Malam hari, 29 Juni 2021
Seperti malam malam sebelumnya, yaitu sejak pertama
kali aku menginjakkan kaki di tempat ini dan mengenal Romo. Begitu panggilan
akrabku kepada beliau. Layaknya seorang anak memanggil ayahnya. Tapi peletakan
panggilan dengan istilah Romo ini lebih umum didengar sebagai panggilan Pastur
bagi umat kristiani. Tapi aku punya arti sendiri untuk panggilan Romo versiku.
Aku tidak ingin mengenalkan Romo kepada kalian, tapi aksara-aksara dan bahasanya lah yang ingin aku ceritakan. Tujuanku hanya satu, aku ingin membagikan kesederhanaan berpikir dan bertindak yang Romo ceritakan kepada ku. Aku memilih menggunakan istilah “bercerita” karena aku tahu, kalian mungkin lebih dapat menerimanya.
Jadi malam ini Romo menceritakan soal mindset. Ia
mengenalkan landasan pokok dalam berpikir. Jadi, manusia itu terbagi menjadi
dua: yaitu benar dan pintar. Lalu mana yang lebih dahulu? Apakah menjadi
manusia benar atau manusia pintar?
Jawabannya adalah menjadi manusia yang benar terlebih
dahulu. Karena untuk menuju kebenaran inilah manusia harus melalui proses dan
tahapan yang menjadi landasan utamanya dalam bertindak. Langkah awalnya adalah
dari pola berpikir. Manusia harus memiliki mindset yang benar sebagai landasan
(underlying) nya dalam melakukan sesuatu.
Contohnya dalam belajar. Sebelum seseorang memulai
untuk belajar, hal pertama yang dilakukan terlebih dahulu adalah berniat.
Dengan berniat, seseorang harus menentukan terlebih dahulu tujuan yang hendak
dicapai dalam belajar. dengan begitu, orientasi dalam belajar akan terlihat
jelas: yaitu berhasil. Artinya dengan belajar seseorang harus berubah setiap
hari. Berubah adalah terus bergerak dan berusaha mencapai tujuan secara
konsisten. Konsisten dapat dilakukan apabila dalam berusaha seseorang dapat
mempertahankan fokus dan konsentrasi pada prosesnya.
Untuk dapat fokus dan konsentrasi pada tujuan utama:
berhasil, diperlukan dua dimensi dalam diri yang harus dilatih: yaitu hati dan
pikiran. Dalam menjaga dua dimensi ini perlu adanya pelatihan. Karena tentu
bukan hal yang mudah untuk melatih hati dan pikiran agar tetap fokus dan
berkonsentrasi pada tujuan utama. Media termudah untuk mencapainya adalah
dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan terus menyambungkan hati dan
pikiran kepada Tuhan sang pencipta, menyandarkan batin kepada yang Maha Kuasa,
tentu menjadi dorongan energi positif yang akan menambah spiritualitas
seseorang.
Mengapa meningkatkan level spiritualitas pada jiwa itu
penting, terutama untuk menjaga dimensi hati dan pikiran? Karena dengan
kualitas spiritual yang terjaga dengan energi positif, manusia akan senantiasa
mudah untuk berlatih fokus dan konsentrasi. Dengan berlatih fokus dan
konsentrasi, tentu seseorang akan lebih menjaga konsistensinya dalam mencapai
tujuan utama: yaitu berhasil. Dan ini dibutuhkan banyak pelatihan pendekatan,
yaitu kepada Tuhan Yang Maha Kuasa Sang Pemilik hidup dan keberhasilan.
֎
Setiap diri adalah pemimpin. Yaitu pemimpin dirinya.
Setiap akal adalah manajer. Manajer gerak tubuhnya. Mengapa bergerak? Karena
dengan bergerak dan beraktifitas, akan menjadi nilai yang menentukan seberapa
mahal kepala manusia. Manusia yang berjiwa pemimpin adalah yang bisa mengatur
apa yang hendak ia lakukan dan ia capai dalam 24 jam.
Manusia diberi waktu dalam satu hari selama 24 jam.
Normalnya manusia hanya membutuhkan waktu kurang lebih selama delapan jam untuk
beristirahat. Sisanya manusia diperintahkan untuk berjalan dan berusaha untuk
mencari rezeki-rezeki yang ditakdirkan Tuhan.
Ini yang menjadi landasan utama mengapa selama hidup
manusia harus beraktifitas. Lagi-lagi aktifitas yang dilakukan manusia inilah
yang akan menjadi underlying platform rezeki di masa mendatang.
Manusia diberkati akal dan pikiran. Normalnya manusia
hidup selalu membutuhkan asupan energi baik untuk jasmani ataupun rohani. Yang
mana asupan energi jasmani didapatkan manusia melalui makan dan minum. Artinya,
energi yang didapat melalui makan ini yang menjadi power (kekuatan) manusia
untuk beraktifitas dan mengerjakan apa yang sudah seharusnya. Dengan begitu,
makanan yang masuk ke dalam tubuh manusia tidak hanya di konversikan menjadi
kotoran saja, namun banyak hal: harta, pencapaian, keberhasilan, dll.
Namun asupan untuk energi jasmani saja tidak cukup,
asupan energi rohani juga diperlukan dengan alasan yang sudah aku ceritakan di
malam sebelumnya.
Itu sebabnya Romo selalu mengingatkanku, bahwa untuk
mencapai tujuan, seseorang harus memiliki mindset (pola pikir) yang benar
terlebih dahulu, dengan alasan agar benar dalam melangkah dan bertindak.
Idealnya, manusia beraktifitas selama 16 jam dalam
sehari untuk mencapai keberhasilan dalam setiap tujuannya. Kata Romo, dalam
melatih satu skill (kemampuan), dibutuhkan waktu selama 1000 jam untuk dapat dikatakan
menguasai atau ahli dalam satu bidang tersebut. Artinya: durasi 1000 jam yang
dihabiskan untuk latihan mengerjakan satu bidang kemampuan, menjadi penentu
seseorang dikatakan mampu atau tidak dalam bidang tersebut.

No comments:
Post a Comment