Monday, April 24, 2023

Asing

 


Sebangunku pagi ini, tersadar bahwa dunia masih gelap. Ya mungkin karena memang lampu kamar masih mati dan tirai jendela belum tersibak. Dering alarm dari smartphone yang tidak bersuara karena ku nyalakan mode jangan ganggu sejak semalam. Rentetan pesan-pesan singkat dari email dan whatsapp tak kunjung aku buka karena malas dan tiada keinginan. Ku buka mata dengan berat karena masih tersisa sakit di kepala mencegah untuk bangkit. Ku ubah pola tidur menghadap ke bingkai jendela yang tidak menampakkan cahaya matahari. Padahal ku lirik layar gawai sudah menunjukkan pukul 06.30, dimana diluar sana silau matahari sudah berpendar. Mengingat pesan-pesan yang tak kunjung aku buka dan membalasnya, biarkan mereka menunggu pikirku.

Ku bawa tubuh untuk terbangun dari tempat tidur, mencari jepit dibawah kaca dan merapihkan rambut panjangku. Kuraih handuk dengan malas dan mencari pembalut lalu masuk ke kamar mandi.

Selepasnya kunyalakan kompor di dapur umun untuk membuat teh hangat untuk menetralisir suhu badan yang menggigil setelah mandi. Di asrama bahasa ini tersedia beberapa fasilitas umum kecuali kamar mandi di kamar masing-masing. Namun suhu masih saja dingin saat kuguyur air di seluruh badan.

Aku memulai kelas bahasa bersama para mahasiswa. Belum sempat aku buka pesan-pesan di whatsapp ku. Tapi begitu notifikasi khusus muncul sebagai pesan teratas, segera aku buka pesan darinya.

“gimana keadaan kamu hari ini? Kalo masih pusing ke klinik aja. Sesekali diperiksain, biar tau apa penyakitnya” pesannya.

Aku tidak menjawab pesannya, singkat ku kirim pap foto para mahasiswa sedang berdiskusi. Ku beri caption “mereka lebih membutuhkanku daripada diriku sendiri”.

“oo, lagi kelas. Ya sudah lanjutkan. Aku juga mau lanjut menyelesaikan tugas”.

Percakapan berakhir dan kembali ku isi takdir.

Berbincang menggunakan bahasa asing bersama para mahasiswa. Mereka berdiskusi soal rokok. Sehingga terhubung dengan diskursus perekonomian di Indonesia, tembakau dan cengkeh sebagai komoditasnya. Pertanian sebagai sektor terbesar perekonomian masyarakat.

Mereka mempersoalkan, hubungan rokok dengan Kesehatan. Dampak jangka panjang ditimbulkan oleh rokok bagi tubuh. Terutama paru-paru, pemilik peran paling krusial bagi sistem pernapasan manusia. Sehingga diluar dibutuhkan banyak pendonor paru-paru bagi pasien bergeletakan di rumah sakit. Rokok salah satu penyebabnya.

Bagi perekonomian negara-negara berkembang, bukan Kesehatan persoalannya. Kesejahteraan rakyat visi utamanya. Menghindari banyak pengangguran kehilangan pekerjaan, petani cengkeh dan tembakau kehilangan garapan, penjual rokok di asongan, produksi pabrik rokok tutup besar-besaran. Rokok terus menerus di produksi untuk mendongkrak perekonomian negara. Meningkatkan ekspor tembakau, cengkeh, dan ganja untuk negara tetangga. Kebutuhan dunia medis juga. Industri rokok berbagai pabrik besar menunjukkan hasilnya. Investasi untuk pembangunan daerah, infrastruktur, dan fasilitas umum mulai digelontorkan. Berbagai program beasiswa Pendidikan diadakan dengan perusahaan rokok swasta sebagai penyelenggaranya. Sebuah permasalahan kompleks yang tak berkesudahan karena roda perekonomian harus terus berputar. Satu sektor dimatikan tentu mengganggu stabilitas sektor lain.

Diskusi kami berakhir tak berkesimpulan. Durasi terus berjalan membawa kami pada kelaparan. Kelas ku tutup dengan sedikit tambahan terkait teknis berdiskusi. Kubiarkan satu persatu mereka pergi meninggalkan kelas. Toh tujuan kami bukan mencari kebenaran dalam diskusi ini. Melatih mereka untuk berbahasa asing dengan baik. Bahasa inggris tentu saja.

Smartphone ku berdering, panggilan suara whatsapp sumbernya.

“halo, gimana keadaanmu? Udah baikan?”

“baru aja selesai kelas”, jawabku.

“loh, emang udah sembuh?” tanya dari seberang

“gapapa, dah mendingan kok, Cuma nungguin anak-anak diskusi”.

“jangan lupa sarapan ya.. yaudah kalo gitu”. Suara dari seberang mengakhiri percakapan kami.

Sebelum aku tidur semalam sempat ku mengirim pap foto ke lawyer senior ku ini. Dia sudah layaknya ibu kandungku. Berkomunikasi selama 1 x 24 jam denganku soal kasus perkara hukum dan pekerjaanku. Hanya jeda ketika tidur atau saat ku malas membalas pesannya.

