Wednesday, April 12, 2023

Mengapa Hobi Membaca dan Mengoleksi Buku?


Sederhana saja, aku merasa selalu memiliki ketertarikan seperti magnet ketika dekat dengan buku. Bagaimana tidak, buku yang terus menerus dikumpulkan dan menjadi banyak akan menciptakan kekuatan besar dan energi tersendiri ketika kita sedang belajar. 

Sejak kecil, buku yang sering aku kumpulkan adalah yang novel dan cerpen. Semua itu bermula sejak aku duduk di bangku kelas tiga Sekolah Dasar. Awalnya, aku dan teman-temanku suka pergi ke perpustakaan hanya untuk mencari buku yang penuh dengan gambar berwarna-warni, berhadiah stiker dan berbonus origami. Seiring waktu berjalan, ketertarikan bukuku mulai beralih, yaitu buku ensiklopedia. Ensiklopedia sains, alam semesta dan tata surya favoritku. Obsesiku saat itu membawa diriku bercita-cita ingin menjadi seorang Ilmuwan. Tak pernah aku membayangkan Ilmuwan itu profesi apa, yang ada di kepala kecilku dulu, Ilmuwan adalah profesi yang keren, mereka berperan sebagai researcher dan pendapatnya selalu ditunggu-tunggu semua manusia dalam berbagai fenomena. Wajah Ilmuwan yang keren akan muncul di televisi untuk didengarkan statementnya sambil memperlihatkan diri di dalam laboratorium ilmiahnya. Uwuww, bagiku itu sangat keren, dan memegang buku ensiklopedia sambil membaca bagian-bagian alam semesta ini adalah pekerjaan Ilmuwan bagiku.

Lain cerita ketika aku memegang buku berjudul "Ulysess Moore, Pintu Waktu". Adalah buku yang mengisahkan cerita petualangan tiga sahabat, kakak beradik Jason dan Julia, dan satu anak desa Rick. Serial yang menceritakan misteri petualangan mereka di rumah baru kakak beradik Jason Julia, Argo Manor yang terletak di Kota Cilmore Coff, Cornwall. Terdapat tiga seri buku cerita petualangan mereka, Peta Yang Hilang dan Rumah Cermin. Aku selesai di dua seri buku ini. Dan untuk anak kelas empat usia sekolah dasar yang berhasil menyelesaikan dua novel petualangan se tebal 300 lembar sih bagiku terdengar sangat hebat.

Masa kecilku yang diwarnai buku-buku seru itulah yang membuatku sangat interest dengan banyak buku bacaan. Kakakku pun mendukung dengan mulai membelikan aku buku-buku novel dari kampusnya. tapi cerita berubah sejak Bapak mulai mengetahui aku lebih sering membaca buku cerita dan novel dibandingkan buku sekolah.  Meskipun tidak ada pengaruhnya dengan prestasiku di bangku sekolah, tapi Bapak tetap mempunyai prinsip: anak sekolah harus membaca buku sekolah. Dan ini semacam hukum bagiku. Sejak saat itu kakak-kakakku dan Ibuku mulai memfiltrasi buku yang boleh aku baca, bukan novel tentunya. Sampai pada saat aku lulus sekolah dasar aku tidak membaca novel lagi.

Di bangku SMP aku tidak menemukan perpustakaan yang menjadi tempat kesukaanku di sekolah karena menyimpan banyak buku. Sekolahku SMP adalah Madrasah Tsanawiyah swasta yang dulu dijuluki orang-orang sekolah buangan karena terletak di tikungan. Aku sangat kecewa, karena satu-satunya rak buku di sekolah hanya terletak di ruang guru dan itupun hanya dipenuhi dengan buku-buku LKS, buku pelajaran siswa dan tumpukan Al-Qur'an bantuan dari Kemenag. Aku pun sedih, dan doktrin sekolah SMP ku sebagai sekolah buangan kian terasa nyata.

Hari ke hari hingga aku lulus dari sekolah buangan, dan berhijrah ke Pondok Pesantren di Jawa Timur. Dunia literasi ku mulai berwarna disini. Aku menemukan orang-orang yang satu circle denganku. Mereka suka bercerita dan berdiskusi, mendatangi bazar buku yang diadakan pondok setiap Haul dan Reuni Akbar empat tahun sekali. Disini aku mulai menemukan jati diri. Aku bergabung dengan Tim Mading An-Nasyidah, yaitu tim yang mengurus penerbitan majalah dinding Pondok, isinya berupa komik, essay, opini, puisi, anekdot bahkan artikel. Semua disajikan oleh An-Nasyidah secara menarik dan nyentrik agar menarik pembaca. 

Berjalan hingga lulus Madrasah Aliyah, aku melanjutkan ke bangku kuliah di Kampus pesantrenku. Aku di rekrut tim media resmi Pondok Pesantren. Dari situ aku mulai mengenal banyak orang yang level keilmuan dan kapasitas dirinya lebih tinggi dari aku. Pembaca lebih banyak buku dan kajian. Penulis banyak karya dan sajian utama. Aku tambah termotivasi untuk memiliki dan membaca lebih banyak buku kajian literatur lagi karena berada ditengah mereka. Orang-orang yang sangat hebat bagiku, matang dengan nalar intelektual dan ilmiah, 'alim dalam hukum fiqih, kajan kitab kuning dan pondok pesantren, juga tidak ketinggalan dengan isu dan problem masyarakat kekinian. Kreatif, aktif dan penuh gaya-gaya segar dalam setiap redaksinya. Tim Media resmi Pondok Pesantren Lirboyo HM Al-Mahrusiyah, tempat pertama aku tumbuh berliterasi dan bercerita buku dibalik dinding Pesantren.

Tidak puas dengan tim media di Pondok, aku juga melebarkan literasi di Kampus. Aku bergabung di UKM Pers Mahasiswa. Disitu aku mengenal orang dengan nalar kritis dan filsafat yang sama-sama keren. Disitulah aku mulai mengenal dan membaca pemikiran-pemikiran filsafat modern dan buku-buku kiri. Aku mulai banyak menyisihkan uangku untuk investasi buku dan kitab kuning. Aku yakin investasi jenis inilah yang tidak akan mati tergerus waktu. Selamanya akan terpakai. Semua jenis buku aku koleksi kecuali buku perkuliahan. Selera bacaanku memang lebih ke wacana dan essay, juga pemikiran. Terkadang random juga sii, aku hanya membaca apa yang memang ingin aku baca. Di semester empat perkuliahan aku lebih banyak membaca buku-buku kiri, perlawanan dan pergerakan. Mungkin sempat juga mempengaruhi pemikiranku. Berbeda dengan mahasiswa lain yang menginvestasikan uang untuk membeli buku perkuliahan.

Sejak di bangku kuliah itulah, aku semacam memiliki prinsip: buku adalah investasi kekayaan intelektual sepanjang zaman. Apabila menyayangiku, harus memberi aku buku. Buku adalah mata uang berharga melebihi ilmu pengetahuan itu sendiri. Sedangkan membaca sendiri adalah metode untuk mengaksesnya. Itu sebabnya, hingga aku menulis hari ini pun, aku masih tetap menjadi kolektor dan book reader. Dan aku berprinsip, sebanyak apapun penghasilan yang kita punya, kita tidak akan kaya apabila sebagiannya tidak diinvestasikan untuk membeli buku. (wnhlc) 

No comments:

Post a Comment