Seketika semuanya gelap. Terakhir yang aku lihat jalanan macet, mobil dan motor saling beradu klakson kendaraan mereka masing-masing, dipinggir jalan beberapa warga berteriak histeris akibat kecelakaan di perempatan lampu merah ditengah derasnya hujan sore itu.
Terakhir yang aku dengar, suara bising warga memanggil ambulans UGD RSUD. Setelah aku sadar, ingatan pertamaku adalah pada sepeda motorku. Aku ingat bahwa motorku cicilannya belum lunas. Warga sekitar tang mengerumuni aku bertanya-tanya, dimana keluarga ku, rumahku, luka-luka ku.
Entah keajaiban apa yang melindungi aku, tubuhku tidak terdapat luka sedikitpun, tidak ada darah yang keluar setetes pun akibat kecelakaan parah itu. Orang-orang pun heran, dengan keadaan sepeda motorku yang rusak parah akibat ditabrak, namun sedikitpun tidak menyisakan luka pada tubuhku. Hanya saja aku merasakan tulang ekor ku seperti remuk. Aku berusaha mengumpulkan kesadaran untuk melanjutkan perjalanan, hingga salah satu warga menghantarkan aku pulang ke rumah.
Aku pun menjalani hari-hari bedrest sejak hari itu. Kehidupan di depanku seketika berubah. Aku harus menjalani perawatan berhari-hari untuk memulihkan kondisiku seperti sediakala. Aktifitas ku seketika aku nonaktifkan semua kecuali shalat dan makan. Tapi aku tetap berpuasa, karena teringat qadha an puasaku sudah semakin menumpuk banyak. Jadwal meeting dan buka bersama semua aku cancel, janjiku kepada beberapa kerabat aku tunda. Aku hanya fokus pada penyembuhan ku terlebih dahulu.
Entah bentuk musibah atau anugerah macam apa yang sedang Tuhan persiapkan untuk aku, aku hanya bersyukur dan bersyukur. Dibalik tragedi kecelakaan parah kemarin aku masih diberi kesempatan untuk kembali menjalani hidupku saat ini. Aku bersyukur dibalik kerugian yang aku tanggung akibat kerusakan kendaraan, masih ada nikmat kesehatan yang Tuhan titipkan. Terimakasih atas kesempatan untuk hidup yang kedua kalinya ini.
---

No comments:
Post a Comment