Notifikasi khusus belum membuka pesanku. Aku biarkan sambil membuka komputer dan mulai menulis. Tapi aku ingin mendengar pesannya. Ku kirim foto benda di hadapanku. Langsung saja dia membalasnya. Ia menanyakan apa yang sedang aku lakukan.

Tetapi pesan lain menyita perhatianku. Pak Bandung mengirim pesan.

Pak Bandung mengirim gambar buku novel karangan WR Supratman terbaru yang berjudul Perawan Desa. Masih adakah peminat lain dari buku ini, tanyanya. Aku jawab, tentu. Kemudian gambar buku lainnya, masih tulisan Pak Bandung berjudul “Tulisan dan Kehormatan”. Baru saja terbit dan masih hangat.

Kubalas saja, aku sedang berhadapan dengan bahasa, kata, dan aksara. Kububuhkan foto pendukung ke Pak Bandung.

Ada hal yang aku adukan padanya. “Kami diminta untuk berpuasa menggunakan kata “yang” pak sama mam Uun”. Lalu pak bandung tertawa.

Aku meminta tips padanya. Hanya diberi contoh dua baris:

Membaca bersuara setiap kalimat sudah ditulis.

Nanti ada beda rasa. Begitu

Pak Bandung Mawardi, penulis dari solo, berproses di bilik literasi. Sudah ratusan karya tulisan dan bukunya. Tak akan selesai kita baca biografinya lewat kanal Google. Tidak akan ketemu siapa dia. Kecuali kamu mengenalnya, duduk dan berdiskusi. Soal buku dan bahasa, tentang tulisan dan cerita, Menyusun naskah abjad dan aksara. Baru kau akan tau siapa dia

֎

Tetiba aku menggigil. Tak kusadari sejak semalam aku tertidur di office. Tak beralas, hanya ada guling. Ku putar ingatanku semalam. Aku hanya meletakkan kepala barang sebentar, ternyata ku tertidur pulas, dengan kipas yang menyala, teranginkanlah tubuhku yang menggigil ini. Semua penghuni asrama tidak ada yang berani membangunkan aku. Mereka tahu aku lelah, dan tak tega menyuruhku pindah.

Aku berencana menyelesaikan pekerjaan semalam, malah tertidur dan bangun dalam keadaan berantakan kudapatkan. Seketika aku ingin membuka pesan-pesan singkat whatsapp. Aku merasa ada yang harus aku lihat di pesan itu.

Betul. Kepala prodi Hukum Keluarga Islam di kampusku dulu menghubungiku. Aku dibanjiri beberapa pesan singkat dan mengagetkan.

“Win, sampeyan nggantiin Dosen Bu Rifqi piye”

“Hari senin dan kamis”

“Beliau sakit”

“Sampek beliau sembuh”

“Bahasa Inggris”

“Nanti RPS e tak carikan di kampus”

Pesan beruntun yang membangunkan otak sadar, jiwa, raga, akal, pikiran, nafsu, semangat, dan adrenalin. Aku tidak pernah membayangkan diri berkarir sebagai akademisi. Jelas aku adalah seorang praktisi. Praktisi hukum dan English Trainer. Aku belajar bahasa Inggris bersama anak-anak pun tidak terikat kurikulum, RPP, dan istilah lainnya tidak aku kenali di dunia praktisi.

Aku belum membalas. Seketika Bu Muna menelepon. Karena sudah ku tebak sedaritadi beliau menunggu balasanku.

“piye win?” tanya beliau meminta kepastianku menyanggupi permintaannya atau tidak

“sebentar bu, wina tanya dulu materi Bahasa Inggrisnya sampe mana”

“alah guampang nek ikuu. Seng penting budal o sek”

“yauda deh kalo gitu bu, siap”

Tanpa pikir kupanjang, kuambil tawaran beliau.

Hari pertama memberi mata kuliah Bahasa Inggris. Aku memperkenalkan diri dan meminta mereka sebaliknya. Seperti biasa aku selalu membuka kesan pertama perkenalan dengan banyak bercerita. Agar aku dapat mengendalikan isi kepala mereka terlebih dahulu. Agak berbeda jelasnya, forum akademik dengan forum belajar di kursusan. Mereka lebih banyak monoton dan fokus mendengarkan aku. Kesan pertama yang lumayan menarik, seperti biasanya.

Namun berbeda ketika aku sudah mulai berbicara menggunakan Bahasa Inggris. Tentu ini sangat monoton dan membuat mereka sangat terkagum-kagum kurasa. Notabene mereka adalah santri di Pondok Pesantren.

Aku tau dunia mereka. Mereka ahli bergelut di bidang kitab kuning dan kajian Fiqih Islam pastinya. Bahasa Inggris tidak jadi prioritas. Ini hanya formalitas semata pemenuhan SKS dan mata kuliah saja. Ini isi kepala mereka. Aku tak berkomentar, tapi memberi pengantar. Saat ini Bahasa Inggris penting, tantangan kita sebagai mahasiswa atau pelajar di dunia modern. Pemuda hari ini memiliki tantangan yang unik, berbahasa Inggris karena harus bersaing dengan kemajuan dunia global. Berbahasa inggris agar dapat mempelajari budaya asing dan literatur keilmuan dunia.

 

No comments:

Post a Comment