Aku ingat, hari ini 18 April itu artinya saatnya
aku check-up ke Dokter Orthopedi. Dokter spesialis tulang yang menangani
diriku sejak kecelakaan itu menimpaku. Entah apa yang membuat aku berat untuk
bertemu dokter itu hari ini. terasa ada hal yang mencegahku untuk datang kepadanya
untuk memeriksa perkembangan kesehatanku.
Aku malah merebahkan tubuh. Sambil merasakan ngilu di tulang perut bagian kananku. Aku harus berdamai, aku harus berdamai, akku harus menerima takdir ini, aku harus menikmati rasa sakit ini. berualang-ulang kali aku rapalkan mantra ini. kuulangi lagi, lagi dan lagi sampai sakit yang begitu parah ini tidak aku rasakan lagi.
Aku mengoleskan obat luar yang diberikan
dokter itu, kuoleskan perlahan sambil aku pijat sangat lembut. Nyeri itu
semakin menjalar kedalam, aku terus mencoba menahannya. Tahan, aku pasti bisa
melewati semua rasa sakit ini. aku cukup harus belajar terbiasa saja.
Lalu aku memejamkan mataku sejenak. Dan hilang.
***
Sangat jelas sekali yang aku lihat, itu
dirimu. Mungkin kau sangat terkejut sekali melihat kedatanganku disitu. Tapi kau
bersikap seperti biasanya, sangat hangat kepadaku. Tubuh tinggi kekarmu merangkul
diriku yang mungil ini, aku hanya bisa meraih tangan kirimu dipundakku. Kau membelai
rambutku sambil bertanya ringan akan perkembangan perawatan medis ku. Dengan santainya
aku menjawab: tenang, semua akan baik-baik saja dan berjalan normal kembali
seperti semula, aku hanya butuh waktu. Kau pun mengangguk setuju.
Orang-orang tampak berkumpul, begitu juga
aku, kau dan teman-temanmu. Mereka berkumpul pertanda acara segera dimulai. Agak
aneh ketika aku melihat dirimu berpisah dari perkumpulan ini. aku hanya sekedar
melirik dan bertanya: mengapa kau menjauh dari perkumpulan?
Lalu aku melihat ada perempuan hamil duduk
disebelahmu, ia melingkarkan tangannya di lenganmu sambil mengelus perutnya
yang tampak sedang mengandung usia 5 bulanan. Kau meliriknya kemudian tersenyum.
Lalu kau melihat ke arahku dan menemui air wajahku sudah berubah. Aku sesak,
aku sakit, aku ingin berteriak, dan aku ingin pergi saja.
Aku terkaget dan terbangun.
Iya mimpi, itu tadi hanya mimpi. Apa yang
aku lihat barusan? Apa yang aku lihat?
Masih samar dan jelas aku lihat bahwa itu
dirimu, kau tersenyum dengan perempuan hamil itu. Lalu aku mengumpulkan segenap
kesadaran dan melirik ponselku. Pukul 10.55 AM. Artinya aku telat untuk
check-up dan aku dapati pesan whatsapp darimu. Pesan beruntun berkali-kali yang
menanyakan keadaanku, kau juga sempat menawarkan diri untuk menghantarkan aku
chek-up hari ini.
Aku masih terbayang mimpi itu, lalu aku melakukan
panggilan telepon kepadamu. Tiga puluh detik, suara di seberang menjawab. Aku hanya
ingin memastikan itu dirimu, masih benar dirimu yang milikku.
Sangat ingin aku menceritakan apa yang baru
saja aku lihat dalam mimpi itu. Tapi aku mengurungkannya. Lebih memilih
menanyakan hal-hal klasik yang sejujurnya tidak ingin aku ketahui. Lalu kau menyuruhku
untuk beristirahat saja. Senyap se persekian detik dan aku menyetujuinya. Ada ribuan
kata yang hendak aku ceritakan meskipun akhirnya aku memilih untuk diam. Kemudian
ku tutup teleponku.

No comments:
Post a Comment