Friday, April 14, 2023

Kesempatan Hidup Kedua (part I)

Kejadiannya memang begitu singkat, hanya se persekian detik demi merubah seluruh kehidupan yang susah payah dibangun selama 23 tahun. seperti hari-hari lainnya aku sibuk dengan dunia karirku. mengurus berkas perkara-perkara hukum yang menumpuk di kantorku. ini bulan puasa, tapi tidak ada yang namanya puasa dari tugas dan pekerjaan. secara normal aku ingin berpuasa juga dari pekerjaan, tapi tidak secara profesional.

Pagi itu aku tertidur setelah sahur tanpa melewatka subuh. aku sengaja menidurkan badan dan pikiran untuk pekerjaan di kantor hari ini. aku sudah beritikad untuk tidak ngantor sebetulnya. badanku cukup lelah setelah perjalanan di Kota Surabaya kemarin. santai saja aku tidur tanpa menyetel alarm di gadget ku. karena aku yakin akan otomatis terbangun ketika matahari menyingsing.

ternyata aku salah. aku membuka mata pada pukul 07.23 AM. kubuka gadget dan notifikasi pesan whatsapp masuk berdatangan. salah satunya pesan dari boss ku, menanyakan pukul berapa aku sampai di kantor. singkat saja aku jawab, pukul 08.00 AM. anpa berpikir panjang untuk bangkit, justru aku malah menarik selimutku yang masih hangat. aku rapatkan pada tubuhku sambil berusaha sadar memeriksa pesan-pesan whatsapp lain sejak semalam. 

aku sedikit lupa, sejak pukul berapa semalam aku menutup mata. pesan dari orang-orang pun memburu untuk dibuka. chat terbawah sejak pukul 01.42 PM kemarin mengejutkanku, dari kakak kandungku. kaget saja aku membaca pesannya yang bernada marah dan terkesan ceramah.

pesan diawali pertanyaan melalui fitur reply status di whatsapp. dia menanyakan kenapa aku tidak jadi pulang ke rumah bapak mamak lebaran ini. se pagi itu aku berusaha sesadar mungkin untuk menjelaskan alasan ketidak pulanganku. aku sudah berniat pulang akan tetapi tidak mendapat izin dari Romo. aku menjelaskan juga perihal pembatalan tiket yang sudah terlanjur aku beli untuk tanggal 11 April rencana pulangku. namun jawabannya mengganggu pikiranku seharian itu.

kakakku bersikukuh aku harus pulang, menjelaskan tanggungjawab seorang anak kepada orang tua terlebih apabila belum berkeluarga, dan bla bla bla.

tiba di kantor, aku menceritakan perihal pesan kakakku. boss ku sedikit memaklumi dan memberiku beberapa saran. fikiranku berangsur tenang berkat saran dari bossku. kemudian aku melanjutkan pekerjaan dan membereskan beberapa berkas perkara yang pada hari ini juga harus dihantarkan ke beberapa lembaga peradilan setempat. 

di tengah pekerjaan, mitra Bank yang bekerjasama dengan perusahaanku menghubungi. meminta beberapa kelengkapan berkas yang hendak di follow up. kemudian aku meminta izin dari bossku untuk pulang awal karena ada pekerjaan lain. tapi bossku tidak memberi izin dan marah atas ketidakprofesionalanku. aku sadar tapi aku tidak tahu mengapa aku melakukannya begitu saja, pikirku: ini semua penting.

se pulang kerja, hujan mengguyur deras kota, di perjalanan aku berpacu dengan hujan dan hendak segera pulang karena beberapa dokumen yang diminta bank mitra perusahaan telah ditunggu. aku agak lupa, bahwa biasanya di jok motor aku mempersiapkan jas hujan. karena beberapa hari terakhir cuaca sangat panas dan tidak menunjukkan tanda-tanda hujan hendak turun. aku masih sangat ingat bahwa aku mengeluarkan jas hujan dan menggantikannya dengan memasukkan jaket musim dingin ke dalam jok motor. walhasil, hanya jaket yang aku kenakan untuk menembus hujan. 

tubuhku menggigil dan tanganku mulai keram saat tiga puluh menit jalanan hujan aku lalui dan aku lewati begitu saja. jaketku mulai basah kuyup dan menembus tubuhku yang mulai menggigil. aku berusaha melindungi dasbor depan dari hamparan air karena aku meletakkan laptop dan berkas kantor disana. 

15 menit lagi perjalanan ku menuju rumah. di perempatan lampu merah terkahir aku merasa aneh dengan melihat lampu lalu lintas yang tidak menyala, ada apa? fikirku. ah mungkin derasnya guyuran hujan mengganggu sistem listrik pada lampu lalu lintas. dari jauh aku melihat ada seorang bapak berdiri hujan-hujanan ditengah perempatan dengan tangan melambai-lambai mencoba mengondisikan jalanan di hujan siang itu. se per sekian detik, aku ditabrak oleh pengendara motor yang datang dari arah kananku. tubuhku jatuh ke kiri lalu ditimpa sepeda motor milikku, juga ditambah sepeda motor pengendara yang menabrakku. lalu semuanya gelap.

---

No comments:

Post a Comment