Monday, April 24, 2023

Terjemah Aksara Malam I

  Malam hari, 29 Juni 2021

Seperti malam malam sebelumnya, yaitu sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di tempat ini dan mengenal Romo. Begitu panggilan akrabku kepada beliau. Layaknya seorang anak memanggil ayahnya. Tapi peletakan panggilan dengan istilah Romo ini lebih umum didengar sebagai panggilan Pastur bagi umat kristiani. Tapi aku punya arti sendiri untuk panggilan Romo versiku.

Aku tidak ingin mengenalkan Romo kepada kalian, tapi aksara-aksara dan bahasanya lah yang ingin aku ceritakan. Tujuanku hanya satu, aku ingin membagikan kesederhanaan berpikir dan bertindak yang Romo ceritakan kepada ku. Aku memilih menggunakan istilah “bercerita” karena aku tahu, kalian mungkin lebih dapat menerimanya.

Jadi malam ini Romo menceritakan soal mindset. Ia mengenalkan landasan pokok dalam berpikir. Jadi, manusia itu terbagi menjadi dua: yaitu benar dan pintar. Lalu mana yang lebih dahulu? Apakah menjadi manusia benar atau manusia pintar?

Jawabannya adalah menjadi manusia yang benar terlebih dahulu. Karena untuk menuju kebenaran inilah manusia harus melalui proses dan tahapan yang menjadi landasan utamanya dalam bertindak. Langkah awalnya adalah dari pola berpikir. Manusia harus memiliki mindset yang benar sebagai landasan (underlying) nya dalam melakukan sesuatu.

Contohnya dalam belajar. Sebelum seseorang memulai untuk belajar, hal pertama yang dilakukan terlebih dahulu adalah berniat. Dengan berniat, seseorang harus menentukan terlebih dahulu tujuan yang hendak dicapai dalam belajar. dengan begitu, orientasi dalam belajar akan terlihat jelas: yaitu berhasil. Artinya dengan belajar seseorang harus berubah setiap hari. Berubah adalah terus bergerak dan berusaha mencapai tujuan secara konsisten. Konsisten dapat dilakukan apabila dalam berusaha seseorang dapat mempertahankan fokus dan konsentrasi pada prosesnya.

Untuk dapat fokus dan konsentrasi pada tujuan utama: berhasil, diperlukan dua dimensi dalam diri yang harus dilatih: yaitu hati dan pikiran. Dalam menjaga dua dimensi ini perlu adanya pelatihan. Karena tentu bukan hal yang mudah untuk melatih hati dan pikiran agar tetap fokus dan berkonsentrasi pada tujuan utama. Media termudah untuk mencapainya adalah dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan terus menyambungkan hati dan pikiran kepada Tuhan sang pencipta, menyandarkan batin kepada yang Maha Kuasa, tentu menjadi dorongan energi positif yang akan menambah spiritualitas seseorang.

Mengapa meningkatkan level spiritualitas pada jiwa itu penting, terutama untuk menjaga dimensi hati dan pikiran? Karena dengan kualitas spiritual yang terjaga dengan energi positif, manusia akan senantiasa mudah untuk berlatih fokus dan konsentrasi. Dengan berlatih fokus dan konsentrasi, tentu seseorang akan lebih menjaga konsistensinya dalam mencapai tujuan utama: yaitu berhasil. Dan ini dibutuhkan banyak pelatihan pendekatan, yaitu kepada Tuhan Yang Maha Kuasa Sang Pemilik hidup dan keberhasilan.

֎

Setiap diri adalah pemimpin. Yaitu pemimpin dirinya. Setiap akal adalah manajer. Manajer gerak tubuhnya. Mengapa bergerak? Karena dengan bergerak dan beraktifitas, akan menjadi nilai yang menentukan seberapa mahal kepala manusia. Manusia yang berjiwa pemimpin adalah yang bisa mengatur apa yang hendak ia lakukan dan ia capai dalam 24 jam.

Manusia diberi waktu dalam satu hari selama 24 jam. Normalnya manusia hanya membutuhkan waktu kurang lebih selama delapan jam untuk beristirahat. Sisanya manusia diperintahkan untuk berjalan dan berusaha untuk mencari rezeki-rezeki yang ditakdirkan Tuhan.

Ini yang menjadi landasan utama mengapa selama hidup manusia harus beraktifitas. Lagi-lagi aktifitas yang dilakukan manusia inilah yang akan menjadi underlying platform rezeki di masa mendatang.

Manusia diberkati akal dan pikiran. Normalnya manusia hidup selalu membutuhkan asupan energi baik untuk jasmani ataupun rohani. Yang mana asupan energi jasmani didapatkan manusia melalui makan dan minum. Artinya, energi yang didapat melalui makan ini yang menjadi power (kekuatan) manusia untuk beraktifitas dan mengerjakan apa yang sudah seharusnya. Dengan begitu, makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia tidak hanya di konversikan menjadi kotoran saja, namun banyak hal: harta, pencapaian, keberhasilan, dll.

Namun asupan untuk energi jasmani saja tidak cukup, asupan energi rohani juga diperlukan dengan alasan yang sudah aku ceritakan di malam sebelumnya.

Itu sebabnya Romo selalu mengingatkanku, bahwa untuk mencapai tujuan, seseorang harus memiliki mindset (pola pikir) yang benar terlebih dahulu, dengan alasan agar benar dalam melangkah dan bertindak.

Idealnya, manusia beraktifitas selama 16 jam dalam sehari untuk mencapai keberhasilan dalam setiap tujuannya. Kata Romo, dalam melatih satu skill (kemampuan), dibutuhkan waktu selama 1000 jam untuk dapat dikatakan menguasai atau ahli dalam satu bidang tersebut. Artinya: durasi 1000 jam yang dihabiskan untuk latihan mengerjakan satu bidang kemampuan, menjadi penentu seseorang dikatakan mampu atau tidak dalam bidang tersebut.

 

No comments:

Post a Comment