Kitab Ad difa’ anil wathon
merupakan kitab yang dikarang oleh Gus Mihammad Said bin KH. Ridwan Lirboyo.
Beliau merupakan salah satu murid dari Habib Luthfi Bin Yahya dan alumni Madrasah
Hidayatul Mubtadi’ien (MHM) Lirboyo tahun 2013 segaligus alumni Rubath Tarim
Habib Salim As-Sathiri Yaman.
Dimasa beliau sekolah di MHM Lirboyo beliau termasuk aktifis lajnah
bahtsul masail (LBM) dan menjabat sebagai Rois ’am LBM Pondok Lirboyo, Sehingga
membauat latar belakang pemikiran beliau sangat kritis terutana tentang ide-ide
keislaman dan juga kebangsaan.
Sebelum kitab Ad difa’ anil waton karangan beliau diterbitkan
seperti sekarang ini, tadinya kitab ini hanya berupa fotocopyan dalam jumlah
terbatas yang dikaji oleh para santri sebagai kitab bandongan. Kemudian setelah
diubah dengan edisi dan format yang lebih bagus, hingga sekarang kitab ini
telah diterbitkan dan disebarluaskan.
Munculnya kitab ad difa’ anil waton dilatarbelakangi karena betapa
pentingnya mencintai tanah air dan seberapa besar pula artinya bagi kita,
sehingga beliau menuangkan ide keislaman mengenai bela negara yang sesuai
dengan konteks kekinian dalam kitab ini. Kitab ad difa’ anil waton sarat akan
makna dalam konsep bela negara serta asas-asas yang mendasarinya dilengkapi
dengan kutipan dan maqolah para ulama’ kontemporer.
Bagi kita para umat dizaman ini, membela tanah air tidak hanya
diartikan sebagai jihad berperang melawan musuh dengan mengangkat senjata,
melainkan berperang membela tanah air dari segala upaya yang dapat merusak dan
memporak-porandakan keutamaan dan kesatuan bangsa ini. Oleh sebab itu, semua
hal tersebut beliau tuangkan dalam kitab ini dengan argumentasi wajib bela negara dalam
perspektif agama islam sendiri.
Dalam muqodimah kitab ini, beliau mengutip firman Allah dalam QS.
At-Taubah:41 :
انْفِرُوا خِفَافًا
وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ
تَعْلَمُونَ
Artinya : “Berangkatlah (Berperang) kamu baik dalam keadaan
merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di
jalan Allah yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.
Selain bertendensi dari ayat tersebut, beliau juga mengutip sebuah
hadist nabi: “Barang siapa tidak memperhatikan perkara umat muslim, maka
bukan termasuk umat muslim”.
Beliau pun memaparkan makna cinta tanah air yang sesungguhnya dan
dibagi dalam beberapa tingkatan, bagaimana seorang rakyat biasa mencintai tanah
airnya, bagaimana seorang pedagang dan pebisnis mencintai tanah airnya,
terutama bagi kita para pelajar dan santri yang nanti pada intinya setiap orang
dapat mencintai tanah air dengan caranya masing-masing.
Dalam kitab ini, sang muallif mengklasifikasikan menjadi tiga subbab
yang pertama, mengenai kebutuhan akan persatuan umat menjelaskan betapa
islam dalam suatu negara tidak akan berdiri kokoh tanda ada persatuan umat
didalamnya. Yang kedua, hakikat membela tanah air, pada dasarnya
mencintai tanah air dalam rangka menjaga keutuhan dan kedamaian suatu negara
dengan kadar kemampuan masing-masing adalah kewajiban bagi setiap individu. Yang
ketiga, adalah batasan-batasan, asas, dan cara membela tanah air itu
sendiri, merupakan hal-hal yang wajib kita lakukan dalam rangka mempertahankan
negara dan dilandasi dengan asas fundamental.
Beliau berpesan kepada seluruh generasi penerus bangsa bahwasanya
saat ini hal yang paling kita butuhkan adalah terkait membela tanah air dari
segala upaya yang merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Selain itu, kita harus
menjadi bangsa yang mandiri dan maju tanpa bergantung dengan bangsa lain. Banyak
sekali golongan yang membuat paham terbalik bahwa kewajiban bagi seorang mukmin
cukup peduli dan memperbaiki aspek agama saja, tapi tegas beliau hal ini merupakan
sebuah kesalahan besar. Karena pada dasarnya, selain aspek keagamaan, kita
wajib memperhatikan kecintaan kita terhadap bela tanah air. Karena sejatinya
membela tanah air termasuk upaya membela agama.
Dari sedikit gambaran mengenai isi kitab ad-difa’ anil wathon ini
sudah dianggap cukup bahwa kitab ini dapat dijadikan pegangan bagi setiap
individu dalam mencintai tanah airnya, karena kitab ini juga merupakan salah
satu bentuk perhatian para ulama terhadap ancaman perpecahan NKRI, maraknya
radikalisme, dan juga isu-isu kekinian terkait kehidupan berbangsa dan
bernegara. Sehingga, apabila jihad zaman dahulu adalah berperang melawan
kolonialisme, maka jihad di zaman ini adalah melawan kemiskinan, kebodohan
moral, fanatisme, dan perpecahan. Supaya tercapailah tujuan bersama yaitu
kemajuan dan persatuan negara kita Indonesia yang tercinta.

No comments:
Post a Comment