Tuesday, October 8, 2019

RESENSI KITAB AD-DIFA’ ANIL WATHON


 Kitab Ad difa’ anil wathon merupakan kitab yang dikarang oleh Gus Mihammad Said bin KH. Ridwan Lirboyo. Beliau merupakan salah satu murid dari Habib Luthfi Bin Yahya dan alumni Madrasah Hidayatul Mubtadi’ien (MHM) Lirboyo tahun 2013 segaligus alumni Rubath Tarim Habib Salim As-Sathiri Yaman.

Dimasa beliau sekolah di MHM Lirboyo beliau termasuk aktifis lajnah bahtsul masail (LBM) dan menjabat sebagai Rois ’am LBM Pondok Lirboyo, Sehingga membauat latar belakang pemikiran beliau sangat kritis terutana tentang ide-ide keislaman dan juga kebangsaan.
Sebelum kitab Ad difa’ anil waton karangan beliau diterbitkan seperti sekarang ini, tadinya kitab ini hanya berupa fotocopyan dalam jumlah terbatas yang dikaji oleh para santri sebagai kitab bandongan. Kemudian setelah diubah dengan edisi dan format yang lebih bagus, hingga sekarang kitab ini telah diterbitkan dan disebarluaskan.
Munculnya kitab ad difa’ anil waton dilatarbelakangi karena betapa pentingnya mencintai tanah air dan seberapa besar pula artinya bagi kita, sehingga beliau menuangkan ide keislaman mengenai bela negara yang sesuai dengan konteks kekinian dalam kitab ini. Kitab ad difa’ anil waton sarat akan makna dalam konsep bela negara serta asas-asas yang mendasarinya dilengkapi dengan kutipan dan maqolah para ulama’ kontemporer.
Bagi kita para umat dizaman ini, membela tanah air tidak hanya diartikan sebagai jihad berperang melawan musuh dengan mengangkat senjata, melainkan berperang membela tanah air dari segala upaya yang dapat merusak dan memporak-porandakan keutamaan dan kesatuan bangsa ini. Oleh sebab itu, semua hal tersebut beliau tuangkan dalam kitab ini dengan  argumentasi wajib bela negara dalam perspektif agama islam sendiri.
Dalam muqodimah kitab ini, beliau mengutip firman Allah dalam QS. At-Taubah:41 :
انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ  ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya : “Berangkatlah (Berperang) kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.
Selain bertendensi dari ayat tersebut, beliau juga mengutip sebuah hadist nabi: “Barang siapa tidak memperhatikan perkara umat muslim, maka bukan termasuk umat muslim”.
Beliau pun memaparkan makna cinta tanah air yang sesungguhnya dan dibagi dalam beberapa tingkatan, bagaimana seorang rakyat biasa mencintai tanah airnya, bagaimana seorang pedagang dan pebisnis mencintai tanah airnya, terutama bagi kita para pelajar dan santri yang nanti pada intinya setiap orang dapat mencintai tanah air dengan caranya masing-masing.
Dalam kitab ini, sang muallif mengklasifikasikan menjadi tiga subbab yang pertama, mengenai kebutuhan akan persatuan umat menjelaskan betapa islam dalam suatu negara tidak akan berdiri kokoh tanda ada persatuan umat didalamnya. Yang kedua, hakikat membela tanah air, pada dasarnya mencintai tanah air dalam rangka menjaga keutuhan dan kedamaian suatu negara dengan kadar kemampuan masing-masing adalah kewajiban bagi setiap individu. Yang ketiga, adalah batasan-batasan, asas, dan cara membela tanah air itu sendiri, merupakan hal-hal yang wajib kita lakukan dalam rangka mempertahankan negara dan dilandasi dengan asas fundamental.
Beliau berpesan kepada seluruh generasi penerus bangsa bahwasanya saat ini hal yang paling kita butuhkan adalah terkait membela tanah air dari segala upaya yang merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Selain itu, kita harus menjadi bangsa yang mandiri dan maju tanpa bergantung dengan bangsa lain. Banyak sekali golongan yang membuat paham terbalik bahwa kewajiban bagi seorang mukmin cukup peduli dan memperbaiki aspek agama saja, tapi tegas beliau hal ini merupakan sebuah kesalahan besar. Karena pada dasarnya, selain aspek keagamaan, kita wajib memperhatikan kecintaan kita terhadap bela tanah air. Karena sejatinya membela tanah air termasuk upaya membela agama.
Dari sedikit gambaran mengenai isi kitab ad-difa’ anil wathon ini sudah dianggap cukup bahwa kitab ini dapat dijadikan pegangan bagi setiap individu dalam mencintai tanah airnya, karena kitab ini juga merupakan salah satu bentuk perhatian para ulama terhadap ancaman perpecahan NKRI, maraknya radikalisme, dan juga isu-isu kekinian terkait kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga, apabila jihad zaman dahulu adalah berperang melawan kolonialisme, maka jihad di zaman ini adalah melawan kemiskinan, kebodohan moral, fanatisme, dan perpecahan. Supaya tercapailah tujuan bersama yaitu kemajuan dan persatuan negara kita Indonesia yang tercinta.
           


No comments:

Post a Comment