkan kepala barang
sebentar, ternyata ku tertidur pulas, dengan kipas yang menyala, teranginkanlah
tubuhku yang menggigil ini. Semua penghuni asrama tidak ada yang berani
membangunkan aku. Mereka tahu aku lelah, dan tak tega menyuruhku pindah.
Aku berencana
menyelesaikan pekerjaan semalam, malah tertidur dan bangun dalam keadaan
berantakan kudapatkan. Seketika aku ingin membuka pesan-pesan singkat whatsapp.
Aku merasa ada yang harus aku lihat di pesan itu.
Betul. Kepala prodi
Hukum Keluarga Islam di kampusku dulu menghubungiku. Aku dibanjiri beberapa
pesan singkat dan mengagetkan.
“Win, sampeyan
nggantiin Dosen Bu Rifqi piye”
“Hari senin dan kamis”
“Beliau sakit”
“Sampek beliau sembuh”
“Bahasa Inggris”
“Nanti RPS e tak
carikan di kampus”
Pesan
beruntun yang membangunkan otak sadar, jiwa, raga, akal, pikiran, nafsu,
semangat, dan adrenalin. Aku tidak pernah membayangkan diri berkarir sebagai
akademisi. Jelas aku adalah seorang praktisi. Praktisi hukum dan English
Trainer. Aku belajar bahasa Inggris bersama anak-anak pun tidak terikat
kurikulum, RPP, dan istilah lainnya tidak aku kenali di dunia praktisi.
Aku belum
membalas. Seketika Bu Muna menelepon. Karena sudah ku tebak sedaritadi beliau
menunggu balasanku.
“piye win?”
tanya beliau meminta kepastianku menyanggupi permintaannya atau tidak
“sebentar bu,
wina tanya dulu materi Bahasa Inggrisnya sampe mana”
“alah
guampang nek ikuu. Seng penting budal o sek”
“yauda deh
kalo gitu bu, siap”
Tanpa pikir
kupanjang, kuambil tawaran beliau.
Hari pertama
memberi mata kuliah Bahasa Inggris. Aku memperkenalkan diri dan meminta mereka
sebaliknya. Seperti biasa aku selalu membuka kesan pertama perkenalan dengan
banyak bercerita. Agar aku dapat mengendalikan isi kepala mereka terlebih
dahulu. Agak berbeda jelasnya, forum akademik dengan forum belajar di kursusan.
Mereka lebih banyak monoton dan fokus mendengarkan aku. Kesan pertama yang
lumayan menarik, seperti biasanya.
Namun berbeda
ketika aku sudah mulai berbicara menggunakan Bahasa Inggris. Tentu ini sangat
monoton dan membuat mereka sangat terkagum-kagum kurasa. Notabene mereka adalah
santri di Pondok Pesantren.
Aku tau dunia
mereka. Mereka ahli bergelut di bidang kitab kuning dan kajian Fiqih Islam
pastinya. Bahasa Inggris tidak jadi prioritas. Ini hanya formalitas semata
pemenuhan SKS dan mata kuliah saja. Ini isi kepala mereka. Aku tak berkomentar,
tapi memberi pengantar. Saat ini Bahasa Inggris penting, tantangan kita sebagai
mahasiswa atau pelajar di dunia modern. Pemuda hari ini memiliki tantangan yang
unik, berbahasa Inggris karena harus bersaing dengan kemajuan dunia global.
Berbahasa inggris agar dapat mempelajari budaya asing dan literatur keilmuan
dunia.

No comments:
Post a Comment